
"Bagaimana keadaannya, Uncle?" tanya Nathan pada Ten. Nathan meminta Ten untuk mengawasi Edelweiss, sementara dirinya mengikuti kuliah.
"Belum ada perubahan, tapi sampai saat ini masih stabil," jawab Ten.
Mereka berdua kini tengah berdiri di depan sebuah jendela kaca besar, di mana terlihat seorang gadis sedang berjuang mempertahankan hidupnya.
*****
"Uncle!" Nala langsung memeluk One saat melihat pria itu menjemputnya. Eleanor yang tadinya berjalan di sebelah Nala pun mengerutkan dahinya, bertanya tanya.
Siapa itu? Tampan sekali! Seperti pria pria hot di dalam novel tapi jarang terlihat di dunia nyata. Jika di dunia novel punya roti sobek, maka yang sering kulihat adalah roti bantal. - batin Eleanor sambil memikirkan Ayahnya, kemudian tersenyum sendiri.
"Ayo kita pulang," ajak One.
"Uncle, temani kami dulu ke Mall ya. Ada beberapa buku yang ingin ku beli. Ayo, El!" Nala memanggil Eleanor agar mendekatinya.
Mereka masuk ke dalam mobil. Nala tidak duduk di kursi depan, tapi lebih memilih duduk di kursi belakang bersama dengan Eleanor. One sesekali memperhatikan Nala melalui kaca spion tengah.
One melajukan mobil tersebut hingga sampai ke sebuah Mall. Mereka semua turun. Nala kembali mendekati One kemudian melingkarkan tangannya di lengan One.
"Jaga aku, Uncle. Jangan sampai aku hilang," ujar Nala yang didengar oleh Eleanor juga.
"Kamu itu sudah besar, Na. Mana mungkin hilang, kecuali kamu menghilangkan diri sendiri," ujar Eleanor yang tertawa mendengar ucapan Nala tadi.
Bibir Nala mendekati telinga Eleanor, "Aku ingin melatihnya menjadi kekasihku, jadi ia harus menjagaku."
Eleanor membulatkan matanya saat mendengar bisikan Nala, tapi ia kemudian kembali ke mode awal dan membalas bisikan Nala.
"Pilihanmu keren! Apa ada stock yang lain? Kalau disuruh memilih antara Mario dengannya, aku pasti akan memilih pria seperti Uncle mu," ucap Eleanor dan langsung membuat Nala ikut tertawa.
Mereka pun langsung ke toko buku dan Nala tetap saja melingkarkan tangannya pada lengan One, sementara One mendiamkannya saja.
*****
Hari demi hari berlalu, hingga satu semester terlewati begitu saja. Nala masih tak mendengar kabar tentang Edelweiss sahabatnya, bahkan One tak bisa mendapatkan informasi tentangnya.
Nala menjadi marah dan kesal pada Edelweiss. Ia mulai menganggap Edelweiss melupakannya begitu saja. Jadi, ia mengambil keputusan untuk juga melupakan Edelweiss, melupakan sahabatnya itu.
Hari ini, ia akan kembali ke Kota New York, setelah setengah tahun berada di Kota Massachusetts. Saat ini, Nala sedang fokus pada ponselnya. Ia sedang berkirim pesan dengan Eleanor yang ternyata pergi berlibur bersama kedua orang tuanya.
"Kita masuk, Na," ajak One. Mereka pun masuk ke dalam pesawat setelah panggilan dari pihak maskapai mulai terdengar.
Saat mereka berjalan, Nala kembali melingkarkan tangannya di lengan One dan selalu tak ada penolakan dari One. Oleh karena itu juga Nala selalu melakukannya tanpa canggung sama sekali. Tanpa disadari oleh Nala, One juga menikmati semua itu,meski ia tak dapat membalasnya.
Sesampainya mereka di Kota New York,
"Berapa lama liburan semestermu, sayang?" tanya Alexa untuk membuka pembicaraan dengan putrinya.
One sudah pergi ke markas Black Alpha karena ia akan tinghal di sana sementara waktu, selama Nala berada di New York. Nala juga sudah selesai membersihkan diri dan kini tengah bersantai di ruang keluarga.
"3 minggu, Mom," jawab Nala.
"Bagaimana kuliahmu? Kamu menyukainya?"
"Kalau kamu bisa menjadi lulusan terbaik, Mommy akan mempertimbangkannya," ucap Alexa.
"Benar, Mom?" Nala terlihat sangat antusias mendengarnya.
"Tentu saja!"
"Baiklah kalau begitu, aku menyetujuinya."
Alexa memainkan ponselnya kemudian menatap ke arah putrinya lagi. Banyak hal rasanya yang ingin ia katakan, tapi begitu sulit untuk terucap.
"Kamu memiliki kekasih, sayang?" tanya Alexa tiba tiba, membuat Nala menatap ke arah Alexa dengan tajam. Ia mulai menelisik wajah Alexa yang seakan menyembunyikan sesuatu karena tidak biasanya Mommynya itu menanyakan hal seperti itu.
"Belum, Mom. Aku akan fokus belajar saja. Lagipula, aku tak ingin berpacaran, aku ingin langsung menikah," jawab Nala.
"Kalau begitu, Mommy akan mencarikan pasangan untukmu."
"Aku tidak mau, Mom. Aku sudah memiliki pasangan yang kuinginkan," ucap Nala.
"Bukankah tadi kamu bilang kamu tak memiliki kekasih?"
"Ya, aku memang belum menjadikannya kekasih, tapi aku sudah memiliki seseorang yang akan kujadikan calon suami."
"Beritahu Mommy, siapa pria itu?" tanya Alexa yang merasa penasaran.
"Uncle One!"
"Jangan bercanda, Nala," ucap Alexa.
"Nala tidak bercanda, Mom. Nala menyukai Uncle One dan hanya Uncle yang akan menjadi suami Nala. Aku tidak akan mengijinkan Mommy menjauhkan aku dengannya."
"Tapi, Nala. Uncle One pasti memiliki kekasih."
"Kalau sampai itu terjadi, maka aku akan merebut Uncle dari tangan kekasihnya itu!" ucap Nala dengan tegas dan penuh keyakinan.
"Bagaimana kalau One tidak mencintaimu?"
"Maka aku yang akan mencintainya, Mom!" jawab Nala.
"Usia One sudah sangat cukup untuk menikah, sayang. Apa kamu akan menyuruhnya menunggu lagi? Sampai dirimu siap?" tanya Alexa.
Alexa tak mengapa jika Nala memang mencintai One dengan tulus dan sungguh sungguh. Ia tak akan pernah memaksakan kehendaknya. Yang Alexa pikirkan hanyalah perasaan One, apakah pria itu juga mencintai putrinya? Atau nantinya hanya terpaksa karena dianggap sebuah perintah?
"Kalau Uncle sudah siap menikah, maka aku yang akan memintanya menikah denganku, Mom. Aku yang akan melamarnya!" ucap Nala dengan semangat.
๐งก ๐งก ๐งก
Cherry minta maaf ya kalau belakangan ini up nya suka ga nentu (ga tiap hari pula). Selain karena kerjaan di RL yang menggunung, Cherry lagi ada misi dari editor buat bikin novel lain. Tapi masi dalam tahap review editor dan belum akan keluar dalam waktu dekat ini ๐
Sekali lagi mohon dimaafkan ๐ Terima kasih