Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
BERTEMU DI SANA



"Lepaskan aku!" teriak Nala saat ia merasa ada seseorang yang membekap mulutnya. Ia sedang diminta untuk membuang sampah di bagian samping cafe. Saat itu hari masih agak sore dan terang, para pria berbaju hitam melancarkan aksinya tanpa mempedulikan sekitar. Mereka bahkan sudah menyiapkan sebuah mobil di ujung jalan.


Nala mengangkat kedua kakinya karena tubuh bagian atasnya dipegang oleh seorang pria. Ia menendang pria yang datang menghampiri mereka.


"Sialannn!!" teriak pria itu.


Bughhh


Tiba tina saja pria itu mengambil sebuah kayu yang tergeletak di pinggir tempat sampah itu dan memukul kepala Nala.


"Uncle," gumam Nala sebelum ia kehilangan kesadarannya.


"Apa yang kamu lakukan?! Sialannn!! Bagaimana kalau dia mati? Tuan Kenji bisa marah pada kita," ujar salah seorang di sana.


"Ayo cepat bawa dia!" teriak yang lain.


Mereka pun langsung memasukkan Nala ke dalam mobil. Mereka menghubungi asisten pribadi Tuan Kenji yang bernama Lou. Lou meminta mereka langsung menuju bandara karena telah menyiapkan sebuah pesawat pribadi yang akan membawa mereka semua ke Jepang.


"Tapi dia terluka, Tuan," ucap mereka.


"Aku akan menyediakan seorang dokter di pesawat."


Mereka melajukan mobil langsung ke bandara. Salah seorang pria itu merobek kemejanya dan membalut luka yang ada di kepala Nala.


*****


One datang kembali ke cafe setelah ia memindahkan semua barang barangnya dari apartemen di sebelah Nala, ke apartemen Nala. Ya, ia akan tinggal bersama Nala selama seminggu ini.


Mengungkapkan perasaannya pada Nala, sungguh ia merasa lega dan lebih bahagia. Ia bahkan ingin langsung menemui Michael dan Alexa untuk memberinya izin untuk berhubungan dengan putri mereka.


Bel di pintu berbunyi, One mengedarkan pandangannya. Biasanya ia bisa menemukan Nala yang sedang mengantarkan pesanan para tamu dengan menggunakan sepatu roda nya.


"Rich!" panggil One. Ia telah dikenalkan oleh Nala dengan sang pemilik cafe, Richard Anderson.


"Tuan One," sapa Rich yang usianya hanya berbeda 5 tahun dengan Nala. Wajahnya terlihat gelisah dan panik membuat One curiga.


"Di mana Nala?" tanya One.


"Aku memintanya membuang sampah tadi, karena bagian dapur sedang sangat sibuk. Tapi ia belum kembali. Aku langsung ke samping untuk memeriksa, tapi tak menemukannya. Aku ...," Rich tampak terdiam.


"Cepat katakan!"


Rich akhirnya membawa One menuju bagian samping, di mana lokasi terakhir ia ketahui Nala berada. Rich menunjuk sesuatu dan mata One membulat.


"Apa kamu melihat seseorang?" tanya One.


"Tidak. Ah, CCTV! Mengapa aku tidak memikirkannya sejak tadi," Rich merasa bodoh karena lupa bahwa ia memiliki CCTV di area tersebut untuk mencegah pencuri dan lain sebagainya.


Keduanya pun langsung masuk dan menuju ruang kerja Rich.


"Periksalah, aku akan keluar dulu untuk berbicara dengan beberapa pegawaiku," ucap Rich. One pun mengangguk dan mulai memeriksa video rekaman tersebut.


"Siapa mereka?" gumam One saat melihat beberapa pria berbaju hitam menangkap Nala. Ia mengepalkan tangannya dan menggeram kesal ketika melihat salah seorang dari mereka memukul Nala.


Tak ingin membuang waktu, One segera pergi menuju markas Black Alpha yang ada di kota tersebut. Ia meminta tolong pada salah seorang staf di sana untuk membantunya mencari tahu tentang para pria berbaju hitam tersebut.


"Kamu mau bermain main denganku, Kakek tua! Dulu kamu mencelakai kedua orang tuaku, sekarang kamu juga mencelakai Nala. Kamu bermain licik, maka aku akan bermain cantik. Lihat saja siapa yang akan kubawa untuk menemuimu di sana," gumam One.


One segera pergi dari sana setelah mengucapkan terima kasih pada rekannya itu. Ia kembali ke apartemen, mengambil sesuatu dan langsung pergi ke Jakarta. Sebenarnya ia ingin menemui Alexa, tapi akan terlalu lama kalau ia harus pergi ke New York dulu.


*****


20 jam lebih perjalanan, kini One telah sampai di Jakarta. Ia berdiri di depan pintu gerbang Kediaman Keluarga Williams.


Setelah menghela nafas dan mengumpulkan keberaniannya, ia pun segera masuk. Tepat sekali Zero sedang berada di sana.


"One?"


"Tuan Azka ada?" tanya One.


"Ada. Ia sedang berbicara dengan Tuan Axton," jawab Zero, "Ada apa? Katakan padaku."


"Kak, mereka menculik Nala. Mereka sengaja membawa Nala untuk mengancamku," ucap One.


"Mereka?"


"Kenji Haskata," jawab One.


Zero mengetahuu seluk beluk kehidupan One karena sebelumnya, ia telah memeriksa latar belakang setiap orang yang akan bekerja di Keluarga Williams.


"Apa kamu mengatakan ini pada Alexa?" One menggelengkan kepalanya.


"Aku langsung ke sini."


"Apa yang kamu lakukan sudah tepat. Ikutlah aku ke dalam. Aku akan menyelak pembicaraan mereka dulu," Zero pun mengajak One ke ruang kerja Azka. Ia masuk terlebih dahulu, kemudian setelahnya ia mempersilakan One untuk masuk.


One menceritakan semuanya pada Azka dan juga Axton. Keduanya menggeram kesal dengan apa yang dilakukan oleh Kenji.


"Berani sekali ia menyandera cucuku, bahkan menyakitinya," ucap Azka dengan geram.


"Siapkan anggota kita, Ze. Kita berangkat ke sana sekarang," perintah Axton.


Zero menganggukkan kepalanya dan mengajak One ikut bersamanya.


"Dad di sini saja. Mommy akan khawatir jika Dad ikut," pinta Axton.


"Tidak bisa! Ia berani bermain main denganku. Apa dia tidak tahu bahwa Nala adalah cucuku?"


"Sepertinya ia tidak tahu. Jika ia tahu, tak mungkin ia berani melakukannya."


"Bisa saja ia tahu, karena itulah ia melakukannya. Ia pernah datang ke sini dan meminta bantuan Dad untuk mengirimkan One ke sana, kembali ke Jepang. Namun, Dad tidak menerimanya."


"Itu hal yang benar Dad. Aku akan menghubungi Jean dan sepertinya Dad harus berbicara dengan Mommy," ucap Axton.


"Baik, pergilah ke bandara terlebih dahulu. Kita bertemu di sana," ucap Azka dan diangguki oleh Axton.


Kita akan segera bermain bersama, Kenji Haskata. Tunggu aku! - batin Azka yang kini penuh dengan amarah.


🧡 🧡 🧡