Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
EXTRA PART (2)



Satu minggu berlalu,


Pagi ini, Edelweiss yang memang terbiasa bangun pagi, langsung melihat beberapa orang wanita masuk ke dalam kamar tidurnya. Ia menautkan kedua alisnya karena masih bingung.


"Nona, kita harus bersiap siap."


"Bersiap siap?" tanya Edelweiss.


Salah satu wanita itu tersenyum, "Bukankah anda akan menikah hari ini, Nona?"


Jadi Nathan benar benar menikahiku hari ini? Aku kira ia hanya ingin menepis obrolan kami waktu itu. - batin Edelweiss.


Mereka membantu Edelweiss membersihkan diri, merias wajahnya, kemudian memakaikan gaun berwarna putih yang terlihat begitu cantik dan anggun.


Ya Tuhan, apakah ini kenyataan. Segera bangunkan aku jika ini hanya mimpi. Aku tak ingin larut dalam kebahagiaan semu. - batin Edelweiss lagi.


Lamunannya terhenti ketika Alexa masuk ke dalam kamar tidur Edelweiss, "Kamu cantik sekali, sayang."


"Aunty, apa aku tidak bermimpi? Aku takut jika nantinya aku hanya menyusahkan Nathan."


Alexa tersenyum dan mengusap bahu Edelweiss, "Ia mencintaimu dan juga menyayangimu. Ia sangat yakin bahwa kami bisa berjalan lagi dan menjadi seorang istri yang sempurna. Jadi, jangan cemberut. Ia lebih suka melihatmu tersenyum."


"Terima kasih, Aunty. Aku berjanji tak akan mengecewakannya."


"Dan mulai sekarang panggil aku, Mom."


Edelweiss tersenyum, "Mom."


"Ayo kita keluar. Mereka sudah menunggumu."


Alexa mendirong kursi roda Edelweiss ke bagian depan rumah. Mereka akan pergi ke tempat perhelatan acara. Sesampainya di sana, seluruh keluarga telah hadir. Mereka menyambut kedatangan Edelweiss dengan senyum dan kebahagiaan di wajah mereka.


Axton berjalan mendekati kursi roda Edelweiss yang didorong oleh Alexa.


"Uncle yang akan menemanimu ke depan, okay," ucap Axton.


Edelweiss tak dapat membendung rasa bahagia yang ia terima. Bagaimana mungkin seorang gadis lumpuh yatim piatu sepertinya mendapatkan banyak perhatian yang sangat tulus.


"Thank you, Uncle," ucap Edelweiss.


"Hei, jangan menangis, nanti riasanmu luntur," goda Axton mengambil saputangannya dan menekannya pelan di bagian ujung mata Edelweiss.


"Mom masuk ke dalam dulu ya."


Alexa masuk ke dalam dan mempersiapkan semuanya, sementara Axton yang kini mendorong kursi roda Edelweiss.


"Tenanglah, Nathan adalah pria yang baik. Ia hanya masih muda saja. Uncle yakin semakin hari ia akan semakin mencintai dan menyayangimu."


Kursi roda Edelweiss didorong di atas sebuah karpet merah oleh Axton. Nathan yang berdiri di ujung karpet bersama kedua orang tuanya, tersenyum saat melihat Edelweiss. Semua yang hadir di sana terpana dengan senyuman yang diberikan oleh Nathan untuk Edelweiss, pasalnya ia hampir tak pernah tersenyum.


"Nath, sayangi dan jaga dia selalu. Uncle tahu kamu bisa melakukannya," ucap Axton dan menepuk bahu keponakannya itu. Dua orang keponakan kembarnya telah menikah. Ia melirik ke arah putranya Alexander dan putri kecilnya Ava. Rasanya Axton belum rela melepas mereka untuk berkerluarga, apalagi, ia sempat kehilangan waktu untuk Alexander.


Nathan meraih tangan Edelweiss dan membantunya untuk berada tepat di depan pemuka agama untuk mengucapkan janji pernikahan mereka.


Setelah di sah kan menjadi sepasang suami istri, mereka menandatangani surat surat pernikahan secara agama maupun negara. Nathan tersenyum dan mencium kening Edelweiss dengan dalam. Kini, gadis di hadapannya itu adalah miliknya. Ia tak akan pernah pergi darinya dan tak akan ada yang bisa mengambil Edelweiss darinya, bahkan tak akan ada yang akan melarangnya lagi jika ia berdekatan dengan istrinya itu.


Para tamu yang datang, yang hampir semuanya adalah keluarga, memberi selamat pada Nathan dan Edelweiss. Mereka juga berfoto bersama.


"El, congratulation! Adik ipar!" ucap Nala yang membuat wajah Edelweiss memerah.


"Apa yang adik? Usiaku sama denganmu," ucap Nathan tak suka.


"Meski hanya beda beberapa menit, aku tetap keluar duluan," Nala tak terima.


"Honey ...," One yang tengah menggendong Agha merangkul istrinya itu, agar tak bertengkar dengan Nathan, sementara Edelweiss hanya bisa tersenyum setiap kali melihat keduanya bertengkar.


"Aku mau foto berdua denganmu," ujar Nala, "Honey, fotokan aku dengan Elis."


One memotret keduanya dengan menggunakan ponsel Nala. Setelah selesai, Nala langsung mengunggahnya ke media sosial dengan judul 'My best friend My sister in law' ditambah dengan emoticon berbentuk hati.


Mereka mengadakan jamuan makan malam khusus keluarga, yang bertempat di ruang VIP sebuah restoran mewah. Acara tersebut berjalan dengan lancar dan kini mereka semua telah kembali ke rumah dan juga hotel.


*****


Di dalam kamar hotel yang terletak di lantai teratas, di mana mereka bisa melihat pemandangan Kota New York, Nathan hanya tinggal berdua dengan Edelweiss.


Sungguh, suasana ini membuat Edelweiss canggung, apalagi ia ingin membersihkan dirinya. Biasanya, ada seorang perawat yang membantunya, tapi kini ... Apa ia harus meminta bantuan Nathan?


"Kamu ingin mandi sekarang?" tanya Nathan.


"Hmm ... Bawa aku ke kamar mandi saja, nanti aku mandi sendiri," ucap Edelweiss.


"Jangan memaksakan diri. Aku ada di sini dan aku suamimu sekarang. Jadi, tak ada salahnya jika aku membantumu."


Dengan perlahan Nathan menggendong Edelweiss. Ia mendudukkan Edelweiss di sebuah kursi yang memang sengaja Nathan minta letakkan di kamar mandi. Nathan menarik resleting gaun yang dikenakan Edelweiss. Setelah selesai dan hanya tinggal dalaman saja, Nathan menggendongnya, kemudian meletakkan Edelweiss di dalam bathtub yang sudah diisi oleh air hangat.


Saat Edelweiss sudah berada di dalam bathtub. Di dalam bathtub, baru lah Nathan membuka pakaian dallam yang dikenakan oleh Edelweiss. Nathan tahu bahwa Edelweiss masih canggung dengan apa yang ia lakukan saat ini. Oleh karena itulah ia ingin Edelweiss merasa nyaman.


"Terima kasih," ucap Edelweiss. Meskipun ia malu, tapi ia sangat berterima kasih atas apa yang telah dilakukan oleh Nathan.


Setelah memastikan Edelweiss nyaman, Nathan membuka pakaiannya sendiri dan langsung ikut masuk ke dalam bathtub. Ia duduk persis di belakang Edelweiss, membuat gadis itu terdiam.


"Tenanglah, aku hanya ingin membantumu. Aku tak akan berbuat macam macam ... Untuk saat ini. Aku hanya akan memastikan kamu nyaman bersamaku."


Ntah kalimat apa lagi yang harus Edelweiss katakan. Rasanya Nathan terlalu baik untuknya. Ia menoleh ke belakang, menatap mata Nathan.


"Terima kasih, maaf," ucap Edelweiss.


Nathan tersenyum dan membuat pria itu semakin tampan saja. Melihat itu, tanpa sadar Edelweiss membenamkan bibirnya ke bibir Nathan. Tak ingin hilang kesempatan, Nathan menahan tengkuk Edelweiss dan memperdalam ciumannya.


🧡 🧡 🧡