
Anggi yang melihat Maya bersemangat bekerja, sesekali kelihatan tersenyum kecil, Anggi hanya bisa ikut tersenyum tipis, entah apa yang Maya bayangkan, tetapi Anggi merasa bersyukur sahabatnya akan segera menemukan pengganti Angga.
" Wah yang pagi-pagi sudah disamperin sama gebetan, merekah terus itu bibir, tidak takut kering, hihii," Anggi mulai menggoda Maya.
" Gebetan siapa maksud kamu Anggi?" tanya Maya pura-pura tidak tahu.
" Jangan berlagak pura-pura lupa deh, kan kamu tadi sudah diajak janjian sama cowok yang kemarin nolongin kita itu," jelas Anggi.
" Oh tadi itu, dia mau jemput aku pulang kerja nanti, katanya ada yang mau diomongin," sahut Maya.
" Saran saya ne, kamu coba mengenal dia lebih dekat, dan lebih baik kamu terima saja kalau dia mengungkapkan cinta ke kamu, tidak ada salahnya membuka hati buat orang lain, lebih cepat lebih baik, agar kamu bisa cepat move on dari masa lalu mu," ucap Anggi memberi nasehat kepada Maya.
" Kamu ini, masak mau terima ajah, kita belum lama kenal sama dia," sahut Maya
" Tidak ada salahnya, nanti seiring berjalannya waktu cinta akan tumbuh bersemi diantara kalian, lagi pula yang aku lihat dia menatapmu dengan cinta, aku sangat yakin dia lebih baik dari mantan mu itu," ucap Anggi bersemangat.
Maya hanya bisa diam, memikirkan semua ucapan sahabat, ada benarnya juga, untuk menyembuhkan luka kita harus hadirkan seseorang sebagai obatnya.
Tidak mudah melupakan orang yang sudah lama mengisi hari-hari kita, tidak ada salahnya untuk memulai hubungan yang baru, mesti itu sulit, Maya akan berusaha untuk mencobanya.
Maya tidak mau mengecewakan sahabat apalagi dia terlihat bersedih dan masih memikirkan mantannya. Maya melanjutkan pekerjaannya, dia berusaha untuk profesional, agar tidak terlihat lemah di hadapan sahabatnya itu, dia tidak mau Anggi merasa kuatir.
Waktu pulang akhirnya tiba, Maya melihat sekilas keluar, dilihatnya Dafa sudah menunggu di depan.
" Anggi nanti kamu temani aku yaa?" ajak Maya penuh harap.
" Apa tidak menggangu, lebih baik kalian mengobrol empat mata saja," saran Anggi.
" Kurasa tidak apa-apa, dia juga bersama temanku itu," sahut Maya santai.
Akhirnya Anggi mau menemani Maya. Maya dan Anggi bersiap-siap untuk pergi, selesai bersiap. mereka mendekat ke arah mobil Dafa. Maya bilang mau satu mobil dengan Anggi saja. Dengan berat hati Dafa setuju.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai disebuah cafe yang cukup sederhana tapi masih nampak rame.
Setelah turun dari mobil mereka memutuskan untuk masuk, dan memilih tempat duduk yang masih kosong.
" Pesan saja menu yang kalian suka," Dafa memiliki obrolannya.
" Ayo nona-nona pilih menu yang mahal-mahal," ucap Rio didalam hati.
" Terserah, kita ngikut saja, apa yang kamu pilihkan pasti enak," jawab Maya pasrah.
" Benar sifat wanita, selalu saja membingungkan jawabannya, kenapa gx langsung bilang mau A ato B," gerutu Rio pelan hanya Dafa yang bisa mendengarkan, sehingga langsung mendapatkan tatapan tajam Dafa.
" Baiklah kalau kalian setuju aku yang memilih menu, tetapi janji harus dimakan ya," sahut Dafa setengah mengancam.
Dafa memanggil pelayan, kemudian memesan makanan yang dikira cocok untuk mereka, semoga saja Dafa tidak salah dalam memilih makanan. Setelah di beberapa saat, tiba-tiba Maya buka suara.
" Maaf kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Maya hati-hati.
Dafa begitu gugup setelah ditanya Maya, Dafa binggung ingin menjawab apa sekarang, apa sudah waktunya dia mengungkapkan apa yang dia rasakan.
" Sebenarnya.....
" Permisi ini pesanannya," belum juga menjawab tiba-tiba makanan yang mereka pesan datang.
Dafa hanya bisa menghembuskan nafasnya, agak sedikit lega setidaknya masih ada sedikit waktu untuk menyiapkan kata-katanya.
" Lebih baik kita makan dahulu, nanti selesai makan baru kita lanjutkan mengobrol nya," ajak Dafa berusaha menguasai keadaan yang agak canggung.