
Dafa yang mengikuti Maya telah sampai kerumahnya, kemudian memerintahkan Rio untuk pulang kerumahnya juga,.
" Kita langsung pulang," Ajak Dafa tak bersemangat.
" Sabar bos, belum menikah, masih ada kesempatan sebelum janur kuning melengkung, semangat pantang mundur bos." Rio mencoba memberi semangat kepada Dafa.
" Masalahnya dia kelihatan begitu mencintai cowok yang gax seberapa itu," Dafa masih saja tidak mau kalah.
Rio mencoba meyakinkan bosnya itu untuk tetep semangat berjuang. Dafa terkenal pantang menyerah sebelum apa yang diinginkan bisa tercapai. Walau dia sadar jadi perusak hubungan orang itu tidaklah baik, namun namanya cinta itu buta, mungkin begitu istilah yang dipake sekarang.
Dafa sudah sampai di depan rumahnya, tanpa banyak kata dia keluar dari mobilnya, tanpa menunggu Rio membukanya pintu.
" Segitu terpuruknya bos melihat gadis yang di cintai bersama dengan kekasihnya, sungguh malang nasibnya sekali bisa jatuh cinta, ceweknya punya kekasih." Guman Rio pelan, melihat Dafa sudah masuk ke dalam rumahnya, Rio bergegas pergi untuk pulang kerumahnya sendiri.
" Malam kak," Sapa Devi ..
" Hmm," Dafa menjawab dengan gumanan sambil berjalan ke dalam kamarnya.
Rasanya ingin segera tidur untuk mengistirahatkan kepalanya yang panas, hati yang galau gundah gulana, memikirkan kekasih orang yang sudah baikan.
Devi heran melihat kakaknya pulang tidak bersemangat seperti itu, entahlah masalah di kantor atau masalah pribadi yang membuat kakaknya seperti itu.
Devi tidak mau banyak berbicara, karena tahu kakaknya tidak suka dia yang banyak bertanya. Sebenarnya banyak yang ingin di tanyakan, namun hanya bisa memendamnya dalam hati.
Dafa masuk ke kamar, kemudian membersihkan dirinya, pikirannya berkelana. Harus kah dia menyerah atau memperjuangkan cinta yang cuma sepihak itu.
" Bagaimana caranya aku bisa mengambil hatinya,"
" Bagaimana supaya dia melihat ke arahku,"
" Apa aku harus merebutnya secara terang-terangan,"
" Bagaimana caranya dia harus jadi milik ku."
Banyak pertanyaan Dafa yang hanya bisa di ucapkan dalam kesendirian nya, tanpa tahu jawabannya.
" Aku harus tetap semangat memperjuangkan, apapun hasilnya yang penting aku sudah berjuang, aku berharap perjuanganku kali ini membuahkan hasil," Guman Dafa, dia berbicara pada dirinya sendiri.
Sepanjang malam Dafa gelisah, tidak bisa tidur dengan nyenyak, pikirannya berkecamuk.
Dia berusaha untuk memejamkan matanya, entahlah padahal orang yang sedang dia pikirkan sedang bermimpi indah karena habis baikan dengan kekasihnya.
Dafa terus memejamkan matanya, lama-lama akhirnya dia bisa masuk ke alam mimpi.
Sinar matahari pagi mulai menampakkan cahayanya, masuk melalui celah jendela, sang pemilik kamar merasa terganggu, akhirnya dengan masih sedikit berat dia berusaha membuka matanya.
" Ternyata sudah pagi," guman Dafa.
Rasanya dirinya baru saja memejamkan matanya, karena sibuk memikirkan Maya dia sampai terjaga hingga larut malam, akibatnya dia kurang beristirahat.
Jatuh cinta dan patah hati secara bersamaan memang sungguh menyakitkan..
Terlintas pemikiran semalam untuk berjuang, Dafa jadi semangat lagi, dia bergegas bangun dan mulai membersihkan dirinya, dia harus kelihatan tampan, agar sang pujaan hati dapat melihatnya, tidak ada apa-apa dibandingkan dengan kekasihnya si playboy cap kadal itu.
Setelah selesai bersiap, Dafa sudah kelihatan tampan, dengan setelan jas hitamnya,dengan penuh percaya diri, dia memandang wajahnya di cermin.
" Tampan, gagah, berkharisma, mandiri, siapa yang akan mampu menolak pesonaku," Dafa bermonolog sendiri di depan cermin.
Tak diragukan lagi, benar Dafa sosok lelaki idaman bagi para gadis-gadis, namun sayangnya dia malah jatuh hati kepada kekasih orang, dan sedang berjuang untuk mencapai tujuan tersebut.