
Sedangkan pagi yang sama di tempat Maya, semua anggota keluarganya sudah berkumpul, siap untuk sarapan, hanya tinggal menunggu Maya.
Semalam, setelah masuk ke dalam kamarnya, Maya terus menangis 😠hingga lelah dan ketiduran, nampak dia bangun agak siang hingga telat sampai ke meja makan.
" Pagi ma, pa, Martin," sapa Maya sambil duduk ke kursinya
" Pagi sayang," jawab mereka kompak..
Sungguh keluarga yang harmonis bukan, walaupun bukan anak kandungnya mereka saling menyayangi sebagai mana anak kandung, tidak pernah membedakan, itu kunci harmonisnya keluarga mereka.
Maya merasa bersyukur berada di tengah-tengah keluarga seperti itu.
" Makasih ya kalian masih setia menunggu Maya, padahal kalau kalian makan tanpa menunggu aku, aku tidak apa-apa,"
" Tidak apa-apa sayang, kita tidak buru-buru kok," sahut mamanya.
" Ayo kita mulai makan, kasihan nanti keburu cacing yang ada di perut kita pada demo," ajak papanya.
Mereka makan dengan tenang, fokus kepada apa yang di makan di depannya.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka selesai makan, tapi belum ada yang beranjak untuk bangun dari tempat duduknya.
Seperti ada yang mau di bicarakan bersama.
" Sayang, maaf apa papa boleh tahu, sebenarnya lelaki semalam apa benar cuma teman kamu?" tanya papa Maya dengan hati-hati, takut sang anak tersinggung dengan pertanyaan.
" Lelaki yang mana pa?" bukan Maya yang menjawab, mama Maya yang penasaran malah bertanya balik.
" Itu semalam putri kita diantar oleh lelaki," jawab papa Maya.
" Jadi siapa nak lelaki itu?" Mama Maya ikut penasaran..
Maya menghela nafas panjang,.
" Benar pa, mereka cuma teman kok tidak lebih," jawab Maya yakin.
" Ketemu juga cuma beberapa kali itupun tak sengaja pa," lanjut Maya.
Mendengar nama mantan pacarnya disebut, tiba-tiba muka Maya berubah kecut, pikiran melayang saat ini keluarga belum tahu kalau dia sudah tidak menjalin hubungan dengan Angga, apa ini waktu yang tepat untuk bercerita.
Maya masih binggung bagaimana menjelaskan kepada keluarganya, lama kelamaan nanti juga akan tahu kalau dia sudah tidak lagi berhubungan dengan Angga.
" Hmm.. Sebenarnya aku sama Angga sudah berakhir," ucap Maya sambil menghela nafas panjang.
" Kenapa?" tanya mereka kompak.
" Ya karena sudah tidak cocok saja," jawab Maya lesu.
" Mama kira kalian bakal sampai pelaminan," ungkap mama Maya ikut merasakan sedih.
" Mungkin bukan jodoh Maya ma," ucap Maya pelan
" Sudah ma, jangan buat putri kita sedih, hargai keputusannya, mungkin itu jalan terbaik yang diambil mereka berdua, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung apa yang terbaik buat putri kita, mungkin benar bukan jodoh Maya, semoga Maya mendapatkan jodoh yang lebih baik dari mantannya," sahut papanya bijaksana.
Mereka coba untuk mengerti keadaan Maya, mereka sadar tidak memaksa Maya untuk bercerita lebih detail alasannya.
Tidak mau menambah kesedihan sang putri, mereka tidak bertanya lebih lanjut.
Berat juga bagi Maya melepaskan Angga, kalau masalah bukan selingkuh, mungkin masih bisa di maafkan.
Kalau tidak cocok, masih bisa mencoba untuk saling memahami.
Kalau masalahnya ekonomi, masih bisa berusaha untuk mencari solusi.
Tetapi kalau sudah selingkuh dan kekerasan, hal yang tidak bisa dimaafkan..
Mungkin belum berjodoh itu yang benar, walaupun sudah dekat dan bersama beberapa tahun, ada ajah yang buat mereka berpisah.
Sebaliknya kalau sudah jodoh, walaupun jauh dimata, ada ajah jalan untuk bersama.
Maya juga berharap, segera menemukan jodohnya, yang lebih baik dari mantannya, agar rasa sakit itu tidak terulang kembali.
Bohong kalau tidak sakit, beberapa tahun menghabiskan waktu bersama, banyak kenangan yang masih melekat di memorinya.