
Acara pernikahan One dan Nala telah siap. Hampir seluruh keluarga datang, kecuali yang memang berhalangan hadir. Yang menarik dari acara tersebut adalah sekumpulan pria dan wanita yang berpakaian hitam hitam yang tengah mengerubungi One saat ini.
"Ternyata oh ternyata .... Diam diam memikat hati Nona Nala," ujar Four yang langsung membuat One kembali digoda oleh rekan rekannya.
"Jadi, ini tujuanmu dulu menyusul Nala ke New York, One?" tanya Zero yang berdiri bersama sama dengan mereka.
"Pantas kamu tidak mau menggantikan Five dengan alasan ingin tetap di Jakarta, padahal ia mengincar Nona Nala," ujar Seven yang kembali membuat One menjadi materi candaan mereka.
"Sssttt ... Jangan menggodanya terus. Nanti dia tak mau menggantikanku lagi di Jakarta karena lebih betah di New York," ucap Five.
Suara tawa mereka bahkan terdengar sampai ke kamar tidur belakang yang dijadikan sebagai tempat Nala merias diri. Nala langsung bangkit dari duduknya dan berdiri di dekat jendela. Ia melihat One bersama rekan kerjanya di Black Alpha. Nala tersenyum melihat One yang tertawa bahagia. Bukankah itu berarti One sangat berbahagia karena akan menikah dengannya?
Acara pun segera dimulai. Para tamu sudah duduk di kursi kursi yang disiapkan dengan hiasan bunga di setiap sandarannya. Michael yang saat ini berada di dalam ruangan khusus bersama Nala, tersenyum pada putri satu satunya itu.
"Kamu masih kecil, sayang. Mengapa ingin menikah cepat cepat? Apa tidak ingin bermanja manja dengan Daddy hmm?" Nala langsung memeluk pria yang adalah cinta pertamanya itu. Michael tak pernah memarahinya. Ia adalah sosok seorang ayah yang selalu mengalah dan mencoba mencari cara untuk berbicara dengan putra putrinya. Ia selalu menginginkan yang terbaik untuk mereka. Jika Nala lebih dekat dengan Michael, berbeda dengan Nathan yang memang lebih banyak bercerita pada Alexa. Sementara Nicholas, ia side A side B. Kadang bisa meminta perlindungan Michael dan kadang meminta perlindungan pada Alexa, tergantung mana yang menguntungkan baginya. Sungguh, sifat Nicholas tak bisa ditebak sama sekali karena ia benar benar berbeda dengan Michael ataupun Alexa.
"Dad, jangan drama sedih sedihan lagi, kita bukan lagi syuting drakor," ucap Nicholas yang ditugaskan menemani ayah dan kakaknya itu.
"Ishh kamu ini, tidak bisa lihat Daddy ingin berlama lama. Daddy rasanya belum siap melepas kakakmu ini," ucap Dad Michael.
"Terlalu lama, Dad. Nanti keburu Uncle One yang tidak tahan dan malah membatalkan pernikahan ini," ucap Nicholas asal.
"Whatt?! Sembarangan kamu bicara, dasar adik tidak ada akhlak. Uncle One tidak akan melakukan itu," ucap Nala.
"Makanya cepat! Kakiku kesemutan nih," ujar Nicholas lagi.
Akhirnya mereka keluar dari ruangan tersebut. Nala melingkarkan tangannya di lengan Michael. Sungguh, tak pernah terbayang ia akan menikah muda, tapi ia sungguh berbahagia karena mendapatkan pasangan seperti One yang sangat menyayanginya dan selalu menjaganya.
One yang sudah berdiri di ujung karpet merah tersenyum saat melihat kehadiran Nala. Matanya bahkan tak berkedip melihat Nala tampil begitu anggun dan cantik. Yang tak bisa ia hindari, pikiran kotornya mulai melanglang buana saat melihat lekuk tubuh Nala yang terbungkus gaun putih nan indah itu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, hmm?" Ten yang berada persis di sebelah One kini menggoda rekannya itu sambil tersenyum smirk.
One berdecak kesal pada rekan kerjanya itu, "menggangguku saja."
"Mengganggu pikiran mesummu?"
One menoleh ke arah Ten, "awas kamu! Jangan sekali kali kamu berpikiran mesum pada istriku."
"Dasar posesif bucin akut!"
Michael memberikan tangan Nala pada One dan tentu saja sambil menatap pria yang akan menjadi menantunya itu dengan tatapan tajam khas bapak bapak.
"Dadd," ucap Nala berbisik.
"Ingat pesan pesanku semalam. Kamu membuatnya menangis, aku masukkan kamu ke dalam inkubator!" ucap Michael dengan tatapan tajam.
"Ya, aku mengingatnya dengan jelas. Aku tak akan membuatnya menangis, kecuali tangisan bahagia," ucap One.
Michael kini duduk di sebelah Alexa, berderet bersama Nathan dan Nicholas. Edelweiss sendiri duduk di sebelah Nathan karena pria itu yang memintanya. Michael akan berbicara dengan putranya itu dan memintanya untuk menceritakan semuanya, langsung dari bibirnya. Ia ingin putranya itu terbuka padanya.
Semua orang tampak berbahagia dan tersenyum, kecuali satu orang yang kini sudah berdiri agak jauh karena ia tak mendapatkan undangan. Ia menyamar menjadi salah satu petugas catering.
Dorrr
Sebuah tembakan dilepaskan ke atas ketika acara pengucapan janji pernikahan akan dilakukan. Edelweiss langsung menutup telinganya saat mendengar itu. Ia teringat bagaimana kedua orang tuanya diancam seseorang untuk segera meninggalkan Kota New York dengan senjata itu. Tubuhnya kembali bergetar dan Nathan yang menyadari hal itu, langsung memeluk dan menggenggam tangannya.
"Aku di sini," bisik Nathan.
"Kamu berbahagia, Na? Maka aku yang akan menghancurkannya!" Mata One dan Nala tertuju pada seorang wanita yang menggunakan pakaian berwarna hitam dan putih yang terlihat sebagai petugas catering.
Para anggota Black Alpha langsung sigap dengan senjata mereka dan membentengi One dan Nala, serta keluarga yang lain.
Edelweiss mengenali suara itu, "Fanta," gumamnya setengah berbisik.
Saat mengetahui bahwa Nala kembali ke New York, apalagi akan mengadakan acara pernikahan, Fanta langsung menghubungi seseorang untuk membantunya masuk ke dalam Kediaman Keluarga Nala.
Jika menggunakan tangan orang lain selalu saja gagal, maka Fanta akan menggunakan tangannya sendiri untuk menghancurkan kehidupan Nala.
Dorrr dorrr
Kembali Fanta melepaskan tembakan sebelum para anggota Black Alpha berhasil meringkusnya. One yang melihat tembakan mengarah pada Nala, langsung menarik Nala ke dalam pelukannya. Hingga akhirnya terdengar teriakan.
"Aghhh ...."
🧡 🧡 🧡