Wedding

Wedding
Bab.36



Melihat orang tuanya sedang asyik berdua, Maya dan Anggi lalu berjalan menghampirinya.


" Ibu dan Ayah ko belum tidur," sapa Maya sambil menyalami orang tuanya.


" Selamat malam tante, om," sapa Anggi sambil menyalami orang tua Maya.


" Kami masih menonton televisi," elak Mama Anggi.


" Gimana makan malamnya sayang?" tanya papanya


" Biasa ajah Pa," jawab Maya santai.


" Ada yang mulai dag dig dug ser om," jawab Anggi didalam hati.


" Oh kirain papa sudah ada yang istimewa," sahut papanya.


" Tidak pa," jawab Maya


" Aku sama Anggi ke kamar dulu ya pa, ma," lanjut Maya pamit, Maya yang menghindari pertanyaan yang akan sulit buat dijawabnya.


Keduanya orang tua Maya melihat anaknya sudah tidak sedih lagi merasa senang. Maya dan Anggi langsung berdiri menuju ke kamar. Orang tua Maya juga mematikan televisi terus menuju kamar mengistirahatkan tubuhnya, mereka sudah bisa tidur dengan tenang setelah anak gadisnya pulang.


Malam berlalu begitu cepat, dan sudah datang menjelang pagi, matahari mulai muncul dengan cahaya yang hangat menyinari bumi.


Dua gadis cantik membuka mata secara perlahan, waktu begitu cepat tak terasa sudah waktunya bekerja kembali.


" Kami mandi duluan ya nanti baru aku," ujar Maya kepada Anggi, yang masih malas untuk segera meninggalkan kasur yang empuk itu


" Baiklah," pasrah Anggi, dia sadar diri karena menumpang tidur di rumah orang jadi harus bangun tidak boleh bermalas-malasan.


Masih dengan muka bantal Anggi berjalan memasuki kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya, Maya tampak masih rebahan sambil berguling-guling tak jelas.


Setelah selesai bersiap, mereka turun ke meja makan untuk sarapan bersama, disana nampak semua anggota keluarga sudah pada duduk menunggu kedatangan mereka.


" Bagaimana tidur kalian, nyenyak?" sapa mama Maya dengan tersenyum manis.


" Lumayan nyenyak ma, sampai turun belakangan," jawab Maya sambil nyengir seperti kuda.


" Nyenyak tante," jawab Anggi.


Mereka memulai makan dengan tenang, setelah selesai sarapan, mereka pergi ke tempat kerja masing-masing.


" Maya dan Anggi berangkat dulu ya ma, pa," pamit Maya.


" Hati-hati dijalan ya nak," sahut mama dan papa Maya bersamaan.


Anggi melaju mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil menikmati udara diperjalanan, mengobrol ringan dengan Maya, hingga tak terasa sudah tiba di tempat kerja mereka, disana kelihatan Dafa sudah menunggu mereka.


" Baru sampai ya?" tanya Dafa basa basi.


" Iya ini, ada apa tumben pagi-pagi sudah ada disini?" tanya Maya penasaran.


" Tidak hanya kebetulan lewat disini, terus menunggu kamu, ada yang ingin aku sampaikan," ucap Dafa.


" Kenapa tidak mengirimkan pesan saja?" tanya Maya penasaran.


" Bagaimana nanti pulang kerja aku jemput?" tawar Dafa.


" Baiklah, maaf bukanya saya mau mengusir ini, tapi saya lagi buru-buru ini mau masuk kerja," ucap Maya tak enak.


" Yaudah masuk kerja saja tidak apa-apa," sahut Dafa canggung.


Anggi dan Rio yang melihat mereka mengobrol, dengan canggung hanya bisa tersenyum tipis, ada kata yang tidak bisa terucap, hanya bisa lewat tatapan mata, yang saling berusaha untuk mengetahui isi di hati, entahlah hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu.


Setelah mengobrol dengan Maya, Dafa memutuskan untuk kembali ke kantornya menyelesaikan pekerjaan yang sudah menunggunya.


" Ayo Rio kita kembali ke kantor," ajak Dafa sambil berjalan menuju mobilnya.


" Baiklah sesuai keinginan anda bos," jawab Rio,.


Rio berjalan mengikuti Dafa dari belakang, mereka melajukan mobilnya menuju kantor.


Maya dan Anggi bersiap untuk bekerja, karena sudah waktunya untuk membuka restoran siap saji tersebut.


Dengan rasa penasaran Maya berusaha untuk bersikap profesional, fokus dengan kerjaan walaupun sedikit pikiran menerka-nerka apa yang akan dikatakan Dafa nanti.