
Maya yang mendengarkan percakapan itu, seketika berhenti menikmati makanannya, benar ternyata Angga melupakan janjinya, malah pergi dengan wanita asing ini.
Anggi yang ikut mendengarnya ikut gemes sendiri, pengen cepat nyamperin pasangan itu.
" Ayo Maya, mau nunggu apa lagi?" Ucap Anggi memprovokasi Maya.
" Tunggu sebentar lagi, biar mereka menyelesaikan makanya," Sahut Maya dengan pelan.
Kalau boleh jujur, Maya juga pengen cepat nyamperin Angga, cuma Maya berusaha mengumpulkan keberaniannya dan juga hatinya agar siap berhadapan dengan mereka.
Anggi mencoba mengerti, Maya cewek yang baik, kalau Anggi di posisi Maya, belum tentu bisa bersabar sampai sekarang, yang dari keluar bioskop tadi sudah mengajak duel si cewek itu. Bar - bar sekali ya Anggi.
Lama kalau menunggu karma datang, biar dia sendiri yang menentukan, hihihi..
Setelah dirasa pasangan itu selesai makan, Maya mengajak Anggi untuk pergi ke meja Angga, dengan semangat empat lima Anggi mengiyakan, sambil berjalan ke arah meja Angga.
Sesampainya di meja Angga, Maya berusaha bersikap santai dengan senyum ramah mencoba menyapa keduanya yang kelihatan kaget atas kedatangan Maya dan Anggi.
" Hay, boleh kita bergabung?" sapa Maya sambil duduk di depan Angga, tanpa menunggu jawaban yang punya.
" Siapa ya, apa kau mengenalnya beb?" jawab Devi, dengan Angga yang diam saja, kelihatan sangat terkejut melihat kekasihnya di depannya.
Anggi yang tak terima, langsung mencaci-maki Angga.
" Dasar kamu, playboy cap kadal, tak tahu untung, baru kemarin Minya maaf sekarang sudah berulah lagi," maki Anggi dengan keras, sehingga meja mereka menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya, ada dari mereka yang berbisik- bisik.
Devi hanya diam mengamati dan mendengar, sebenarnya mana yang ceweknya.
" Aku tidak marah kalau kamu punya kekasih, tetapi harusnya kamu putuskan dulu hubungan kita, setidaknya tak akan banyak hati yang tersakiti, aku sadar aku banyak kekurangan, aku sadar tidak mampu menjadi seperti yang kau mau, tetapi apa wajar kamu diam-diam memiliki cewek lain dibelakang ku? hubungan kita tidak cuma seminggu atau sebulan, sudah tahunan, sedangkan selama ini, kamu tahu aku bagaimana, aku selalu setia kepadamu, tetapi yasudah, aku ikhlas melepas mu, mungkin ini takdir jodoh kita cukup sampai disini, sebelum rasa sakit ini terlalu dalam dan semuanya terlambat, aku yang akan pergi, kamu boleh lanjutan hubunganmu dengan nya. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu yang sekarang, aku pun juga akan menunggu jodoh yang sudah ditakdirkan untukku," Maya menjelaskan panjang lebar tentang semua isi hatinya dengan mata berkaca-kaca.
Maya dengan tegas memutuskan hubungan dengan Angga secara baik-baik, walaupun bagaimana pun Angga pernah mengisi hari - hari Maya. Jujur sulit buat Maya untuk melepaskan, walau bibir bisa bilang ikhlas namun percayalah hatinya bagai dicabik-cabik.
" Tidak sayang, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Devi, aku hanya menemani dia jalan-jalan tidak lebih, aku tidak mau kita putus, aku sayang banget sama kamu, aku janji akan menjauhinya, maafkan aku sayang, aku khilaf," jelas Angga dengan muka memelas.
" Apa kamu bilang tadi, sayang? Sayang kepalamu peyang, kalau sayang tidak mungkin kamu pergi dengan cewek lain, bukan khilaf namanya kalau lebih dari satu kali," Bukan Maya yang menjawab, melainkan Anggi dengan memburu.
Mulut Anggi yang tidak bisa dikontrol itu benar-benar seperti cabe rawit yang pedas. Dia tidak terima Maya diperlakukan seperti itu.
Devi yang mendengar penjelasan Angga jadi sakit, dia sadar diri, selama ini tidak dianggap oleh Angga tetapi namanya cinta itu buta, dia tetep bertahan walau sakit hati yang dia terima, itu pasti, dan sekarang dia merasakannya.
" Jadi selama ini aku tak dianggap ada oleh Angga," Devi cuma bisa berkata dalam hatinya, sakit hati tentunya, cintanya selama ini hanya sebelah.