
Keberadaan One di sini hanya karena ia merasa bersalah pada Nala. Kita tak berhak membelenggunya. Nala sudah sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa. Kita harus memulangkan One kembali ke Jakarta. Usia One bahkan sudah cukup untuk menikah. Kita tak mungkin membuatnya menjomblo hanya karena menjaga Nala.
Lagipula, itu semua bukanlah kesalahan One. Itu kesalahanku. Kalau saja aku tidak terlalu sibuk dan mau meluangkan waktu untuk mengajak putra putriku bermain, mungkin tak akan terjadi hal itu. Mereka bahkan berbohong untuk bisa pergi ke arena permainan itu.
Semua yang terjadi pada Nala adalah kesalahanku. Aku tidak ingin One yang menanggung semuanya. Kita harus melepaskan tanggung jawab One pada Nala.
"Tak bisa! Uncle tak boleh pergi dariku. Uncle hanya milikku, hanya untukku," gumam Nala saat ia sudah berada di dalam kamar tidurnya.
Ya, Nala tak ingin menyerah untuk mendapatkan cinta seorang Erwan Haskata.
"Aku akan terus mencoba menaklukkannya. Aku yakin aku bisa! 1 bulan, ya 1 bulan cukup untuk menaklukkannya, asal aku agresif, bukan begitu saudara saudara?!" ucap Nala di depan cermin untuk membangkitkan kepercayaan dirinya.
*****
Keesokan harinya,
"Sayang, Mommy dan Daddy harus kembali ke New York. Kamu di sini dengan One dulu, sebelum Mommy mencarikanmu bodyguard yang baru," ucap Alexa.
Nala menatap Mommynya. Ia sudah tahu bahwa Alexa akan mencarikan dirinya bodyguard baru, tapi Nala tak menyangka secepat ini. Bahkan semalam ia baru merencanakan akan dengan gencar mendekati Uncle tampannya itu.
"Bodyguard baru? Aku tidak mau, Mom!" Nala sudah pasti menolak.
"Sayang ...," Michael menatap ke arah Alexa, seakan memberi tanda untuk tidak membahasnya dulu. Mereka akan membicarakan ini dengan One juga.
Alexa menghela nafasnya pelan, ia pun diam dan tak melanjutkan perkataannya. Nala yang merasa mood nya telah rusak, kini bangkit dari duduknya.
"Aku selesai. Aku berangkat dulu, Dad, Mom," Nala mencium pipi Michael dan juga Alexa. Setelah itu ia langsung pergi.
Berdiri di depan pintu masuk, Nala melihat One yang kini tengah bersandar di pintu mobil sambil menatap ke sembarang arah. Tatapan pria matang dan dewasa itu seakan menyiratkan sesuatu.
"Uncle!" Nala langsung berlari dan memeluk One. Ia tak memberikan kesempatan One untuk menghindar. Namun, lagi lagi One tidak membalas pelukan itu.
"Ayo naik, nanti kita terlambat," ucap One.
One membukakan pintu untuk Nala, kemudian berjalan memutar menuju bagian kemudi. Dari dalam mobil, Nala terus memperhatikan gerak gerik One.
Apa Uncle benar benar tak memiliki perasaan suka sedikit pun padaku? Aku sudah sering memeluknya, bahkan aku pernah menciumnya. Namun, tak pernah sekali pun ia membalas. Ia hanya diam saja. Apa ia benar benar hanya terpaksa dan merasa bersalah seperti yang Daddy dan Mommy bicarakan kemarin? - batin Nala.
Saat One masuk ke bagian kemudi, Nala langsung membuka sepatunya dan berpindah ke kursi depan melalui bagian tengah kursi. Ia bahkan memindahkan tas yang biasa One letakkan di kursi depan itu.
"Nala, apa yang kamu lakukan?" tanya One.
"Aku mau duduk di sini, bosan duduk di belakang," jawab Nala sekenanya.
One tak memperpanjang masalah itu dan membiarkan Nala duduk di kursi depan. Nala tersenyum karena One tak memaksanya berpindah kembali ke belakang.
Di kursi depan, Nala duduk sedikit menyamping agar bisa memperhatikan One. Ia bahkan tersenyum sendiri saat menelisik seluruh bagian wajah One dari samping.
Semua titik di wajahmu adalah milikku. - batin Nala.
Karena terus memperhatikan One, Nala sampai tak menyadari bahwa ia telah sampai di kampusnya. Ia merasa perjalanan mereka terlalu cepat.
Mungkin aku harus menggunakan sepeda ke kampus, biar semakin terasa lama. Bahkan aku bisa memeluk Uncle dari belakang. - batin Nala sambil tersenyum sendiri.
"Na, kita sudah sampai," sekali lagi One memberitahukan pada Nala karena gadis itu sama sekali tak bergerak ataupun berniat keluar dari mobil.
Nala membuka pintu mobil setelah sebelumnya mengambil tas miliknya yang tadi ia letakkan di belakang, bersama dengan tas milik One. Nala tersenyum pada One dan dengan gerak cepat ia kembali mencuri.
"Uncle!"
Cupppp
Ia kembali mencuri sebuah ciuman dari pria di hadapannya itu. Nala kembali tersenyum kemudian keluar dari dalam mobil.
"I love you, Uncle!" teriak Nala sesaat sebelum ia menutup pintu mobil dan melangkah memasuki area kampusnya.
Na, sampai kapan aku harus menahan semua ini? Kamu terlalu jauh untuk kugapai. Ingin sekali membalas semua yang kamu lakukan, bahkan aku akan memberikan semua cinta yang ada dalam hatiku, tapi ... Aku harap kamu mengerti posisiku. Kalau saja kamu bukan Keluarga William, mungkin aku akan langsung membawamu pergi. - batin One yang memegang bibirnya serta daddanya, di mana jantungnya berdetak tak karuan sejak tadi.
One kembali melajukan mobil tersebut meninggalkan kampus Nala. Ia sedang diberi tugas oleh Nathan untuk memperhatikan gerak gerik Nicole dan seluruh anggota genk F4. Pasalnya mereka sedang mencari tahu tentang keberadaan Edelweiss dan ingin mencelakainya secara langsung.
*****
One kembali ke Kediaman Thomas. Baru saja ia dihubungi oleh Tuan Michael dan Nyonya Alexa. Mereka meminta One untuk mengantarkan mereka ke bandara.
Di dalam mobil,
"One, apa kamu betah bekerja di sini?" tanya Alexa.
One terdiam sesaat. Ntah apa yang sedang ia pikirkan. Baru saja ia mau menjawabnya, Alexa sudah melanjutkan perkataannya.
"Aku berniat mencari bodyguard baru untuk Nala, jadi kamu bisa kembali ke Indonesia. Apa kamu memiliki rekomendasi bodyguard yang cocok untuk Nala?"
One menatap ke spion tengah, "Aku betah," jawab One singkat. Ia ingin tetap berada di sana sampai Nala mendapatkan kebahagiaannya. Ia merasa terbeban jika meninggalkan Nala begitu saja.
"Apa kamu masih merasa bersalah dengan apa yang terjadi, One? Kami tak menyalahkanmu. Lagipula sudah saatnya Nala lepas dari sifat manjanya. Kami ingin ia lebih mandiri dan tak selalu merepotkanmu," ucap Michael. Michael sangat menyayangi Nala karena ia adalah putri satu satunya tapi ia juga tak ingin terlalu memanjakan Nala.
"Apa Tuan dan Nyonya menginginkanku untuk pergi dan meninggalkan Nala?" tanya One.
"Bukan begitu, One. Hanya saja kami juga harus sadar, bahwa kamu selalu memfokuskan kehidupanmu pada Nala, sejak ia kecil. Bukankah kamu juga harus memperhatikan dirimu serta kebahagiaanmu?" ucap Alexa.
Kebahagiaanku adalah Nala, memiliki cintanya, memiliki dirinya. - batin One.
"Kebahagiaanku adalah jika melihat Nala bahagia," ucap One, membuat Michael dan Alexa terdiam.
🧡 🧡 🧡