
Hari ini Nala tak bekerja. Ia sudah meminta izin pada Rich untuk libur. Pasalnya ia ada quiz mata kuliah yang sedikit berat. Semalam ia tak sempat belajar, jadi ia baru akan belajar pagi ini.
Kejadian semalam membuatnya benar benar merasa lelah. Sudah lama tak menggunakan keahliannya, membuat tangan Nala sedikit sakit saat memukul gagang senjata yang terbuat dari logam itu.
Nala keluar menyambut sinar mentari. Ia tersenyum saat angin menerpa wajah dan membuat rambutnya terurai tertiup angin tersebut.
Dengan cepat Nala mencepol rambutnya, hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Ia tersenyum kemudian masuk ke dalam. Tanpa ia sadari, semua aktivitasnya sedang direkam oleh mata seorang pria.
Setelah selesai membersihkan diri serta sarapan, Nala keluar dari apartemennya. Ia menggunakan T-shirt, jeans, sepatu kets, dan tak lupa sebuah topi. Menuju kampus, Nala tak menggunakan mobil ataupun bus. Ia berjalan kaki.
Sambil bersenandung, ia berjalan sedikit cepat dengan langkah yang agak lebar. Nala pun melakukan aktivitas nya seharian ini tanpa hambatan sedikit pun.
Waktu menunjukkan pukul empat sore dan Nala telah sampai di apartemennya lagi. Nala masuk kemudian membersihkan diri. Yang ia inginkan saat ini hanya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan beristirahat. Bahkan ia tak masalah jika melewatkan makan malam.
Sebelum berbaring, seperti biasa sudah menjadi kebiasaan Nala untuk meminum segelas air putih. Ia pun pergi ke dapur dan menegak air tersebut. Belum sampai di kamar, matanya terasa begitu lelah. Ia bahkan hampir terjatuh kalau tidak berpegangan.
Bughhh
Nala terjatuh begitu saja, tapi dengan cepat sebuah lengan menahan tubuh Nala.
"Maafkan aku," gumam One yang menahan tubuh Nala.
Sebelum Nala sampai di rumah, One telah masuk ke dalam apartemen Nala. Gadis kecilnya itu bahkan tak mengganti password apartemennya, masih sama seperti saat ia menjadi bodyguard nya.
One menggendong Nala ke kamar tidur. Ia membaringkan gadis kecilnya itu di atas tempat tidur dan menyelimutinya. One memegang tangan Nala dan mengecup punggung tangan gadis kecilnya yang kini terlihat sangat cantik di matanya.
"Apa kamu tahu bahwa aku merindukanmu? Maafkan aku yang tak berani langsung bertatap muka denganmu. Aku memang pengecut yang tak mampu mengungkapkan perasaanku, bahkan harus menggunakan cara licik untuk bisa berdekatan seperti ini," One kembali mencium punggung tangan Nala yang kini tertidur akibat obat tidur yang dicampurkan oleh One ke dalam air putih yang ada di apartemen Nala.
One naik ke atas tempat tidur dan membawa Nala ke dalam pelukannya. Hatinya terasa nyaman dan tenang. Ia menghirup harum rambut Nala yang membuatnya selalu ingin berada di dekatnya.
"Apa kedua orang tuamu akan mengijinkan putrinya bersama dengan pria sepertiku? Bahkan kakekku saja membuang keluargaku dan tak mengakuiku sebagai cucunya," gumam One sambil mencium pucuk kepala Nala.
One menatap wajah Nala dan menyusurinya dengan jari jemarinya, kemudian menarik Nala ke dalam pelukannya. Malam itu, One ingin tidur bersama dengan Nala. Ia ingin melepas kerinduannya selama hampir dua bulan ini tak berada dekat dengan gadis yang ia sayangi.
*****
Nala mengerjapkan matanya pagi ini. Sinar mentari yang masuk melalui celah gorden seakan membangunkannya. Malam tadi, tidurnya sangat nyenyak sekali. Sudah lama rasanya ia tak pernah merasakan tidur begitu nyenyak, bahkan bisa dikatakan ia tidur saat masih sore dan sekarang sudah jam delalan pagi, ia baru terbangun.
Nala merentangkan kedua tangannya, ia tersenyum, "Aku rasanya bersemangat sekali untuk memulai hari ini."
Nala pun bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini ia akan langsung pergi ke cafe dan baru ke kampus di sore hari.
Saat selesai mandi, Nala menautkan kedua alisnya. Ia merasa sedikit aneh, tapi ia tak ingin terlalu memikirkannya. Ia segera menuju ke lemari dan memakai pakaiannya.
Nala akan sarapan di cafe karena Rich selalu menyediakan sarapan untuk seluruh pegawainya. Sebelum keluar dari unit apartemen, Nala kembali melihat sesuatu yang mengganggu pandangannya, tapi ia kembali menggelengkan kepalanya.
One kembali ke apartemen Nala dan menuju ke sebelah apartemen Nala.. Apartemen yang ditempati oleh One tepat di sebelah kanan apartemen Nala, sementara apartemen yang akan didatangi oleh One kali ini adalah yang berada di sebelah kiri Nala.
Ia langsung membuka pintu apartemen itu dengan mudah. Bagi seorang One, hal itu tidak lah sulit. Mata One memindai ke sekeliling dan mendapati sebuah senjata tajam di atas meja, serta sebuah senjata api yang terlihat masih baru.
Dengan sebuah saputangan, One mengambil kedua senjata tersebut dan memasukkannya ke dalam ransel yang ia bawa. Ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, ia pun duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu.
Nicole keluar dari kamar mandi dan memakai pakaiannya. Ia mengambil masker dan juga topi. Kali ini, rencananya tak boleh gagal. Ia harus membuat Nala membayar apa yang telah dilakukan hingga ia hidup susah saat ini.
Namun, mata Nicole membulat saat melihat seseorang sedang duduk di sofa ruang tamunya.
"Selamat pagi, Nona Nicole," ucap One.
"K-kamu?! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Nicole dengan wajah sedikit panik dan gelisah.
One tersenyum sinis, "seharusnya aku yang bertanya, mengapa anda berada di sini. Bukankah anda seharusnya ada di Kota New York?"
"Aku ada di mana, itu bukan urusanmu!!" teriak Nicole.
"Semua akan menjadi urusanku ketika kamu berniat menyakiti Nala, Nona Nicole," ucap One dengan tajam dan langsung pada intinya.
"Jangan macam macam! Aku bisa menghancurkanmu dengan mudah. Apa kamu tidak tahu siapa aku, hah?!" teriak Nicole lagi.
"Kamu itu seorang wanita, tapi tak bisa berkata kata dengan lembut. Aku tidak peduli padamu, apalagi pada keluargamu yang banyak melakukan korupsi itu. Seharusnya kalian bersyukur tidak masuk ke dalam penjara," ucap One mengingatkan Nicole.
"Sialannn!! Jangan berkata yang tidak tidak! Aku tidaj akan memaafkan Nala. Keluarganya yang telah membuat perusahaan keluargaku hancur dan hidupku menjadi sulit."
"Apa yang terjadi pada keluargamu dan perusahaan keluargamu, itu adalah kesalahan keluargamu sendiri. Justru keluarga Nala telah membantu perusahaan keluargamu, agar kalian tak terlunta lunta di jalan," ucap One dengan jelas agar Nicole mulai berpikir dengan jernih.
"Tidak!! Nala pasti dendam padaku, karena itu dia membalaskan semua dengan menghancurkan perusahaan keluargaku."
"Sadarlah, Nona Nicole. Apa aku perlu melaporkan tindakanmu semalam pada pihak kepolisian? Kalau kamu sampai berurusan dengan pihak polisi dan masuk ke dalam penjara, kira kira apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tuamu? Apa kamu tidak tahu kalau ayahmu menderita penyakit jantung? Apa kamu mau memberinya kabar buruk dan membuatnya anfal?"
"Daddy sehat!" ucap Nicole.
Tringggg
Suara ponsel Nicole berbunyi dan sebuah pesan video masuk. Di sana terlihat bagaimana ayahnya tengah menjalani perawatan karena kesehatannya menurun.
Tanpa banyak berpikir, Nicole langsung masuk ke dalam kamar dan membereskan semua barangnya. Ia berniat untuk segera kembali ke Kota New York.
"Terima kasih," ucap Nicole pada One sebelum ia meninggalkan apartemen itu.
🧡 🧡 🧡