
Mobil Anggi melaju dengan kecepatan sedang, menuju rumah Maya terlebih dahulu. Setelah beberapa saat akhirnya mereka tiba didepan rumah Maya.
Ayah Maya yang mendengar ada mobil berhenti di depan rumahnya langsung keluar, memastikan kalau yang datang itu putrinya.
Dilihatnya Maya baru keluar dari mobil, papanya lalu berjalan menghampirinya.
" Akhirnya kau pulang juga nak, kenapa jam segini baru pulang, hem?" tanya ayah Maya terdengar kuatir sambil mengelus puncak kepala Maya.
" Maafkan Maya pa, karena tadi suntuk, kita pulang kerja, ke pantai dulu pa, habis itu makan malam bersama,"
" Oya pa, kenalkan ini Dafa dan Rio, teman Maya," lanjut Maya menjelaskan teman barunya.
" Selamat malam om, kenalkan saya Dafa, teman Maya," ucap Dafa sambil berjabat tangan.
" Sekaligus calon menantu om," lanjut Dafa dalam hati.
" Dan ini temen saya Rio," sambil mengenalkan Rio juga.
" Malam juga semuanya, makasih ya sudah mengantar putri om dengan selamat," sambil tersenyum ramah.
" Karena sudah larut malam saya tidak menyuruh mampir, mungkin lain kali nak Dafa dan nak Rio bisa main kesini," lanjut Papa Maya.
" Baik om, kita mengerti, lain kali mungkin kita akan datang lagi," ucap Dafa.
" Maaf ya nak Dafa bukan maksud om mengusir kalian, cuma tidak pantas jika bertamu sudah larut malam begini," jelas papa Maya lembut agar tidak salah paham.
" Makasih om, kalau begitu kami pamit dulu ya," pamit Dafa.
Anggi juga ikut pamitan kepada Maya dan papanya.
Maya melambaikan tangannya, sebagai perpisahan.
Dafa dan Rio, melajukan mobilnya, dia mengikuti Anggi sampai rumahnya, memastikan kalau Anggi sampai dengan selamat.
Setelah beberapa saat, akhirnya sampai di rumah Anggi, mereka membunyikan klakson untuk pamitan, kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Dafa.
Karena lelah, mereka langsung menuju kamarnya masing-masing, sesampainya di kamar Dafa langsung rebahan, meningkatkan peristiwa tadi dia jadi tersenyum tipis.
" Akhirnya aku punya kesempatan untuk dekat dengan Maya, semoga kedepannya hubungan ku bisa lebih dari sekedar teman," Guman Dafa di dalam kamarnya.
Dafa bangkit membersihkan dirinya, kemudian dia juga langsung berisitirahat.
Pagi hari
Sang Surya telah memancarkan sinarnya masuk melalui celah jendela yang masih tertutup rapat, membangun sang pemilik kamar, agar segera bangun.
Dafa bangkit dari tempat tidurnya, berjalan ke kamar mandi, nampak dia Semangat empat lima hari ini, wajah yang tampan, berpakaian rapi dan wangi, sungguh wanita mana yang tidak akan terpesona saat melihatnya.
Dafa menuruni tangga menuju meja makan, disana sudah ada Devi dan Rio yang menunggunya.
Rio juga sudah berpakaian rapi, karena di rumah Dafa, dia juga mempunyai kamar sendiri yang terisi pakaian juga, berjaga-jaga kalau pulang larut dan mengharuskan dia untuk menginap disana.
" Pagi kak, kelihatan pagi ini muka kakak bersinar terang, auranya kayak orang sedang jatuh cinta," sapa Devi, yang melihat muka kakaknya yang bersinar.
Dafa tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, jadi terlihat jelas bagi mereka yang melihatnya langsung.
" Pagi juga, biasa ajah," jawabnya datar, menyembunyikan rasa bahagianya, pura-pura biasa saja.
" Kakakmu lagi menang tender, jadi bahagia," sahut Rio terkekeh geli.
" Kalau boleh tahu tender dengan Perusahaan apa kak, senang sekali kelihatan nya?" tanya Devi yang begitu penasaran.
" Sudahlah, kalian lanjutan sarapan yang benar," ucap Dafa.
" Ah kakak gak asyik," sahut Devi dengan memanyunkan bibirnya ke depan.
Kemudian mereka melanjutkan sarapan, tiba-tiba suasana menjadi hening, hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu, mereka diam dengan pikirannya sendiri-sendiri.