Wedding

Wedding
Bab.41



Dafa nampak deg deg an pernyataan belum kunjung dijawab oleh papa Maya. Dafa berharap sesuatu yang baik memihak kepada nya. Rio yang duduk di samping Dafa bisa ikut merasakan tegangnya suasana di ruang tamu itu, ingin rasanya di lari dan tempat itu.


Maya nampak diam, tertegun melihat orang tuanya tidak kunjung menjawab Dafa. Maya takut orang tuanya akan menolak Dafa, dalam hati Maya merasa Dafa cowok yang cukup baik dan tulus, tidak ada salahnya untuk memulai hubungan dengan nya dilihat dari cara Dafa , Maya yakin Dafa jodoh yang di takdir kan untuk dirinya.


' Semoga papa menerima Dafa dan merestui, semoga aku tidak salah pilih pasangan dan bisa bahagia bersamanya,' guman Maya didalam hati.


" Begini nak Dafa, sebagai orang tua, saya hanya bisa mendukung kalau itu yang terbaik buat anak saya, yang menjalani hubungan pernikahan itu anak saya, ada baiknya biar anak saya saja yang menjawabnya." jawab papa Maya tegas.


Dafa nampak berat menghela nafasnya, sambil melirik kearah Maya, yang dilirik lagi menundukkan kepalanya.


" Maya apa kamu bersedia menjadi teman hidup Dafa, nak?" tanya papa Maya dengan lembut tapi tegas, sambil memandang ke arah Maya.


Maya yang diberi kesempatan untuk menjawab malah gugup.


"Kau bersedia pa," jawab Maya lirih.


" Alhamdulillah," seru semua barengan.


" Kalau Maya sudah bersedia saya tunggu kedatangan orang tua kamu, nak Dafa untuk membicarakan yang lebih kedepannya," ungkap papa Maya.


" Baik om, secepatnya saya akan datang lagi bersama orang tua saya, terimakasih om," ucap Dafa semangat.


Setelah acara tersebut, Dafa memutuskan untuk pulang, dengan wajah yang bersinar, menggambarkan dirinya sedang bahagia.


Dafa senang niat baiknya, mendapatkan jawaban seperti yang dia harapkan.


Anggi sebagai sahabat Maya selalu mendukung apa yang membuat Maya bahagia, seperti sekarang ini, Anggi juga ikut merasakan kebahagiaan Maya. Anggi berharap Dafa merupakan jodoh Maya yang terbaik.


" Wah selamat ya bestie semoga diberikan kelancaran sampai pelaminan," ucap Anggi sambil cipika-cipiki kepada Maya.


" Makasih Anggi, kamu selalu ada untukku, aku berharap kamu juga segera menemukan cowok yang tepat untukmu," sahut Maya merasa terharu.


' Semoga saja Maya, aku juga lelah jomblo seperti ini terus,' Guman Anggi didalam hati.


Maya dan Anggi berpelukan, ikut merasa bahagia satu sama lain, hubungan mereka memang sedekat itu, satu sedih satunya pun ikut merasakan sedih, satu senang satunya pun ikut merasakan senang.


Itulah persahabatan yang sejati, bisa saling merasakan kebahagiaan satu sama lain, saling mendukung, menyayangi dan saling melengkapi.


" Wah tak terasa anak mama sudah besar ya, sudah mau mempunyai pasangan hidup, jangan lupa selalu turuti ucapan suamimu kelak ya nak, saling mengerti, jaga komunikasi, saling percaya, itu kunci dari sebuah hubungan, agar selalu harmonis," pesan Mama Maya terlihat matanya sudah berkaca-kaca.


" Iya ma, aku akan berusaha untuk jadi istri yang baik nanti buat suamiku," jawab Maya langsung menangis di pelukan mamanya.


Menangis karena rasa bahagianya sang putri ingin menjalin hubungan yang serius kepada cowok, tidak lama lagi anaknya akan dibawa pergi untuk hidup mandiri bersama suaminya, sebagai seorang ibu sungguh merasakan kehilangan.


Namun hakekatnya seorang istri harus ikut kemanapun suami kita tinggal, Maya akan berusaha menjadi istri yang baik nanti, pesan dar mama dan papa akan selalu diingat oleh Maya.


Pernikahan termasuk ibadah yang paling panjang, didalamnya akan ada suka suka cobaan yang silih berganti menguji perasaan dan kekuatan cinta, yang benar saling menguatkan satu sama lain, saling percaya, menghargai pasangan, banyak hal yang akan terjadi nanti, kuncinya cuma hanya suami istri yang saling percaya.