Wedding

Wedding
Merawatnya..



Kini adel sudah berada di apartemen bian ,dia segera membersihkan diri ,setalah selesai adel berjalan kedapur untuk mulai memasak makan malam nya dan sang suami ,meskipun bisan tidak pernah mau memakan masakannya taoi adel tetap malakukan tugasny sebagai seorang istri ,meskipun dihatinya masih merasakan sakit atas kejadian tadi di cafe.


ceklek


suara pintu apartemen terbuka.


"baru sampai bian ,aku udah siapin makan malam" celetuk adel ,yang tidak ditanggapi oleh bian yang berjalan meninggalkanya di depan pintu ,seketika adel mengelus dadanya dan menahan tangis yang sudah terbendung


"Astagfirullah ,kuat ya Allah kuat" ucap adel


***


Sang surya telah menampakan cahayanya ,pagi ini seperti biasa adel selalu menyiapkan sarapan untuk bian ,selesai dengan aktifitasnya adel mengetuk pintu kamar bian ,tapi tidak ada jawaban disana berkali kali adel mengetuk pintunya ,dengan rasa ragunya adel memberanikan diri membuka pintu kamar bian ,seketika adel membulatkan matanya


"BIAAN..!" pekik adel ,bian masih menggunakan stelan kerjanya kemaren dengan wajah pucat nya..


"kamu sakit bian ,badan kamu panas" ucap adel ,adel bergegas menuju dapur mengambil wadah untuk diisi air hangat dan handuk kecil untuk mengompres kening bian.


Adel langsung mengompres bian ,lalu dengan ragu adel membuka jas serta dasi juga kemeja bian karna sangat tidak nyaman melihatnya ,dan menggatikan nya dengan kaos oblong bian.


Wanita itu bergegas ke dapur dan membuat kan bubur untuk bian tak lupa dia mengirim pesan pada putri untuj mengatakan pada atasannya dia tidak masuk hari ini.


"bian.. " ujar adel


"makan buburnya dulu" ucapnya kembali dengan lembut ,bian membuka matanya dan menyenderkan tubuhnya pada sandaran kasurnya dibantu oleh adel.


"makan dulu yah bi" ucap adel lalu mengambil bubur yang dia buat dan menyuapinya pada bian


"kita berobat yaah bian" ajak adel


"gak perlu ,dibawa tidur juga sembuh" jawab ketus bian


"tapi badan kamu panas banget bi" kekeh adel


dan hanya dibalas tatapan tajam bian.


"terserah kamu ajalah ,habiskan dulu makannya setelah itu istirahat lagi" hening untuk sesaat sampai bian membuka suaranya


"kamu gak kerja" tanya singkat bian ,membuat adel terkekeh dengan itu karna untuk pertama kalinya bian bertanya tentangnya


"bagaimana aku bisa kerja dan meninggalkan suami yang sedang sakit" jawab adel.


Bian terdiam dan menatap adel dengan tatapan yang susah diartikan.


"minun dulu ,lalu istirahat lah" ucap adel seraya membawa mangkuk bekas bubur dan gelas menuju dapur.


Adel terjaga dikamar bian tidak meninggalkam pria itu sendirian ,sesekali adel mengganti kompresan bian ,tanpa wanita itu sadari dia terlelap pada sofa dikamar bian ,dan terbangun ketika mendegar bel berbunyi


ting tong


ting tong


Adel mengucek matanya lalu ,berjalan menuju pintu dan membukakan pintu.


"hai adel ,biannya ada" tanya adit


"hmm.." jawab adel


"eh sorry gue adit manager sekaligus sahabatnya bian" jelas adit


"oh.. maaf silahkan masuk"


"oia Biannya mana del" tanya adit kembali


"bian sakit ,badannya demam dia ada dikamar kalo mau liat masuk ajah ke kamar bian" jawab adel


"sakit" pekik adit


Adit berjalan menuju kamar dan melihat keadaan bian disana.


"eh bro sakit lo" tanya adit


"emm.. ada apaan lo ke apartemen gue"


"gue mau kasih beberapa berkas yang harus lo tanda tangani ,dari pagi siang gue hubungin ponsel lo tapi gak aktif" cecar adit


"oh ,ponsel gue kayanya kehabisan batre" jawab bian


Setelah selesai dengan urusannya ,adit bergegas pulang ,dia berpamitan pada adel.


"gue balik del ,sabar yaah ngadepin orang kek bian" ujar adit ,adel mengangguk dan tersenyum pada adit


"gue pamit" lanjut adit


***


"badannya udah enakan bian" tanya adel lembut


"hmm.."


Adel menyiukan nasi dan lauk serta sayuran pada piring bian ,bian memakannya dengan lahap.


'masakannya enak tenyata' batin bian


adel tersenyum melihat bian sangat lahap memakan masakannya.


"mau nambah bian" tawar adel ,bian menganggukan kepalanya seraya menyodorkam piringnya untuk diisi kembali dengan nasi dan lauk pauknya.


Selesai makan malam mereka ,bian berjalan menuju ruang tv ,dia menyalakan tv dan bersandar duduk diatas sofa ,sedangkan adel merapihkan bekas makan mereka tadi lalu mencuci piring piring kotor ,selesai adel berjalan dan berniat masuk langsung kedalam kamarnya.


"mau kemana" tanya bian dingin


"kamar" jawab singkat adel ,bian menepuk sofa sampingnya


"sini temenin nonton tv" ajak bian


"hah.." pekik adel


"kenapa"


"gak pa pa" adel berjalan menghampiri bian dan duduk disamping bian


Hening untuk sesaat hanya terdengar suara televisi


"makasih" ujar bian


"untuk apa"


"karna sudah mau merawat a-akku" jawab bian gugup


"sudah kewajiban seorang istri untuk merawat dan mengurus suami" ucap adel tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi


Bian terkekeh dan hatinya serasa ditusuk mendengar ucapan adel ,bagaimana tidak selama ini bian begitu cuek dingin bahkan kemaren di cafe bian seperti tidak mengenal adel.


"aku duluan ke kamar" ucap adel seraya berjalan menuju kamarnya.


Bian masih dengan pikirannya yang ntah bagaimana ,mungkin sekarang hatinya mulai sedikit terbuka untuk adel ,ntahlah tunggu saja.


***


"lo kemaren kemana kaga masuk" tanya putri


"bian sakit kemaren ,badannya demam jadi gue ngurusin suami gue" jawab adel


"aellaah suami kek gitu masih ajah lo peduliin ,dia ajah kaga peduli sama lo" kesal putri


"hmm.. gue dosa klo gak ngurus suami nanti" jawab adel


"aduuh puyeng gue ,bodolah ,udah kesel banget gue sama laki lu" omel putri


"udah sakit begini mah pacarnya juga kaga ada noh kan ,ah udahlah sewot gue lama lama" pekik putri


Diruangan CEO bian tengah terduduk dengan setumpuk berkas dimeja


tok


tok


tok


"masuk" ujar bian


adit tersenyum seraya berjalan menghampiri bian dan duduk di sofa ruangan itu


"udah sehat lo" tanya adit


"kalo masih sakit gue gak akan ada diruangan ini" jawab ketus bian


"yaiyalaah udah sembuh dirawat sama istri" goda adit


"berisik lu"


Bian berjalan menghampiri sahabatnya itu dan mendudukan dirinya di sofa.


"kenapa lu"


"bingung gue ,pusing" jawab bian seraya memijit keningnys


"katanya udah sembuh" ucap bingung adit


"buka itu ,tapi bingung sama sikap yang harus gue ambil"


"semua keputusan ada ditangan lo ,dengerin kata hati lo bukan ego lo bos" ucap adit


"tapi gue gak bisa gitu ajah ninggalin siska"