
One meletakkan hair dryer itu di atas meja rias, kemudian menggendong Nala dan membawanya ke atas tempat tidur. Ia menatap Nala yang kini sudah berada di bawah tubuhnya, di dalam kungkungannya.
"Kita mencoba bersama, okay," ucap One.
"Kamu belum pernah melakukannya?" tanya Nala polos.
One tersenyum, "Bagaimana aku bisa melakukannya jika kamu selalu ada di dekatku dan hanya dirimu yang bisa menjadi fantasiku."
Wajah Nala tiba tiba memerah mendengar ucapan One. Melihat hal itu, One menjadi semakin gemas dan akhirnya melabuhkan ciumannya ke bibir Nala. Semakin lama, ciuman itu semakin dalam, bahkan tangan One sudah mulai memberikan sentuhan di leher Nala.
Secara perlahan, One menarik bathrobe yang dikenakan oleh Nala dan ternyata Nala sudah mengenakan sebuah lingerie berwarna merah. Instingg One langsung bekerja dengan sendirinya. Ia membuang bathrobe yang dikenakan oleh Nala ke sembarang arah, kemudian mulai menelusuri tubuh Nala dengan bibirnya.
Nala yang merasakan gelenyar di tubuhnya yang tak pernah ia rasakan, menggeliat dan membuat One semakin bergairrah.
One menyusuri tubuh Nala dan mengabsen setiap inch nya. One tak pernah berdekatan dengan gadis atau wanita manapun. Nala adalah yang pertama baginya, membuatnya juga pertama kali merasakan sensasi nikmat yang tak pernah ia rasakan.
Hingga akhirnya mereka melakukan permainan puncak. One telah siap mengarahkan miliknya pada inti milik Nala. Sebenarnya One sedikit ragu melakukannya, karena ia takut menyakiti Nala, apalagi setelah melihat miliknya dan milik Nala, One menjadi ragu apakah akan muat di sana.
Nala yang sudah berkabut gairrah pun mulai kembali bangkit dan mencium One.
"I want you, honey. Do it!"
One membalas ciuman Nala dan akhirnya One melepas keraguannya karena Nala juga menginginkannya. Ia memasukkan miliknya perlahan dan terasa begitu sulit.
"Ahhhh!" teriak Nala ketika milik One berhasil menembus miliknya. One bisa merasakan sesuatu yang hangat mengalir dan ia tersenyum.
"Now you're totally mine," bisik One di telinga Nala.
One mulai menggerakkan tubuhnya dan membuat suasana di dalam kamar itu terasa begitu panas. Hanya terdengar suara des sahan dan er rangan yang membuat keduanya meracau nikmat.
Hingga akhirnya One melepaskan benihh nya ke tempat di mana mereka harus pulang. One ingin Nala bisa mengandung anaknya, agar ikatan di antara mereka semakin kuat. Ia juga akan selalu ada di dekat Nala, ya ... Di manapun nanti Nala berada, di sanalah One juga akan berada.
One mencium bibir Nala setelah mereka menyudahi percinttaan mereka malam itu. Meski harus menunggu satu hari tak melakukannya karena perjalanan mereka, tapi One merasakan nikmat yang tak akan bisa digantikan oleh apapun.
"I love you, honey."
Cuppp
One mencium bibir Nala yang matanya kini sudah terpejam. Nala tersenyum meski ia merasakan sedikit sakit pada inti miliknya. Nala yang awalnya tidak mengantuk, kini merangsek masuk ke da da One dan memeluk pria yang telah menjadi suaminya.
"I love you too," balas Nala dan mencium bibir One sebelum ia benar benar masuk ke alam mimpinya.
*****
"Mom, aku ingin kuliah di sini saja," ucap Nathan tanpa merasa ragu sedikit pun.
"Aku akan kuliah di New York, Mom."
"Lalu bagaimana dengan kuliahmu di Auckland?" tanya Alexa.
"Aku akan meminta Uncle Ten memindahkan semuanya ke universitas di sini. Ia juga pasti akan lebih senang berada di sini karena akan dekat dengan istri dan anaknya," jawab Nathan tanpa beban sama sekali.
"Apa ini semua karena Elis?" tanya Alexa.
"Ya. Jika aku berada di sini, maka itu akan membuatku lebih mudah menjaganya," jawab Nathan lagi.
"Kamu mencintai Elis, sayang?" tanya Alexa lagi.
Nathan menatap Alexa dan mengangguk. Alexa bisa melihat tatapan berbeda dari Nathat saat menjawab pertanyaannya.
"Mommy akan bicara dengan Daddy, okay."
"Okay," jawab Nathan singkat
Alexa pun bangkit dari duduknya dan berniat pergi ke kamar tidurnya. Namun langkahnya terhenti ketika Nathan kembali berbicara.
"Mom, bisakah aku menikah dengan Elis saat ini? Aku ingin ia dekat denganku dan berada sekamar denganku."
Alexa tak percaya apa yang diucapkan oleh Nathan. Ia bahkan kembali melangkahkan kakinya mendekati putranya itu.
"Elis akan berada di rumah ini, sayang. Ia akan dekat denganmu jika kamu kuliah di sini. Mommy tak akan melarangmu untuk pindah kuliah. Tapi untuk menikah, sebaiknya kamu pikirkan dulu."
"Apa mommy tidak setuju jika aku menikah dengan Elis?"
Alexa tersenyum, "Mommy setuju, Nath. Mommy juga menyayangi Elis, tapi kalau untuk menikah sekarang, Mommy tak akan mengijinkan. Bukan Mommy tak mau kamu menikah dengan Elis, Mommy hanya tak ingin Elis berpikir yang tidak tidak. Mommy bisa melihat bagaimana ia selalu berusaha untuk mandiri. Mommy tak ingin ia merasa dirinya dikasihani, ia tentu akan bersedih."
Nathan tampak berpikir, apa yang Mom Alexa katakan ada benarnya juga. Edelweiss malah selalu mengatakan ia akan mengembalikan uang Nathan dan memintanya untuk melepaskan dia dari status sebagai kekasih Nathan.
Nathan menghela nafasnya pelan, kemudian kembali menatap Mom Alexa.
"Tapi izinkan aku menempati kamar di sebelah kamarnya. Aku yang akan menjaganya, Mom," ucap Nathan.
"Tak masalah, Nath. Mommy bisa melakukan itu. Yang terpenting kamu tak boleh memaksakan apapun pada Elis. Mommy ingin ia merasa nyaman berada di tengah tengah kita," ucap Alexa.
"Okay, Mom. Aku mengerti. Thank you."
Alexa pun tersenyum kemudian keluar dari kamar putranya itu.
🧡 🧡 🧡