Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
EXTRA PART (1)



Agha sudah berusia dua bulan. Untuk sementara waktu, Nala mengajukan cuti kuliahnya. Ia sedang berada dalam masa pemulihan dan ingin memberikan asi eksklusif untuk putra pertamanya itu.


Selama masa pemulihan, Nala tinggal di Kediaman Keluarga Thomas. Di sana Alexa yang sudah tidak bekerja dan hanya sesekali datang ke Alpenze Coorp untuk melakukan pengawasan. Alexa menjaga Nala dengan sangat baik. Ia ingin membuat Nala bahagia dan mendapat perhatian penuh agar tidak mengalami sindrom 'baby blues'.


"Bolehkah aku mencoba menggendongnya, Na?" pinta Edelweiss yang juga tinggal di Kediaman Keluarga Thomas.


"Tentu saja boleh, Aunty cantik," ucap Nala, membuat Edelweiss terkekeh karena Nala membuat suara seperti anak kecil.


Meskipun sudah bisa melihat, tapi Edelweiss belum bisa berjalan. Ia masih rutin melakukan terapi.


"Kamu tampan sekali, Agha," puji Edelweiss.


"Tentu saja, siapa dulu Mommyku," balas Nala dengan tetap menggunakan suara anak kecil.


"Kalau tampan, itu pasti karena turunan Daddy, ya kan?" Michael yang baru kembali karena jam prakteknya telah usai, mendekat pada istri serta anak dan cucunya.


"Daddy narsis!" ungkap Nala.


"Hei jangan salah, dulu Mommymu ini klepek klepek loh waktu ketemu Daddy," ucap Michael.


"Klepek klepek? Bukannya aku menemukan mau bunuh diri akibat patah hati?" balas Alexa.


"Daddy mau bunuh diri karena patah hati?!"sontak Nala tertawa kencang saat mendengar ucapan Alexa.


"Sayang .... Jangan buka kartuku. Lagipula karena niatku itu juga kan membuatmu mendekatiku. Kalau tidak, kita tak akan bertemu," ucap Michael yang langsung memeluk Alexa dan mencium bibir dan pipinya bertubi tubi.


"Dad! Lakukan di kamar saja. Di sini ada Agha yang memperhatikan tingkah laku kakeknya," ucap Nala.


"Ishhh, biarkan saja. Biar Agha belajar jadi pria romantis," ucap Michael lagi.


"El, kamu tak ingin menikah dengan Nathan?" tanya Nala tiba tiba, membuat semua yang tadi sedang bercanda, kini terdiam seketika.


"Aku belum percaya diri. Berjalan saja aku tidak bisa, bagaimana aku bisa menjadi seorang istri yang baik. Aku justru akan selalu merepotkannya," ungkap Edelweiss.


"Bagaimana kalau nanti Nathan kepincut wanita lain karena kamu tak mau menikah dengannya," ucap Nala ingin tahu.


"Jika memang seperti itu, maka aku akan mendoakannya. Ia pria yang baik, Na. Ia juga harus hidup bahagia. Jika bahagianya bukan aku, maka aku akan turut berbahagia dengan keputusannya."


"Aku benar benar tak bisa mengikuti jalan pikiranmu, El."


"Mom juga berpikir sama seperti Dad," ucap Alexa.


"Mengapa?" tanya Nala dengan menautkan kedua alisnya.


"Karena aku akan menikahinya minggu ini juga! Aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku tak akan menunggu hingga aku lulus," ucap Nathan yang datang ke taman belakang rumah.


"Nath ..."


"Halo, bagaimana harimu?" Nathan berdiri di sebelah Edelweiss dan memcium pucuk kepala sahabat Nala itu.


"Aku baik."


"Oalahhh, ternyata ada yang bucin akut," ucap Nala sambil menggendong Agha.


Nathan memperlihatkan keseriusannya dengan membicarakan pernikahannya dengan kedua orang tuanya di dalam, sementara Nala terus bersama dengan Edelweiss di taman belakang.


"Kamu yakin, Nath?"


"Aku yakin, Dad, Mom. Bahkan sangat yakin. Aku tak ingin ia terus merasa rendah diri karena kondisinya. Aku juga telah menemukan seorang terapis yang bagus, yang akan menemaninya di rumah. Ia akan membantu mempercepat proses penyembuhan kaki Elis," jawab Nathan.


"Dad akan mendukungmu," ucap Michael sambil menepuk bahu Nathan.


"Mommy juga setuju, tapi ingatlah untuk menyelesaikan kuliahmu."


"Aku tak akan melupakan kuliahku, Mom. Dan izinkan aku untuk mulai bekerja di Alpenze Coorp. Aku ingin belajar mulai dari sekarang."


Melihat niat Nathan yang begitu besar, Michael dan Alexa sungguh bahagia. Putra kecilnya kini sudah tumbuh besar dan berpikiran dewasa melebihi usianya.


"Aku akan menikahinya akhir minggu ini dan semua sudah siap sembilan puluh persen."


"Siapa yang mengurus semuanya?" tanya Dad Michael.


"Uncle Ten," jawab Nathan.


"Kasihan dia, pasti berasa menikah lagi," ucap Michael sambil tertawa.


🧡 🧡 🧡