Wedding

Wedding
Bab.35



Maya dan Anggi duduk dengan anggun, Dafa mempersilakan untuk memesan menu makanannya, setelah puas membolak-balikkan buku menu, akhirnya mereka memutuskan makan steak dan es lemon tea.


Sambil menunggu pesanannya datang mereka mengobrol ringan, yang di dominasi obrolan Dafa dan Maya, Anggi cuma mampu menyimaknya, sedangkan Rio tidak perlu ditanyakan lagi, dia selalu mengumpat perkataan bosnya di dalam hati, ya dia cuma mampu mengumpat di dalam hati, karena apalagi dia berani berucap tamat sudah perjalanan karirnya.


" Nona sedang sibuk apa sekarang?" tanya Dafa memulai obrolannya.


" Pura-pura lagi, bukanya dia sudah tahu kalau nona ini berkerja di restoran siap saji, yang akhir-akhir ini menjadi tempat nongkrong favoritnya," huh caci Rio didalam hati.


" Panggil aku Maya saja, aku sudah lulus kuliah, sekarang aku bekerja di restoran siap saji," jawab Maya apa adanya.


" Klo boleh tau kenapa memilih bekerja di restoran bukan di kantoran," tanya Dafa penasaran.


" Hmm, mulai kepo," umpat Rio.


" Cuma pengen mandiri ajah tanpa mengandalkan kekuasaan keluarga," jawab Maya santai.


" Wow, pemikiran yang sangat bagus Maya," puji Dafa sambil tersenyum manis.


" Puji terus sampai sukses," kata Rio didalam hati lagi.


Obrolan mereka terhenti saat pelayanan datang, membawakan pesanan mereka.


" Selamat menikmati," ucap Dafa setelah pelayanan merapikan makanan di meja.


" Sok manis," ujar Rio dalam hati.


Mereka menikmati makanannya dengan tenang dan pikirannya masing-masing, Dafa menyuruh Rio untuk membayar semua pesanannya, Maya jadi tak enak, padahal maksudnya Maya ingin mentraktir untuk rasa terimakasih kemarin, tetapi Dafa ngotot kalau cowok itu wajib membayar makanan cewek.


" Makasih ya mas, jadi kamu yang naktir kita," ucap Maya tak enak hati.


" Iya tak apa, tidak tiap hari ini," jawab Dafa tersenyum tipis. Dafa merasa senang mendengar panggilan dari Maya.


" Tiap hari juga tidak akan buat kamu bangkrut bos," ceplos Rio, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari bosnya.


" Yaudah kalau begitu, kita pamit pulang dulu ya mas Dafa," pamit Maya kepada Dafa.


" Ayok aku antar, kita di belakang mobil kamu," sahut Dafa.


" Tidak usah mas, belum terlalu malam ini," tolak halus Maya.


" Aku tidak ingin kejadian seperti kemarin lagi," sahut Dafa tegas tidak bisa dibantahkan.


Maya hanya bisa mengangguk kepalanya, sambil berjalan menuju mobil. Dafa benar-benar mengikuti dari belakang, memastikan Maya aman sampai rumah.


" Wah itu termasuk cowok idaman lho Mai ," goda Anggi.


" Belum tentu dia mau sama aku," ucap Maya kurang percaya diri.


" Tapi yaa dari yang aku lihat dari kita datang, dia memandang mu penuh cinta lho," kata Anggi dengan yakin.


" Taulah aku tidak mau banyak berharap, yang kemarin ajah belum kering lukanya," ucap Maya syahdu.


" Makanya itu harus ada pengganti nya agar cepat sembuh itu lukanya, diganti dengan kisah yang baru yang lebih indah," Anggi mencoba memberikan semangat kepada Maya.


Maya tidak menjawab, hanya diam dengan pikirannya saja, setelah mengobrol kesana kemari, akhirnya mereka sampai juga di rumah Maya. Anggi rencananya akan menginap di tempat Maya jadi Dafa dan Rio tidak turun hanya melihat dari jarak agak jauh, memastikan mereka sudah sampai dengan selamat, akhirnya Dafa melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.


Maya dan Anggi masuk rumah Maya, hanya disambut oleh orang tua Maya, soalnya sampai rumah sudah agak malam jadi adiknya sudah berada di kamar, ada ibu dan ayah nya, yang masih menunggu di sofa sambil menonton televisi sambil berbincang ringan, sesekali kelihatan tertawa bersama.