
Anggi paham gimana perasaan Maya saat ini, jagain jodoh orang selama beberapa tahun, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk melupakannya.
Maya dan Anggi fokus kembali, mereka melanjutkan pekerjaannya hingga akhirnya jam istirahat tiba.
Mereka meninggalkan tempat kerjanya, untuk istirahat di taman yang dekat dengan restoran, hanya dengan berjalan kaki beberapa menit sudah sampai.
Ditempat lain Angga merasa begitu kehilangan Maya, walaupun sudah ada Devi yang selalu menemani dan menerima dia apa adanya, masih ada ajah yang kurang, entahlah apa yang kurang, sekarang Angga jadi sering melamun, ada beberapa pekerjaan yang tertunda.
" Beb, kamu tidak anggap aku ada disini ya, dari tadi dicuekin ajah lho," Devi memanyunkan bibirnya.
"Ayo kita makan siang dulu," ajak Devi, mencoba membujuk Angga agar mau pergi makan siang dengannya
Entahlah perasaan Devi ajah atau bener, Devi merasa Angga sedikit agak berubah, sejak putus dengan Maya kemarin.
Mendengar suara Devi, Angga tersadar dari lamunannya.
" Aku lagi tidak berselera makan," jawab Angga tanpa melakukan pergerakan.
" Ayolah kamu harus semangat dunx beb, kan masih ada aku yang selalu ada untukmu," Devi masih berusaha untuk membujuk Angga.
" Tolonglah, kamu mengerti perasaanku saat ini," sahut Angga dengan wajah kelihatan lesu.
" Kurang mengerti apa aku selama ini, hanya menjadi tempat pelampiasan mu disaat kamu berantem sama pacarmu, sekarang kamu minta di ngertiin, tapi kamu sendiri tidak memikirkan juga, gimana mencoba mengerti perasaanku selama ini, harusnya kamu sudah tahu resikonya akan seperti apa, kita diam-diam pun, serapi apapun kita nutupin hubungan kita, cepat atau lambat semua ini pasti terjadi, hanya tinggal menunggu waktu saja, mungkin kemarin itu waktunya sudah tiba," Devi mengeluarkan isi hatinya panjang lebar.
Berharap Angga bisa sedikit mengerti perasaan dan keberadaannya selama ini. Bangkai lama-lama, baunya akan tercium juga.
Benar apa yang di katakan Devi. Angga sendiri sadar, ini resiko yang didapat cuma hatinya masih belum terima, kenyataan kalau Maya pergi meninggalkan, walaupun dengan cara baik-baik, namun justru semua itu melukai hatinya.
Kebersamaan selama beberapa tahun mulai bermunculan, dari yang makan bersama, Maya tidak perlu protes atau mengeluh kalau Angga menjemput terlambat, Maya yang tidak suka marah-marah kalau Angga berbuat salah.
Cuma satu Maya belum mau disentuh, lebih dari berpegangan tangan dan berpelukan, mungkin kuno pemikiran Maya, dia cuma berusaha membatasi dirinya agar tetep berpacaran sehat, dengan akal dan pikirannya, menjaga ciuman pertamanya dan mahkota nya hanya untuk suaminya kelak.
Angga berpikir mungkin dia yang egois, harusnya dia merasa bangga mempunyai pacar yang bisa menjaga dirinya, bukan malah mencari kesenangan sesaat dengan orang lain.
" Kalau begitu aku pulang dulu, besok aku akan kembali lagi," pamit Devi lalu berdiri dr tempat duduknya berjalan menuju pintu keluar, menjauh dari ruangan Angga.
Angga hanya membalas dendam anggukan kepala, menatap lurus gadis yang akhirnya resmi menjadi kekasih nyatanya tidak kekasih gelap lagi.
Devi mengalah, Angga masih butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran, dan menata hatinya kembali, dia sudah terbiasa mengalah, jadi tak apa kali ini dia mengalah sedikit lagi.
Devi mencoba mengerti perasaan Angga, tidaklah mudah untuk melupakan mantan pacarnya itu, bagaimanapun mereka sudah bersama-sama untuk waktu yang cukup lama.
" Lagi dan lagi aku harus mengalah, nasib menjadi mantan selingkuhan dan sekarang menjadi kekasihnya, hahaha," Devi berbicara sendiri diperjalanan menuju rumahnya.
Devi tulus mencintai Angga, dia berharap Angga bisa cepat move on dari mantan pacarnya dan hanya fokus kepadanya.
Devi melajukan mobilnya menuju rumah, dia tidak sabar ingin rebahan di kasur empuknya, mengistirahatkan badan dan pikirannya, hari ini benar-benar hari yang melelahkan.