
Setelah puas meluapkan isi hatinya, Maya mengajak Anggi untuk duduk sebentar di pinggir pantai, dia ingin menikmati sunset, sunset itu indah tapi tidak bertahan lama, diganti dengan gelapnya malam, ya seperti itu pula kehidupan kadang indah kadang juga tidak, akan selalu berputar seperti itu, jadi bagaimana cara kita ajah lebih bersyukur menikmati apa yang sudah ada disekitar kita.
" Habis ini kita makan ya, isi tenaga mu lagi, yang tadi kan sudah habis untuk memaki dan menangis, kamu tidak kasihan cacing di perutmu nanti protes," ajak Anggi sambil menikmati sunset.
" Jangan kuatir aku tidak selemah itu," jawab Maya.
Setelah sunset itu berganti langit yang di sinar i bintang dan bulan, mereka memutuskan untuk mencari makan di dekat pantai.
Mereka memutuskan untuk makan seafood.
" Mau pilih menu ya mana?" tanya Anggi kepada Maya.
" Aku apa ajah yang penting ada rasa pedasnya biar tambah nikmat," sahut Maya tidak pilih - pilih dalam memakan.
" Serahkan semua kepadaku," kekeh Anggi menanggapi Maya.
Mereka menunggu makanan dengan mengobrol ringan, Anggi tidak mau membahas masalah tadi, sejenak Maya sudah sedikit melupakan masalahnya.
Maya berusaha untuk tersenyum, dia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sakit hatinya, hati siapa yang tidak sakit melihat orang yang kita sayangi bersama dengan cewek lain, Maya tidak mau sahabatnya kuatir memikirkan keadaannya.
Anggi dalam diam, juga bisa paham, sebenarnya hati Maya masih sakit, dia salut kepada Maya, Maya bisa menyembunyikan rasa sakitnya, sehingga orang yang melihatnya dia sedang baik-baik saja, padahal kalau hatinya bisa bicara, mungkin akan terus menangis.
Setelah beberapa saat, makanan yang Anggi pesan datang, Maya melongo melihat banyak makanan di atas meja dengan berbagai menu, ada kerang, kepiting, cumi dan masih banyak lagi, yang memanjakan mata dan perut mereka.
" Wah kita benar-benar makan besar ini," ucap Maya.
" Ya lupakan diet, sekarang kita pikirkan bagaimana caranya semua makanan ini masuk ke perut kita," sahut Anggi.
Anggi merasa senang, sahabatnya tidak lagi terjerat dengan cowok playboy itu, dia berharap Maya akan menemukan cowok yang lebih baik dari Angga dari segi apapun itu.
Mereka menikmati makanannya dengan hening, sesekali merasa kepedasan, tapi belum ada niat untuk berhenti, mulut masih lancar mengunyah makanan itu.
Tak jauh dari tempat mereka makan, Dafa dan Rio mengamati, sambil geleng-geleng kepala, melihat banyak makanan di depan meja mereka.
" Rio,, apa semua cewek yang sakit hati, akan melampiaskan dengan makan sebanyak itu?" tanya Dafa.
" Aku juga baru melihat ini bos," Rio juga ikut heran melihatnya.
" Apa perut mereka yang sekecil itu, bisa menampung semua makanan di meja itu?" tanya Dafa lagi.
" Entahlah bos, kita lihat saja mereka sampai selesai, nanti kita kan tahu jawabannya," jawab Rio.
Dia sendiri juga tidak habis pikir dengan jalan pikiran kedua gadis itu, apa mereka tidak takut gendut, biasanya para cewek pada memikirkan berat badannya, naik sedikit ajah sudah binggung ingin diet.
Dafa dan Rio disitu cuma memesan minuman saja, melihat Maya dan Anggi makan, rasanya mereka ikut kenyang duluan.
Dafa masih memikirkan bagaimana cara untuk mendekati gadis itu, ingin sekali dia bergabung langsung di meja makan gadis itu cuma kasihan da perasaan tidak enak kalau sampai menganggu waktu makannya.
" Mungkin aku harus sedikit bersabar lagi, menunggu waktu yang tepat untuk mendekati nya," ucap Dafa dalam hatinya.
Semoga semesta ikut membantu mendekati dengan cara yang indah..