Wedding

Wedding
Bab.38



Mereka makan dengan keadaan diam, dengan pikirannya sendiri-sendiri. Setelah beberapa saat mereka selesai makan agak kelihatan canggung. Terutama Dafa masih binggung harus mulai dari mana dia mengatakan nya, sibuk menyusun kata-kata didalam pikirannya.


" Maaf kalau kata-kata aku lancang Maya, sebenernya dari awal kita berjumpa, aku sudah mulai tertarik kepada, secara diam-diam aku mengikuti segala aktivitas mu setiap hari, mungkin bagimu ini terkesan mendadak, tapi bagiku ini sudah cukup sangat lama aku menyimpan perasaan ini, sebenarnya aku cinta sama kamu Maya, bukan untuk jadi kekasih atau pacar melainkan, maukah kamu menjadi ibu dari calon anak-anak ku?" ucap Dafa tegas membuat Maya, Anggi dan Rio kaget dengan ucapan Dafa yang terus terang seperti itu.


" Kamu tidak perlu menjawab sekarang karena aku akan sabar menunggu jawabannya, aku berharap jawabannya tidak mengecewakan aku," lanjut Dafa dengan hembusan nafas tak teratur, karena merasa lega telah mengungkapkan apa yang dirasakan selama ini.


Maya sendiri masih binggung mau menjawab apa, dia masih diam, memikirkan jawaban apa yang cocok untuk Dafa agar tidak menyinggung perasaannya.


" Jujur aku kaget mas mengungkapkan seperti itu, makasih atas semua rasa mas untuk ku, cuma aku sekarang tidak mau main-main lagi aku mau mencari pasangan yang benar-benar serius kepadaku bukan hanya untuk sementara," jawab Maya hati-hati.


" Kamu mau bukti apa agar kamu percaya bahwa aku benar-benar serius sama kamu?" tanya Dafa.


" Aku mau mas meminta ku langsung kepada orang tuaku, itu aku anggap bukti bahwa mas bener-benar serius sama aku," jawab Maya tegas dengan menatap kedua mata Dafa.


" Baiklah dengan senang hati, aku akan meminta mu langsung kepada orang tua mu," sahut Dafa semangat.


Dafa sudah lega setelah mendapatkan jawaban dari Maya, Maya hanya bisa pasrah mendengar kata-kata Dafa yang nampaknya cukup serius, apalagi disaksikan oleh sahabat mereka. Kalau memang benar Dafa jodoh yang telah ditakdirkan untuk Maya, Maya akan mencoba mulai membuka hatinya untuk Dafa.


Karena didalam hubungan yang paling sulit itu bukanlah memulai tapi bagaimana cara kita untuk mempertahankan suatu hubungan itu.


Setelah selesai mengobrol, mereka memutuskan untuk pulang, Maya dan Anggi pulang, tak lupa dari belakang Dafa dan Rio mengikuti mereka, memastikan bahwa mereka sampai dengan selamat.


" Aku ikut senang, kamu mau mencoba membuka hatimu pada Dafa, kayaknya dia orang baik," kata Anggi saat mereka sudah didalam mobil.


" Iya entah kenapa aku merasa dia akan serius dengan ku," ucap Maya yakin.


" Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik buat mu, semoga Dafa lelaki yang lebih baik, bisa mengobati rasa sakit hatimu dan cepat bisa move on dengan mantan" sahut Anggi dengan terkekeh pelan.


" Makasih Anggi, selama ini selalu ada disaat aku senang maupun sedih, selalu mendukung aku juga," ucap Maya.


Anggi menanggapi mengangguk kepalanya sambil tersenyum manis, bagi Anggi, Maya juga sahabat sekaligus saudara yang baik, bisa selalu mengisi kebersamaan mereka, tanpa ada salah satu kayak ada yang kurang.


Setelah beberapa saat, mobil yang dikendarai Anggi sampul di rumah Maya, Dafa dan Rio hanya membunyikan klakson untuk pamitan, Dafa seny masih sempat melambaikan tangan ke arah Maya sambil tersenyum tipis, Maya sedikit salah tingkah melihat sikap Dafa.