Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
NEW YORK



"Aku akan menikah di sini saja, jadi kamu akan dengan mudah datang, bagaimana?" tanya Nala.


Edelweiss tertawa kecil, "kamu sudah tidak sabar ya Na untuk menikah?"


Wajah Nala memerah, ia bahkan menutup wajahnya karena malu, padahal Edelweiss tak dapat melihat tingkahnya.


"Kamu menggodaku ya?" keduanya tertawa bersama dan ruangan yang awalnya sepi dan hanya terdengar suara detak monitor jantung, kini lebih berwarna.


One melihat dari celah pintu. Ia tak masuk ke dalam karena ingin memberikan ruang bagi Nala dan Edelweiss. Secara diam diam, One telah mempersiapkan sebuah pesawat pribadi milik Azka Williams, untuk membawa mereka ke New York.


One telah melakukan panggilan video dengan Azka Williams dan mengakui semua perbuatannya yang membawa Nala ke Auckland tanpa izin. Ia benar benar meminta maaf.


Azka yang memerintahkan One untuk segwra memindahkan Edelweiss ke New York karena ia sudah menyediakan seorang dokter khusus yang akan merawat Edelweiss.


Cekleekkk


Pintu ruang rawat Edelweiss terbuka dan One masuk ke dalam.


"Uncle!"


"Kamu itu, Na. Kamu itu calon istri Uncle One, masa masih memanggil Uncle terus," goda Edelweiss.


Nala hanya terkekeh dan menatap ke arah One, membuatnya tiba tiba menjadi salah tingkah.


"Bersiaplah, kita akan segera berangkat," ucap One.


"Berangkat?" tanya Nala dan Edelweiss.


"Ya, bersiaplah. Sebentar lagi dokter dan perawat akan datang dan membantu kita."


Tak sampai 30 menit, mereka sudah berada di dalam mobil dan menuju ke bandara. Edelweiss hanya bisa ikut ke mana pun mereka membawanya. Dalam kesendiriannya dan dalam pikirannya sendiri, ia selalu berpikir bagaimana hidupnya ke depan. Ia tak mungkin terus bergantung pada Nala.


Nala memilki kehidupan sendiri dan sepertinya ia harus mulai berpikir apa yang akan ia lakukan untuk hidup sendiri.


Pesawat telah lepas landas dan mereka akan melalui perjalanan panjang menuju Kota New York. Edelweiss akan kembali ke kota di mana ia dilahirkan. Kota yang menyimpan sejuta kenangan bersama kedua orang tuanya. Namun kini, ia hanya sendiri.


Saat pesawat tiba di bandara Kota New York, sebuah mobil telah siap membawa One, Nala, dan Edelweiss menuju tempat tinggal Keluarga Thomas.


Azka merasa bertanggung jawab pada Edelweiss karena gadis itu adalah korban dari sikap buruk teman teman Nala. Selain itu sikap Nathan yang sepertinya menggampangkan apa yang ia inginkan, membuat Azka kadang menggelengkan kepalanya, apalagi ia menjadikan Edelweiss kekasih pura puranya, hanya untuk kepentingan pribadinya.


"Kita akan tinggal bersama di sini, El. Mulai saat ini kamu bukan hanya sahabatku, tapi juga saudaraku. Aku akan pindah kuliah ke sini agar setiap hari selalu bisa menemanimu dan menjagamu," ucap Nala.


"Aku tak mau merepotkanmu, Na. Beri aku seorang perawat saja. Nanti perlahan aku akan belajar darinya untuk melakukan apapun sendiri," ucap Edelweiss yang memang tak ingin merepotkan Nala.


"Tak ada bantahan. Aku akan tetap berada dekatmu, Na."


Edelweiss tak akan membantah Nala, tapi ia akan belajar secara mandiri nanti untuk mengurus dirinya sendiri.


Sementara itu, Nathan bersama dengan Ten, kembali ke Kota Auckland. Di lain sisi, Azka dan Mia bersama Michael dan Alexa pergi ke New York untuk menikahkan One dengan Nala dalam sebuah janji pernikahan. Mereka akan mengadakan resepsi secara sederhana karena itu yang Nala inginkan sejak awal.


Mata Nathan membulat saat melihat ruangan di mana Edelweiss ditempatkan sudah kosong. Ia langsung menoleh ke arah bodyguardnya yang pasti sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Katakan, Uncle! Di mana Elis?" tanya Nathan.


"Sebaiknya kita kembali ke New York untuk menghadiri pernikahan Nala dan One," jawab Ten.


"Mereka benar benar membawanya ke sana?" tanya Nathan lagi.


"Ini adalah keputusan Tuan Azka dan ia akan mendapatkan perawatan terbaik di sana."


"Mereka tak bisa melakukan itu, Uncle. Elis adalah tanggung jawabku," Ten benar benar tak habis pikir dengan Nathan. Ia selalu saja mengakui Edelweiss sebagai miliknya, padahal tak ada hubungan yang jelas di antara keduanya.


Melihat keadaan Edelweiss saat ini, Ten kira Nathan akan menyerah, tapi ternyata ia salah.


"Mungkin sebaiknya kita segera berangkat sekarang. Tuan Azka dan kedua orang tua anda sudah dalam perjalanan menuju New York," ucap Ten.


"Kita berangkat sekarang, Uncle!"


🧡 🧡 🧡