
Michael dan Alexa datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Amadea. Mereka tahu bahwa Amadea adalah salah satu dari genk F4 yang sempat mencelakai Nala, bahkan perusahaan orang tua mereka sudah diakuisisi oleh Keluarga Williams karena hal itu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Alexa pada seorang dokter.
"Tembakan itu mengenai perut dan organ hati nya. Ia mengalami pendarahan hebat dan saat ini dalam kondisi kritis. Tapi ...," dokter itu menghentikan ucapannya.
"Tapi apa?" tanya Michael.
"Saat pemeriksaan kemarin, kami menemukan bahwa pasien memang memiliki penyakit radang hati. Kami sudah memberitahu keluarganya tentang ini. Mereka hanya pasrah dan tak bisa berbuat apa apa. Mereka bahkan meminta kami mencabut semua alat penopang hidup untuk putri mereka karena tidak mampu membayar biaya."
"Jangan lakukan itu!" ucap Michael, "Lakukan sebaik yang kalian bisa, kami yang akan menanggung semua biayanya."
Sebagai seorang dokter, tak mungkin Michael membiarkan seseorang mati begitu saja, tanpa usaha dan perjuangan.
"Lakukan seperti yang suamiku inginkan, Dok."
Dokter pun menganggukkan kepalanya kemudian kembali ke ruangannya. Ia akan segera menghubungi Keluarga Amadea. Sesungguhnya, Keluarga Amadea tak ingin lagi berurusan dengan Keluarga Williams ataupun Keluarga Thomas. Kekacauan yang dibuat oleh putrinya, memang seharusnya ditanggung oleh putri mereka, demikianlah pikiran mereka.
*****
Matahari sudah masuk menyinari kamar tidur di mana sepasang pria dan wanita telah berbagi peluh semalaman. One dan Nala hanya melakukannya dua kali, setelah mandi dan sesaat sebelum matahari menampakkan sinarnya.
"Selamat siang, honey," ucap One sambil mencium pipi Nala. Istrinya itu masih saja memejamkan matanya meski tubuhnya sedikit menggeliat.
"Apakah ini sudah siang? Aku masih mengantuk," ucap Nala.
"Apa kamu ingin menghabiskan waktu di tempat tidur saja?" tanya One ambigu.
"Hmm ... Apakah bisa? Aku ingin di sini saja," jawab Nala tersenyum dengan mata terpejam.
"Tidak masalah, kita akan berada di atas tempat tidur seharian. Aku juga menyukainya," ucap One.
"Benarkah? Ah senangnya kamu begitu mengerti aku, honey," Nala mendekatkan dirinya pada One yang tentu saja sudah tersenyum penuh arti, apalagi anaconda miliknya sudah terbangun dan berdiri tegak saat ia mencium Nala.
"Na ..."
"Hmm ...," Nala terus saja mendusel dusel wajahnya ke dada One.
"Na ..."
"Hmm ..."
"Bertanggung jawablah," ucap One.
Mata Nala yang awalnya terpejam kini terbuka sempurna, "tanggung jawab apa? Apa karena aku mengambil keperjakkaanmu? Bukankah sudah kunikahi?"
"Lagi?"
"Hmm ... Kamu dekat dekat sih, dia jadi terbangun. Pokoknya setiap kali kamu menyentuhku, dia akan terbangun. Jadi ... Kamu harus bertanggung jawab untuk menidurkannya lagi," ucap One tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Kalau begitu hayo lah. Aku juga ingin lagi," ajak Nala dengan senyuman messumnya.
Mereka berdua pun kembali bergelung di balik selimut, bahkan melewatkan makan siang karena mereja merasa kenyang setelah saling menyantap.
*****
Setelah dari rumah sakit, Michael kini duduk di ruang kerjanya berhadapan dengan putra sulungnya, Nathan.
"Dad sudah mendengar dari Mommy apa yang kamu inginkan, Nath."
"Lalu?"
"Apa Dad bisa mengatakan tidak?" tanya Michael.
"Aku yakin Dad tak akan sejahat itu padaku," jawab Nathan.
Michael tertawa karena apa yang dikatakan oleh putra sulungnya itu benar adanya. Ia tak akan menghalangi cinta putranya karena ia tahu tipe seperti apa Nathan. Jika dilarang, maka Nathan akan mengambil tindakan sendiri dan itu kadang di luar perkiraan.
Michael tak ingin Nathan berbuat nekat ataupun aneh aneh, jadi mengijinkannya untuk kuliah di New York dan berada di dekan Edelweiss adalah solusi yang terbaik. Yang terpenting, Nathan masih mau belajar.
"Tentu saja Dad baik, memang kamu pernah melihat Dad marah?" tanya Michael.
"Pernah."
"Kapan?" tanya Michael yang diri sendiri tak ingat kapan ia pernah marah.
"Setiap kali Dad dipanggil ke sekolah oleh guru Nicholas," jawab Nathan.
Benar juga! Aku selalu kesal jika dipanggil oleh guru Nic. Lagian, anak itu selalu saja membuat ulah. Aku jadi sedikit tidak yakin dia itu anakku dan Alexa. Apa dulu aku salah ambil ya waktu di ruang bayi? - batin Michael.
"Itu Dad tegas, bukan marah," ucap Michael mengelak.
"Jadi ... Apa Dad setuju?"
Michael menghela nafasnya, "Hmm ... Asal kamu bisa bertanggung jawab pada pilihanmu. Dad tak ingin kuliahmu terabaikan dan Dad juga meminta padamu untuk membiarkan Elis untuk mandiri. Jangan selalu membantunya, karena ia juga pasti tak akan suka. Ia akan semakin merasa dirinya tak bisa apa apa dan akan merepotkan orang lain. Kamu mengerti, Nath?"
"Aku mengerti, Dad. Thank you."
🧡 🧡 🧡