
Setelah lama bersiap-siap, akhirnya Dafa keliatan rapi, wangi tak lupa wajah yang berseri-seri, Dafa mengajak Rio untuk segera berangkat, Dafa ingin datang duluan menyambut Maya.
" Ayo Rio, kita harus berangkat lebih dulu, jangan sampai mereka datang lebih dulu dari pada kita," ajak Dafa penuh semangat.
" Tapi bos, ini masih 1 jam lagi untuk makan malam, bersabarlah sebentar dulu, agar kita tidak kelamaan menunggu disana," sahut Rio,.
Karena pada dasarnya menunggu itu sesuatu yang sangat sangat membosankan, tapi tentu saja semua itu tidak berlaku untuk seorang yang sedang di landa jatuh cinta, seperti Dafa saat ini.
" Tidak akan lama, belum lagi nanti dijalan kalau macet, ayok kita berangkat, aku tidak mau tahu kita berangkat sekarang," ajak Dafa merengek seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan.
" Sabar bos, jarak dari rumah ini sampai restoran cuma 15 menit saja jangan kuatir," Rio masih ajah nyari alasan.
Setelah perdebatan sengit itu, tentu saja di menangkan oleh sang bos, pasal satu, dimana-mana bos selalu benar, pasal dua, apabila bos salah, kembali ke pasal satu. Ya bos selalu menang, itu kenyataan pahit yang harus dijalani oleh seorang bawahan seperti Rio, sekaligus sahabatnya itu.
Setelah beberapa menit berlalu, mereka sudah sampai ke restoran, mereka langsung masuk kedalam sesuai dengan meja yang sudah dipesan oleh Dafa, dekat dengan jendela, dengan disuguhi pemandangan langsung ke jalan raya.
" Apa aku bilang bos, kesini tak dibutuhkan waktu yang lama kan," Rio masih menggerutu kesal.
" Tak apa, aku ingin datang lebih awal untuk menyambutnya," sahut Dafa dengan wajah yang tidak merasa bersalah sama sekali.
" Terus kita mau ngapain kalau sudah datang duluan seperti ini?" tanya Rio gusar.
" Kau jangan cerewet seperti wanita ya, pesan saja menu yang kamu sukai, atau kamu jalan-jalan disekitar sini," jawab Dafa santai, sambil membolak-balik buku menunya.
" Terserah kamu bos," sahut Rio pasrah.
Mereka diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dafa yang sibuk bermain dengan handphone. Rio tak mau kalah dia juga sibuk dengan handphone untuk mengusir rasa bosannya.
Ditempat lain, masih di dalam rumahnya, dua cewek cantik sedang bersiap-siap untuk pergi, setelah melewati perdebatan dress yang akan di pke warna apa, mereka memakai sesuai dengan warna kesukaan mereka, Maya dengan dress pink dan Anggi dengan dress coklat muda.
Setelah hampir satu jam mereka bersiap, akhirnya beres juga, siap untuk pergi ke restoran dimana Dafa sudah mulai menjamur menunggu kedatangan mereka.
Anggi melajukan mobilnya menuju restoran, setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai. Mereka memasuki restoran itu, melihat kanan kiri, mencari seseorang.
Setelah satu jam berlalu, akhirnya penantian Dafa tidak sia-sia, setelah Dafa yang melihat kedatangan dua wanita cantik itu, Dafa langsung berdiri melambaikan tangan, dengan maksud memberi tahu dia ada disana.
Rio masih fokus dengan benda pintar itu, sampai akhir suara wanita cantik itu memutarkan fokusnya.
" Selamat malam tuan, maaf kalau kami terlambat datang," sapa Maya tak enak hati karena dia tiba agak telat.
" Tidak apa, aku juga baru saja sampai," jawab Dafa sedikit agak berbohong, menutupi gengsinya.
" Kita hampir satu jam menunggu, apa dia bilang tadi, baru saja sampai, fix bos sudah kena virus cinta," Rio hanya mampu berkata dalam hati, mana mungkin dia berani membantah bosnya.
" Ayok silahkan duduk, dan satu lagi jangan panggil tuan, panggil saja Dafa, agar lebih akrab," lanjut Dafa.
" Cih akrab katanya, kenapa tidak langsung panggil sayang," gerutu Rio di dalam hati.
" Cowok yang satunya, kayaknya ada yang tidak beres," ucap Anggi di dalam hati sambil melirik ke arah Rio, yang diam-diam mengumpat di dalam hatinya, atas kelakuan bosnya itu.