
Maya dan Anggi masuk kedalam rumah, tampak penghuni rumah sudah pada istirahat didalam kamarnya karena sudah larut malam.
" Akhirnya bisa ketemu kasur juga," ucap Anggi sambil merebahkan dirinya di atas kasur.
" Hay jangan langsung tidur, ayok bersih-bersih ganti baju baru tidur," omel Maya sudah seperti ibu bagai Anggi.
" Iya iya ini mau bersih-bersih dulu," jawab Anggi langsung bangun dari kasur dan menuju ke kamar mandi untuk bebersih.
Setelah mereka bersih-bersih, mereka mengistirahatkan tubuhnya, agar besok pagi kelihatan segar kembali, mereka merebahkan dirinya di atas kasur.
" Rasanya seperti mimpi, tiba-tiba ada yang ngajakin aku nikah," ucap Maya tiba-tiba sambil rebahan di kasur bersama Anggi.
" Mungkin sudah waktunya kamu membuka hati buat orang lain, jalanin saja, aku yakin kedepannya kamu akan bahagia bersama Dafa," sahut Anggi setengah menahan ngantuk.
Maya membayangkan, dirinya akan segera menikah merasa agak takut, trauma yang kemarin saja belum bener-benar hilang, padahal pacaran sudah lama tetapi tetep saja tidak dapat di percaya.
Maya mencoba untuk berpikir, semoga saja keputusan kali ini tidak salah dan dia bisa hidup bahagia dengan Dafa.
Lama - lama memikirkan dan membayangkan Maya tertidur dengan sendirinya, jangan ditanya Anggi sudah dari tadi pergi ke alam mimpi.
Pagi hari, sang surya nampak memperlihatkan sinarnya ke bumi, masuk ke celah-celah jendela kamar, dimana dua gadis masih meringkuk dengan selimutnya.
Maya sedikit terganggu, mencoba membuka kedua matanya perlahan - lahan,menoleh ke samping, dilihatnya Anggi masih terlelap.
" Anggi, ayok bangun, kita harus bersiap-siap untuk berangkat kerja," ajak Maya.
" Hmm,," Anggi cuma menggeliat.
" Ayok bangun ini sudah siang," Maya sambil mencubit kedua pipi Anggi dengan pelan.
" Awas ya jangan tidur lagi, aku mandi dulu," ucap Maya sambil berjalan ke arah kamar mandi.
" Iya iya bawel," sahut Anggi mencoba mengumpulkan nyawanya.
Mereka bersiap-siap untuk turun dan sarapan bersama dengan keluarga Maya, karena waktu sudah agak siang, mereka memutuskan untuk berangkat langsung ke tempat kerja agar tidak terlambat.
Ditempat lain, Dafa keliatan senang, senyum diwajahnya tidak pernah luntur, seperti ABG yang sedang jatuh cinta, padahal umur sudah kepala tiga.
" Aku merasa senang sudah bisa mengungkapkan perasaanku, aku harap dia juga mempunyai rasa yang sama kepada ku, gimana menurut kamu Rio?" ujar Dafa penuh semangat.
" Aku rasa nona Maya akan menerima anda bos, siapa yang mampu menolak pesona bos," jawab Rio menyenangkan bosnya.
" Aku tidak sabar mau mendengarkan jawaban langsung dari Maya sendiri," ucap Dafa.
" Sabar bos, beri nona waktu untuk berpikir," sahut Rio pelan - pelan.
"Iya aku akan sabar menunggu jawabannya, aku yakin dia tidak akan mengecewakan aku," Dafa berusaha berpikir positif.
Rio hanya bisa menggelengkan kepalanya, bosnya benar-benar sedang dilanda mabuk cinta, disaat umurnya yang sudah beranjak dewasa.
Dafa berharap Maya akan menerima untuk menjadi istrinya, Dafa ingin menjalin hubungan yang serius dan akan membuktikan bahwa dia sungguh-sungguh mencintai Maya.
Bukan dengan mengirim bunga atau hadiah lainnya, dia akan membuktikan langsung ucapan dengan datang langsung kepada orang tua Maya untuk memintanya menjadi teman hidup untuk selamanya.
Dafa mengerjakan pekerjaannya dengan semangat, ingin rasanya dia cepat-cepat pulang menemui calon mertuanya, namun dia harus menerima kenyataan bahwa pekerjaan didepannya butuh untuk segera diselesaikan.