Wedding

Wedding
Bab.20



Dengan penuh semangat dan percaya diri, Dafa menuruni tangga, bergabung dengan adiknya yang sudah menunggu di meja makan.


" Selamat pagi kak," Sapa gadis itu, tersenyum manis.


" Selamat pagi juga, ayuk segera makan," Ajak Dafa.


Devi bisa melihat sinar kebahagiaan di sorot mata kakaknya itu, secepat itu Dafa berubah, padahal semalam dia nampak tak bersemangat, namun sekarang sudah full baterai kayaknya, pikir Devi.


Devi ikut senang, kakaknya kembali bersemangat, wajah kusutnya tidak terllihat lama, langsung moodnya berubah baik lagi pagi harinya, syukurlah.


Mereka sarapan pagi dengan tenang, berkelana dengan pikirannya masing-masing, hanya suara sendok dan garpu bersahutan, mereka mengisi imunnya dulu, sebelum mereka akan di sibukkan dengan beraktivitas masing-masing.


Rio yang sudah sampai di rumah Dafa, dengan santai masuk dan ikut duduk di meja makan,tanpa dipersilahkan, sebelum mereka bubar, pikirannya.


" Pagi semua," sapa Rio, sambil mendudukkan dirinya di kursi tepatnya di depan Devi.


Dafa dan Devi hanya meliriknya, tanpa berniat menjawab.


Rio sudah biasa di acuhkan dua bersaudara itu, namun itu tidak mengurangi rasa nyamannya duduk di meja makan bersama. Sambil menunggu siap untuk berangkat kerja.


Akhirnya Dafa dan Rio memutuskan untuk berangkat kerja, tinggal lah Devi duduk seorang diri di meja makan.


Devi ingat dengan Angga, sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengan Angga, terakhir mereka menghabiskan waktu pergi ke pantai, habis itu tidak ada komunikasi lagi, gengsi kalau dia duluan. Padahal zaman sekarang, cowok dan cewek memiliki hak yang sama.


Devi menurunkan gengsinya, rencananya hari ini dia akan menemui Angga dikantornya, sepulang dari kampus nanti siang tanpa memberi kabar dahulu, biar lah jadi kejutan, membayangkan sendiri Devi sambil tersenyum geli.


Devi memutuskan untuk pergi ke kampus terlebih dahulu, jam makan siang nanti yang akan pergi ke kantor Angga sekalian makan siang bersama, ingin menghabiskan waktu istirahat berdua, sungguh romantis.


Dikantornya Angga sedang fokus, untuk mempelajari dokumen-dokumen yang ada didepannya. Pulang kerja nanti rencananya mau menjemput kekasihnya, sudah cukup galau kemarin mengabaikannya.


Tanpa Angga sadari dia telah menorehkan luka di hati kedua cewek itu, walau hanya selingkuhan tapi Devi menaruh harapan kepada Angga.


Dilain sisi dia juga sudah menyakiti hati kekasihnya secara diam-dia.


Hingga waktu istirahat tiba, Angga dikejutkan dengan kedatangan Devi, niat hati ingin menghindari, kalau sudah didepan mata, mulut berkata lain, itu lah manusia kadang tidak sesuai dengan kenyataannya.


" Hay beb.." Sapa Devi dengan tersenyum manis.


" Hay juga Dev," Sahut Angga tak bersemangat.


" Kau berubah," Devi manyun, kalau sudah memanggil nama, berarti pertanda buruk.


" Masih tetap sama, aku Angga Saputra, kalau kau lupa." Sahut Angga pelan.


" Kenapa tak ada kabar beberapa hari ini?" Ucap Devi dengan mimik sedih.


Angga mencoba menjelaskan dengan pelan-pelan, hubungannya tidak bisa dilanjutkan lagi, namun Devi tidak terima, selama ini dia sudah cukup sadar diri, cuma dibutuhkan disaat Angga sedang ada masalah dengan kekasihnya, giliran sudah baikan diabaikan begitu saja.


Devi mulai egois, tak terima diperlakukan seperti itu, dia mulai menuntut, pengen hubungan tetep berlanjut seperti itu, sudah cukup bahagia baginya.


Angga yang sudah mulai berubah, meyakinkan Devi agar mau menerima kenyataan itu. perdebatan itu berlangsung agak lama, sampai menghabiskan waktu makan siang, mereka merasa cukup kenyang dengan perdebatan itu, tanpa makan siang.


Angga yang tak tega akhirnya mulai luluh, dan mengalah. Tanpa berpikir panjang akibat yang akan diterima, jika kekasihnya itu tahu hubungan mereka.


" Baiklah, tetep seperti ini tapi jangan berharap lebih pada hubungan kita, kau sendiri tahu aku sudah baikan dengan nya" Putus Angga kemudian, secara tidak langsung sudah menyakiti dua cewek sekaligus.


Tanpa berpikir panjang, Devi nampak senang kemudian menghambur memeluk kekasih orang itu, miris baru mau berubah sudah berulah lagi.