Wedding

Wedding
Bab. 22



Angga dan Devi keluar dari ruangannya bersamaan, kalau orang lihat mereka tidak seperti pasangan, karena jalan ajah menjaga jarak, cuma kadang apa yang kita lihat itu tidak sesuai dengan kenyataannya, jadi jangan suka memberikan penilaian terburu - buru.


Mereka menuju parkiran tempat mobil Devi, Angga yang akan mengemudi mobilnya.


" Kita ke mall yang dekat kantor kamu ajah ya," Ajak Devi.


Angga menjawab dengan mengangguk kepalanya, kemudian melajukan mobilnya, menuju arah mall yang di maksud. Didalam mobil mereka hanya mendengarkan musik tidak banyak obrolan, Devi fokus dengan handphone nya dan Angga fokus melajukan mobilnya.


.


.


.


Ditempat lain Maya masih setia menunggu Angga, padahal yang ditunggu sendang pergi bersama kekasih gelapnya, sungguh terlalu, entah bagaimana perasaan Maya kalau tahu Angga pergi dengan cewek lain.


Setelah lebih dari setengah jam menunggu, waktu untuk sampai ke restoran tidak selama itu dari kantor Angga. Kesabaran Anggi yang hanya setipis tisu itu, bilang ke Maya untuk menanyakan Angga sekarang sudah selesai apa lagi macet dijalan.


" Lebih baik kamu telefon dia sekarang," perintah Anggi, ikut gemes sendiri, pikirannya juga sudah menduga kemana - mana.


" Iya ini sudah aku telefon cuma tidak diangkat - angkat, pesan aku juga belum di baca, apa dia masih banyak pekerjaan ya, jadi tidak sempat pegang handphone," Maya masih berusaha tenang dan berpikir positif.


" Terus sampai kapan kamu akan menunggu tanpa kejelasan seperti ini, ini sudah hampir satu jam lho kita menunggu," Anggi kesal, dengan pemikiran Maya yang selalu positif itu.


" Kita samperin ke kantor atau mau langsung pulang bersama aku?" lanjut Anggi memberi pilihan kepada Maya agar bertindak.


Akhirnya Maya memutuskan untuk pergi ke kantor Angga, memastikan apa Angga masih di kantor atau tidak. Maya minta tolong kepada Anggi untuk di antar ke kantor Angga. Lagi - lagi dia merepotkan sahabatnya itu, pikir Maya.


Di perjalanan Maya mengucapkan terimakasih kepada Anggi, karena masih mau menemaninya. Di dalam kepala Anggi malah memikirkan Angga, jangan - jangan dia pergi dengan cewek asing itu, akal sehatnya masih berharap Angga masih sibuk dikantornya cuma sisi lainnya dia berpikir Angga sudah pulang.


Entahlah, pusing sendiri memikirkannya, lebih baik dia fokus melajukan kendaraannya ke kantor Angga, disana semua pertanyaan di kepalanya akan terjawab sudah, pikirnya.


" Selamat sore mba," sapa Maya sambil tersenyum ramah.


" Selamat sore juga kakak, ada yang bisa saya bantu?" balas resepsionis itu tak kalah ramah.


" Apa Pak Angga Saputra masih ada di ruangannya ya mba?" tanya Maya penasaran.


" Mohon maaf kak, Pak Angga sudah sekitar satu jam yang lalu sudah keluar kantor," jawab resepsionis masih tersenyum ramah.


" Terimakasih ya mba atas informasinya," ucap Maya sambil berjalan ke arah lobi dengan hati bertanya - tanya.


" Sudah satu jam keluar?"


" Lalu kemana?"


" Kenapa tidak membalas pesanku?"


" Teleponku juga tidak diangkat?"


" Apa sesibuk itu dia?"


" Baru kemarin baikan, masak berantem lagi?"


Dengan penuh tanya di kepalanya, Maya langsung masuk ke mobil Anggi, lalu menyuruh Anggi untuk melajukan mobilnya, meninggalkan kantor Angga, dia tidak mau berlama-lama disana.


Dengan penasaran Anggi tetep melajukan mobilnya, walaupun mulutnya sudah gatal ingin segera menanyakan kemana Angga, dia mencoba untuk bersabar, menyadari Maya sedang tidak baik-baik saja.


Setelah di rasa sudah cukup menjauh dari kantor Angga. Anggi mencoba menepikan mobilnya sebentar, dia menoleh ke arah Maya, Maya sedang menahan untuk tidak mengeluarkan air mata, dilihatnya matanya sudah berkaca-kaca.