
Pagi hari, Nathan tak melihat keberadaan Nala dan One saat sarapan. Matanya memindau dan menatap tajam pada setiap orang yand ada di sana. Bahkan ia juga menatap tajam ke arah Ten, bodyguard yang diberikan khusus untuknya.
"Di mana Nala?" tanya Nathan to the point.
"Ia pergi," jawab Azka singkat.
Nathan langsung tahu bahwa Nala pergi ke Auckland untuk menemui Edelweiss. Ia segera bangkit dari kursinya dan ingin segera pergu dari sana dan kembali ke Auckland.
"Duduk, Nath!" ucap Azka.
"Aku harus kembali, Grandpa!" ucap Nathan.
"Duduk! Tak ada yang perlu kamu khawatirkan."
"Tidak bisa! Aku harus kembali ke sana. Edelweiss adalah tanggung jawabku," ucap Nathan.
"Tak ada siapa pun yang menjadi tanggung jawabmu, Nath. Kamu hanya perlu fokus belajar dan menyelesaikan studimu. Biar Edelweiss menjadi tanggung jawab Grandpa dan juga Nala."
Wajah Nathan berubah. Ia tak suka dengan apa yang dikatakan oleh Azka barusan. Ia pun akhirnya tetap tak mau duduk bersama untuk sarapan. Nathan kembali ke kamarnya, bahkan mengunci pintunya.
"Dad, apa tidak mengapa?" tanya Alexa.
"Tidak apa. Dia belum mengetahui bagaimana keadaan Edelweiss yang sebenarnya. Lebih baik Dad yang melarang, daripada ia ke sana dan meligat sendiri apa yang terjadi. Dad tak ingin ia berada di samping gadis itu hanya karena merasa kasihan," jawab Azka.
Alexa menghela nafasnya pelan. Michael menggenggam tangan Alexa dan menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia yakin dengan keputusan yang telah dibuat oleh Dad Azka.
Setelah selesai sarapan, Alexa tetap melangkah menuju kamar putranya itu. Ia mengetuk beberapa kali, tapi tetap tak dibukakan.
"Nath, boleh Mommy masuk?" tanya Alexa.
Beberapa kali juga Alexa memanggil, tapi Nathan tak menjawab. Tak mengapa ia membantah Ayahnya, asalkan hubungannya dengan putranya sendiri tak merenggang. Alexa akan menjelaskan semuanya dan membiarkan Nathan berpikir dan tak mengambil langkah yang salah.
Sudah lima belas menit Alexa berdiri di depan pintu. Ketika ia baru akan beranjak, terdengar bunyi kunci dibuka. Alexa tersenyum ketika melihat sosok Nathan di balik pintu itu.
"Masuklah, Mom. Maaf membuatmu menunggu."
"Tak apa, sayang. Mommy mengerti," ucap Alexa sambil memegang pipi Nathan dengan sayang.
Nathan duduk kembali di atas tempat tidurnya. Nala bisa melihat ada sebuah buku dalam posisi tertelungkup, yang pastinya sedang dibaca oleh Nathan. Sifat Nathan berbanding terbalik dengan Nicholas. Nicholas lebih ceria dan supel, kadang membuat Alexa justru pusing dibuatnya.
"No, Mom," Alexa bisa melihat wajah Nathan yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu.
"Apa kamu tak menyukai keputusan yang dibuat oleh Grandpa?"
Nathan menatap ke arah Alexa dan dengan cepat menganggukkan kepalanya. Alexa tersenyum dan duduk lebih dekat pada Nathan.
"Grandpa hanya tak ingin kamu mengambil keputusan yang salah, sayang. Semua yang Grandpa lakukan adalah demi kebaikanmu."
"Edelweiss adalah tanggung jawabku, jadi tak ada yang berhak untuk mengambilnya dariku."
"Nathan, tak ada yang berhak atas diri Edelweiss. Ia adalah milik dirinya sendiri. Kamu bukan siapa siapa baginya."
"Ia adalah kekasihku, Mom," jawab Nathan akhirnya.
Alexa tersenyum, ia tak kaget akan apa yang dikatakan oleh Nathan. Dad Azka telah memberitahu padanya semua hal tentang hubungan Nathan dengan Edelweiss.
"Kamu bukan kekasih sesungguhnya. Kamu hanya menggunakan dirinya untuk membantumu menghindar dari para gadis yang ingin dekat denganmu. Jika Nala sampai tahu kamu menggunakan Edelweiss untuk kepentinganmu, Mommy yakin ia akan sangat marah."
Nathan melihat ke arah Alexa dan menghela nafasnya pelan, "Aku akan kembali ke Auckland, Mom."
"Kembalilah pada tujuanmu untuk kuliah di Oxford."
"Apa yang sebenarnya Mom ingin katakan?" Nathan menangkap sesuatu hal yang ingin Alexa katakan tapi ditahan.
Alexa menghela nafasnya pelan kemudian menatap Nathan, "Nala akan membawa Edelweiss ke New York. Di sana kami akan memberikannya pengobatan terbaik dan mencarikan donor mata untuknya."
"Apa maksud Mom?" tanya Nathan.
"Edelweiss sudah sadar sejak dua hari yang lalu, tepatnya hari di mana kamu kembali ke sini. Dokter telah memeriksanya dan ... Edelweiss dinyatakan tak dapat melihat, hingga ia bisa mendapatkan donor mata. Kedua kakinya juga belum bisa digerakkan, jadi dokter menyatakan ia lumpuh."
Nathan yang awalnya berdiri, kini kembali terduduk di atas tempat tidurnya. Ia tak menyangka keadaan Edelweiss akan separah itu.
"Aku akan tetap menemuinya, Mom," ucap Nathan.
Alexa tak dapat mencegah putranya itu pergi. Kini semua keputusan ada di tangan Nathan, tapi yang terpenting jangan sampai ia menyakiti hati Edelweiss.
🧡 🧡 🧡