Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
MEMPERSIAPKAN DIRI



Kehamilan Nala menjadi berita yang sangat membahagiakan untuk keluarga, terutama untuk One. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, ia berhasil memproduksi bayi.


Keluarga Williams juga turut berbahagia, apalagi Azka dan Mia, di mana anak One dan Nala akan menjadi cicit pertama mereka.


"Kita akan ke tempat Daddy hari ini," ucap One setelah mengetahui bahwa Nala terlambat datang bulan dan memeriksanya dengan test pack.


"Tapi aku ada kuliah hari ini," ucap Nala.


"Aku akan menemanimu kuliah, setelah itu kita ke tempat Daddy," ucap One.


Mendengar One akan menemaninya kuliah, tentu saja membuat Nala senang dan menampilkan senyum di wajahnya. Ia langsung turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.


One sendiri telah menyelesaikan mandinya dan kini ia mulai mengganti pakaian. Ia tak akan pergi ke Alpenze Coorp hari ini, jadi ia hanya menggunakan setelan santai berupa T-shirt berkerah dan celana jeans.


Nala yang keluar dari kamar mandi terpesona dengan penampilan One yang terlihat seperti anak muda. Ia langsung mendekati One dan memeluknya.


"Kamu ingin menggoda gadis gadis di kampusku, hmm?" tanya Nala.


One tertawa melihat bibir Nala mencebik. Ia pun mengecupnya berkali kali, membuat Nala akhirnya tersenyum.


"Jangan memikirkan hal hal seperti itu, tidak baik untuk kehamilanmu. Percayalah bahwa aku tak akan pernah berpaling."


Bisa bisa aku digorok satu keluarga kalau sampai menyakitimu. Itu mengerikan! Jadi, mencintai dan menyayangimu akan menjadi hal terindah dalam hidupku. - batin One.


*****


"Aku menemukan donor mata untukmu," ucap Nathan pada Edelweiss.


"Benarkah?"


"Hmm ... Tapi kita harus melakukan pemeriksaan untuk melihat kecocokannya," jawab Nathan dan Edelweiss hanya menganggukkan kepalanya.


Selama dua bulan ini, Edelweiss telah terbiasa melakukan apapun sendiri di dalam kamar tidurnya. Ia memang jarang keluar karena merasa lebih nyaman di dalam kamar karena ia tak mau merepotkan orang lain.


"Terima kasih," ucap Edelweiss.


"Kamu tak perlu berterima kasih padaku. Aku akan melakukan apapun untuk calon istriku, hmm ..."


Cuppp


Kali ini Nathan mencium Edelweiss tepat di bibirnya. Singkat, tapi menimbulkan getaran di tubuh keduanya. Edelweiss terdiam sesaat, kemudian ia memundurkan tubuhnya sedikit karena kaget.


"Nath ..."


Nathan menggenggam kedua tangan Edelweiss kemudian mencium punggung tangannya, "Kita akan melakukan pemeriksaan nanti sore, okay. Sekarang aku akan pergi kuliah dulu. Saat aku lulus nanti, aku akan langsung meminta Dad dan Mom untuk menikahkanku denganmu."


"Tapi ... Aku ..."


"Kamu akan sembuh dan seperti sedia kala. Jika tidak pun, aku akan tetap menikahimu."


POV NATHAN


Hari itu, pertama kalinya aku melihat seorang gadis yang selalu terdiam di sudut ruang kelas. Ia selalu menundukkan kepalanya dan membetulkan kacamata miliknya. Sesekali, aku melihat siswa siswi lain menghampirinya, kemudian memberikan sebuah kertas kerja padanya. Tak lama, mereka akan kembali dan mengambil kertas itu darinya.


Pernah sekali waktu, aku melihatnya dibully di belakang sekolah karena salah seorang dari pembully itu mendapatkan nilai jelek dalam ujiannya. Ia marah karena mengira Edelweiss sengaja memberikan jawaban yang salah padanya.


Hari berganti hari dan hal seperti itu seakan menjadi kebiasaan ku di sekolah. Sampai akhirnya aku melihat Genk F4 menyiram Edelweiss dengan air seember penuh. Aku sudah melangkahkan kaki ku untuk membantu, tapi ternyata kembaran Nala sudah lebih dulu berada di sana. Ia bahkan memberikan sedikit pelajaran pada Genk F4 Itu. Aku sedikit lega karena ada Nala di sana.


Sejak hari itu, Nala terlihat dekat dengannya, membuatku semakin sulit mendekatinya. Padahal Nala jadi lebih sering membawanya ke rumah, tapi hal itu justru membuatku merasa semakin jauh darinya.


Ya, tanpa siapa pun ketahui pikiran dan hatiku selalu tertuju padanya. Banyak gadis yang mencoba menarik perhatianku dan ingin aku menjadi kekasih mereka, tapi aku selalu beralasan kalau aku memiliki kekasih.


Hingga suatu hari, aku melihatnya termenung seorang diri di salah satu kursi di sebuah taman. Saat itu aku sedang menuju ke minimarket yang berada tak jauh dari tempat les ku. Aku pun menghampirinya.


"Edelweiss," sapaku.


"Nathan, kamu di sini," sapa Edelweiss kala itu.


"Hmm ... Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"


"Tidak ada, aku sedang duduk saja."


"El, maukah kamu membantuku?" tanyaku lagi.


"Membantumu? Tentu saja! Aku akan membantu keluarga Nala. Ia telah banyak membantuku."


"Jadilah kekasihku."


"Kekasihmu? Untuk apa?"


"Ini hanya pura pura. Aku malas jika harus menghadapi gadis gadis di tempat les yang mendekatiku. Aku ingin kamu berpura pura menjadi kekasihku. Tapi, jangan sampai Nala tahu."


Saat itu aku ingin menjeratnya dengan menjadi kekasih pura pura. Siapa tahu nanti bisa menjadi kekasihku yang sesungguhnya.


Hingga akhirnya aku mengikutkan Edelweiss ke dalam les yang kuikuti dan selalu duduk di sampingnya. Tak ada lagi yang mendekatiku sejak itu. Namun, tanpa kuketahui, ternyata ia semakin mendapat bully an di luar jam les.


Hingga akhirnya di acara kelulusan, Nala mengalami musibah dan secara tak langsung aku menyalahkannya. Aku tak menemuinya lagi sejak itu karena merasa kesal, meski aku tahu yang melakukan semuanya adalah Genk F4. Ia pun pergi untuk melanjutkan kuliahnya di Toronto, setahuku.


Namun, Nala yang uring uringan karena tak mendapat kabar darinya, membuatku juga mencari tahu. Saat mendengar ia tak ke Toronto tapi ke Auckland dan ia mengalami kecelakaan dan tengah dirawat, hatiku langsung hancur berkeping keping.


Saat itu aku semakin yakin kalau perasaanku padanya sudah lebih dalam dari sebelumnya dan bukan hanya perasaan cinta monyet seorang A B G.


Ketika ia sudah sadar, harapanku seakan kembali terbang. Namun kembali jatuh ketika mengetahui bahwa ia tak bisa melihat dan berjalan. Saat kembali melihat senyuman lembut miliknya, hatiku serta harapanku pun kembali seperti sebelumnya. Aku harus memilikinya, apapun yang terjadi.


END POV


*****


Dad Michael mulai menggerakkan transducer ke atas perut putrinya sendiri. Ia tersenyum saat melihat sesuatu berwarna hitam berbentuk bijii di sana.


"Lihatlah itu, One, Na. Itu adalah calon anak kalian," ucap Dad Michael dengan mata berkaca kata. Ia sungguh bahagia bisa melihat calon cucunya.


Ya ampun, sepertinya aku harus segera mempersiapkan diri. Tak sampai sembilan bulan lagi, akan ada yang membuatku dipanggil Grandpa. Aku kan masih muda. Hebat sekali aku bisa jadi Hot Grandpa. - batin Michael sambil tersenyum haru.


🧡 🧡 🧡