
Alexa yang sedang duduk di balkon kamar tidurnya, hanya terdiam menatap ke arah taman belakang. Sesekali ia tampak menghela nafas seakan memiliki beban yang begitu berat.
Dari belakang, sepasang tangan melingkar memeluk bahu Alexa, "Apa yang sedang kamu pikirkan sampai tak menyadari kedatanganku, hmm?"
"Maafkan aku," Alexa langsung bangkit dari duduknya dan ingin membantu Michael.
Namun, Michael justru menggandeng tangan Alexa dan mengajaknya untuk duduk di sofa panjang yang ada di dalam kamar tidur mereka.
"Katakan padaku, apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Michael yang menyadari sesuatu sedang dipikirkan oleh istrinya itu.
Alexa menatap manik mata suaminya, "Dugaanku ternyata benar."
Michael menautkan kedua alisnya, mencari tahu apa maksud perkataan Alexa.
"Nala menyukai One," ucapan Alexa sama sekali yak mengagetkan Michael.
"Kamu tidak kaget?" tanya Alexa.
Michael menggelengkan kepalanya, "Aku sudah melihat cinta di matanya untuk One, bahkan sejak ia berusia 12 tahun."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Alexa lagi.
"Tak ada yang harus kita lakukan. Percayalah pada Nala dan percayalah pada One. Mereka akan menemukan cinta sejati mereka masing masing pada akhirnya nanti. Kita tak bisa memisahkan mereka, kecuali memang mereka yang menginginkannya sendiri. Biarlah semua mengalir apa adanya, lagipula One adalah pria yang baik, meski usianya terpaut jauh dengan Nala."
Alexa memeluk Michael. Ia sangat bersyukur memiliki suami yang begitu dewasa dalam pemikiran, meski kadang kelakuannya seperti anak anak, yang selalu minta dimanja, apalagi kalau malam tiba.
"Sayang ...," Michael mengangkat dagu Alexa dan langsung melum mat bibir milik istrinya itu. Sebelum makan malam tiba, ia akan menikmati cemilan nikmat terlebih dahulu.
*****
Jantung Nala berdegup dengan kencang. Ia tak menyangka bahwa dirinya mampu berkata jujur pada Mom Alexa, bahwa ia menyukai dan mencintai One, pria yang adalah bodyguardnya dan usianya terpaut jauh.
Menyesal? Tentu saja tidak. Ia tahu Mom Alexa bukanlah tipe wanita yang mengambil keputusan begity saja dan tak mempertimbangkan lawan bicaranya, apalagi ini adalah putrinya sendiri.
"Apa yang harus kulakukan agar Uncle bisa melirikku,meski sedikit saja. Ya, tidak apa sedikit dulu, lama lama kan bisa timbul getar getar," gumam Nala.
Tokk ... tokk ... tokk ...
"Na."
"Masuklah, Dad," ucap Nala saat mendengar suara dad Michael di depan pintu kamar tidurnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan, sayang?" tanya Dad Michael.
"Aku hanya melihat lihat ponselku, Dad. Ada apa?" Nala segera bangkit dan duduk di samping Dad Michael.
Apa Daddy akan membicarakan tentang Uncle? Pasti Mommy sudah memberitahukan semua yang kukatakan tadi. - batin Nala.
"Uncle Axton dan Aunty Jean akan datang ke sini bersama Alex dan Ava."
"Mereka ada di New York?" tanya Nala bersemangat.
"Ya, mereka baru sampai dan akan menginap di sini selama satu bulan, selama Alex dan Ava libur sekolah."
Nala sangat suka jika Ava datang karena ia sebenarnya ingin memiliki seorang adik perempuan. Ava sangat lembut dan tak terlalu banyak bicara, tapi justru hal itu yang membuat Nala dekat.
"One sedang menjemput mereka."
Saat Dad Michael menyebut nama One, mata Nala kembali berbinar. Dad Michael sangat menyadari itu dan membuatnya tersenyum.
Kamu cepat sekali dewasa, sayang. Apakah Daddy akan segera menikahkanmu dalam waktu dekat ini? - batin Dad Michael.
"Ya. Turunlah ke bawah dan sambutlah saat mereka datang. Nicholas sedang menginap di rumah sahabatnya dan Mommy sedang di dapur. Dad akan ke ruang kerja sebentar," ucap Dad Michael.
"Baiklah, Dad."
Nala langsung beranjak turun dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Senyum tak lepas dari wajahnya. Ia bukan membayangkan kedatangan keluarga Uncle Axton, tapi ia membayangkan akan kembali bertemu dengan One.
Selang 30 menit, tampak kehadiran 2 buah mobil berwarna hitam ke pekarangan Kediaman Michael dan Alexa. Tampak turun Axton dan Jeanette, Alex, serta Ava. Dari balik pintu kemudi, turunlah One dan juga seorang wanita yang berpakaian persis seperti One, hitam hitam.
"Ava!" Nala langsung merentangkan kedua tangannya dan Ava pun berjalan sedikit cepat untuk menyambut Nala. Ia memeluk Nala bagaikan seorang adik yang merindukan kakak perempuannya.
"Duduklah dulu, aku akan memanggil Daddy dan Mommy," ucap Nala dan langsung berjalan ke belakang.
Nala memanggil Dad Michael dan Mom Alexa, setelah itu, ia mengajak Ava ke kamar tidurnya, sementara Alex sedang sibuk dengan ponselnya.
Ava duduk di atas sofa single di dalam kamar tidur Nala. Ia melihat Nala yang tengah merapikan kamar tidurnya, karena beberapa buku terlihat berada di atas tempat tidur.
"Kita sekamar saja ya," ucap Nala antusias.
"Aku mau!" Ava juga terlihat sangat senang, "Kalau begitu aku akan meminta koperku dibawa ke sini saja. Aku keluar dulu ya, Kak."
Ava pun keluar dari kamar tidur Nala. Nala juga bangkit ingin melihat Ava yang akan meminta kopernya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil melihat Ava, Nala juga ingin melihat Uncle tampannya.
Deghhh ...
Hati Nala tiba tiba berdenyut nyeri saat melihat One tengah berbicara dengan wanita tadi, bahkan ia bisa tertawa dengan lepas. Mereka berdua terlihat begitu dekat, membuat hati Nala mulai tergores.
"Uncle, mengapa Uncle bisa tertawa dengannya, sementara denganku tidak? Apa aku benar benar menyusahkanmu di sini? Atau benar kata Mommy kalau Uncle sudah memiliki seorang kekasih dan aku yang menghambat Uncle untuk berumah tangga?" gumam Nala seorang diri.
Rasanya Nala tak kuat melihat One begitu dekat dengan wanita lain. Ia yang awalnya ingin mencuri pandang dari balkon kamar tidurnya, kini melangkah masuk. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan melihat wajahnya di cermin.
"Na, kamu harus berjuang! Masa baru melihat hal seperti itu, sudah ingin menyerah. Di mana Nala yang kuat, hah?!" ucapnya pada diri sendiri.
Tokk ... Tokk ... Tokk ....
Ava membuka pintu kamar tidur Nala, "Kak, Aunty memanggilmu untuk makan malam bersama."
Nala keluar dari kamar mandi dengan kepercayaan diri, "Baiklah, ayo!" ajak Nala sambil merangkul Ava.
Di meja makan, tampak dua keluarga besar, minus Nathan dan Nicholas. Ditambah juga dengan kehadiran One dan Nine di sana. Mereka diajak oleh Alexa untuk makan malam bersama.
Selama makan malam, mata Nala selalu mencuri pandang ke arah One yang duduk berhadapan dengan Nine. Keduanya berbicara setengah berbisik dan sesekali tertawa pelan.
Memandang keduanya dari jarak dekat, membuat keberanian yang tadi ia kumpulkan di kamar mandi, kini lenyap seketika. Hatinya bahkan kembali tergores untuk kedua kalinya dan terasa lebih sakit dari sebelumnya.
Uncle, apa kamu tak akan menyadari perasaanku padamu? Atau memang di hatimu sudah ada wanita lain? - batin Nala.
🧡 🧡 🧡