
Makan malam itu terasa begitu sepi. Tak ada pembicaraan sama sekali, bahkan Nala yang biasanya banyak bicara kini hanya diam. Ia masih tak suka mendengar apa yang terjadi pada Edelweiss dan Nathan serta semuanya menutupi hal itu dari dirinya.
"Aku sudah selesai, aku ke kamar dulu," ucap Nala. Ia memutar kursi rodanya sendiri.
"Aku akan mengantarmu," ucap One.
"Tak perlu. Uncle di sini saja. Aku bisa melakukan semuanya sendiri."
One hanya bisa melihat kepergian Nala. Ia ingin menyusul, tapi pasti hanya akan membuat Nala semakin marah, apalagi setelah ia mengetahui keadaan Edelweiss yang sebenarnya.
"Bersabarlah, One. Emosi Nala sedang tidak baik baik saja. Aku harap kamu bisa mengerti," ucap Michael.
"Ya, aku mengerti."
Nathan tetap diam. Ia juga segera bangkit dari duduknya dan pamit untuk pergi ke kamarnya.
"Dad, apa ada yang bisa kita lakukan untuk Edelweiss?" tanya Alexa.
"Nathan sudah memberikan perawatan yang terbaik untuk Edelweiss. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya menunggunya untuk kembali sadar," jawab Dad Azka.
Mereka semua hanya diam dan tak bisa melakukan apa apa. Sementara itu di negara lain,
Terlihat sebuah pergerakan dari jari jemari yang sudah lebih dari setengah tahun itu tak bergerak. Seorang perawat yang melihat hal itu pun langsung menghubungi dokter. Mereka tak langsung menghubungi Nathan yang memang sebagai penanggung jawab, tapi berusaha melihat terlebih dulu bagaimana perkembangan Edelweiss.
"Dad ... Mom ...," suara Edelweiss terdengar begitu pelan, seakan tak memiliki kekuatan.
"Dok, ia berbicara," ucap salah seorang perawat.
"Monitor terus perkembangannya dan ingat jangan berikan penjelasan apapun padanya sementara ini karena berita mengejutkan bisa mempengaruhi otaknya," perintah sang dokter.
"Ya, kami mengerti."
Dokter tersebut keluar dari ruangan untuk mempersiapkan beberapa test yang harus dijalani oleh Edelweiss untuk memperlihatkan kondisinya terkini secara fisik.
"Dad ... Mom ...," kembali Edelweiss memanggil kedua orang tuanya. Namun, sama sekali tak ada jawaban.
*****
Kalau begitu aku pulang dulu. Aku harus segera berangkat. Jaga dirimu baik baik, okay. Aku menyayangimu, Na. - Nala teringat kalimat terakhir sebelum Edelweiss pergi dari ruang rawatnya kala itu. Sejak ia pergi, tak pernah lagi ada kabar dari sahabatnya itu.
Nala berdiam di teras kamar tidur di Kediaman Kakeknya, Azka Williams. Dari sana ia bisa melihat taman belakang di mana ada sebuah rumah kayu yang katanya dulu adalah milik Light, salah satu pamannya yang merupakan salah satu cucu kesayangan kakek buyutnya Axelle Williams.
"Kalau saja kaki dan tanganku tidak patah, saat ini aku sudah berada di auckland untuk menemuimu, El," gumam Nala.
Apa kamu tahu, El. Aku memiliki seorang sahabat lagi bernama Eleanor. Ia juga kupanggil El. Maaf jika saat itu aku begitu emosi dan ingin menggantikanmu dengannya. - Nala tertawa kecil sambil menatap ke arah langit malam yang tanpa bintang.
Sebuah suara ketukan di pintu tak terdengar oleh Nala. One masuk meskipun tak ada suara Nala yang mengijinkannya. Ia melihat Nala duduk sendiri di kursi roda dan berada di teras yang menghadap ke arah taman belakang, tanpa terganggu sedikit pun.
One berjalan mendekat, kemudian ia memegang kedua bahu Nala dan mencium pucuk kepala gadis yang telah memenuhi hatinya itu.
"Aku akan membawamu ke sana, Na," ucap One yang langsung membuat Nala memutar kursi rodanya.
"Benarkah? Uncle akan melakukannya untukku?" tanya Nala dengan mata berbinar.
"Ya. Bukankah kamu ingin ia cepat sadar? Kamu harus pamer padanya bahwa kamu akan segera menikah. Bukankah ia berjanji akan menjadi pendamping pengantin?"
"Uncle benar. Aku harus dekat dengannya dan berbicara banyak padanya. Aku tak bisa berdiam saja di sini dan menunggu ia sadar," ucap Nala.
"Lalu kapan kita berangkat, Uncle?" tanya Nala.
"Uncle akan mempersiapkan semuanya terlebih dulu. Uncle tidak yakin akan mendapatkan izin dari keluargamu, melihat kondisimu saat ini. Oleh karena itu, Uncle berencana mengajakmu secara diam diam. Jadi, bisakah kamu bekerja sama?"
Dengan cepat dan tanpa ragu, Nala menganggukkan kepalanya. Bahkan ia memegang pipi One dengan sebelah tangannya dan langsung mengecup bibir One. Hal itu tak di sia sia kan oleh One, ia langsung menahan tengkuk Nala dan memberikan ciuman yang lebih dalam.
"I love you."
Aku sudah berjanji akan membuatmu bahagia dan tak membuatmu bersedih. Untuk itu, aku akan melakukan apapun, selama itu tak membahayakanmu. - batin One.
🧡 🧡 🧡