
Tak terasa makanan di meja Maya dan Anggi sudah hampir semua di coba untuk di makan, mereka sudah berhenti makan, sayangnya masih ada sisa makanan itu, kayaknya perut mereka sudah tidak sanggup menampung makan itu.
" Sudah, aku menyerah, rasanya perutku mau meledak," ucap Maya dengan memegang perutnya.
" Sama, aku juga tidak sanggup lagi menghabiskan semua ini," sahut Anggi tak kalah kenyang.
" Lagian kamu, kenapa pesan makanan banyak banget, akhirnya kita tidak habis kan, sayang makanan jadi tidak habis," keluh Maya.
" Tenang saja, nanti bisa kita bungkus buat dibawa pulang," kekeh Anggi.
" Ya ampun, kamu tidak malu memintanya?" tanya Maya heran, baru kali ini dia membungkus sisa makanan di bawa pulang.
" Kenapa malu, aku kan bayar, bukan minta lagian sayang sekali, makanan enak dibuang begitu saja nanti," sahut Anggi.
Dengan penuh percaya diri, Anggi berjalan menuju kasir, sekalian dia bilang minta tolong, untuk membungkus makanan yang belum di makan itu,
Pelayannya dengan baik, membantu Anggi membungkus makanan, Maya yang melihat sahabatnya itu hanya bisa mendukungnya, sayang juga soalnya masih banyak sisanya.
" Makasih ya mba sudah mau membantu," ucap Anggi semangat.
" Iya kak, sama-sama, senang bisa membantu," jawab pelayan itu.
Maya dan Anggi akhirnya memutuskan untuk pulang, mengingat waktu juga sudah malam, mereka takut di cariin orang tua mereka.
Anggi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, didalam mobil mereka mengobrol ringan.
Tiba-tiba mobil mereka di hadang dua pengendara motor, akhirnya Anggi berhenti, seperti mereka segerombolan perampok.
" Turun kalian," teriak salah satu cowok tersebut.
Maya sangat ketakutan," Bagaimana ini Anggi, kita turun tidak?" tanya Maya dengan tubuh yang gemetar.
" Tenang Maya, tetap di dalam mobil, jangan sampai kamu membuka mobil kalau bukan aku yang menyuruh," sahut Anggi tenang, karena Anggi menguasai sedikit ilmu beladiri.
" Kamu mau kemana, aku ikut kamu keluar," Maya tidak mau ditinggal di dalam mobil.
" Percayalah padaku, semua kaan baik-baik saja,"
Anggi meyakinkan Maya, agar tetap bertahan di dalam mobil.
" Cepat keluar,, kalau sampai dalam hitungan ketiga kalian tidak keluar aku rusak mobil nya," ancam orang itu.
" Satu.."
" Dua.."
" Mau apa kalian?" tanya Anggi dengan tegas.
" Serahkan semua uang kalian, termasuk mobil ini," perintah salah satu orang tersebut.
" Tidak semudah itu, kalau kalian mau uang, kerja bukan minta padaku," sahut Anggi dengan berani.
" Wah mau melawan ini cewek, jangan sok jagoan, kamu cuma cewek, sendiri lagi," ejeknya.
" Sudah jangan banyak ngomong, maju ayok," tantang Anggi tidak ada sedikit niat untuk kabur.
Sebelum para perampok itu memukul Anggi, ada dua orang cowok yang satu untuk melawan, mereka saling memukul, tidak diragukan Anggi walau seorang cewek tapi mampu melumpuhkan lawan.
Membuat Rio menatap kagum kepadanya, ya dua orang cowok yang membantu Anggi itu Dafa dan Rio, mereka dari pantai tadi sudah mengikuti Maya dan Anggi.
Mereka melihat semua yang terjadi tadi sekiranya bahaya, terus mereka mendekat membantu Anggi melumpuhkan para perampok itu.
Para perampok itu akhirnya babak belur, merasa dalam bahaya mereka memutuskan untuk kabur dengan motor dengan kecepatan tinggi.
Maya yang melihat keadaan sudah aman, terus keluar dari mobil, dengan mata yang sudah sembab, dia menangis mengkhawatirkan Anggi yang sedang bertarung melawan para perampok itu.
" Anggi, kamu ada yang terluka tidak?" tanya Maya cemas.
" Jangan cemas, aku baik-baik saja, mereka datang tepat waktu membantu aku," Anggi menunjuk Dafa dan Rio.
Pandangan Maya langsung menoleh kepada dua cowok yang tadi menolong Anggi.
" Makasih kalian sudah membantu sahabat ku, entah apa yang terjadi pada kita kalau kalian tidak datang," ucap Maya.
" Tenang saja nona, kami senang bisa membantu," balas Dafa.
" Tapi saya tidak enak, bagaimana kalau besok kita makan malam bersama sebagai ucapan terimakasih?" ajak Maya dengan ramah.
" Boleh nona, kalau tidak merepotkan," jawab Dafa basa basi.
Padahal dalam hati dia merasa senang, mungkin ini cara Tuhan untuk mendekatkan dengan calon istrinya.. Eh sudah berkhayal ajah Dafa dalam hati.
Dafa meminta nomor telepon Maya, agar bisa lebih mudah untuk janjian ketemu makan malam dimana.
Setelah mereka bertukar nomor telepon, akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang, Dafa menawarkan diri untuk mengantar mereka agar sampai rumah dengan selamat, tidak ada penolakan dari Maya dan Anggi.
Mobil Anggi melaju di depan, diikuti mobil Dafa, karena sekarang sudah mendapatkan izin jadi jarak mobilnya tidak jauh, tidak seperti kemarin yang diam-diam mengikuti, dengan jarak beberapa mobil karena takut ketahuan.