Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
KAMU YANG MEMULAINYA



Setelah menghabiskan waktu selama dua minggu di Maldives, One dan Nala kembali ke New York. Apa yang terjadi pada Kenji Haskata dan perusahaannya, sama sekali tak mempengaruhi keduanya karena Azka telah terlebih dulu menyelesaikannya.


Nala kini kembali kuliah ke salah satu universitas di New York, sama seperti Nathan. Yang membedakan keduanya adalah tempat mereka akan kembali pulang. Nathan pulang ke Kediaman Keluarga Thomas, sementara Nala akan kembali ke rumahnya bersama One.


Ya, One membeli sebuah rumah tak jauh dari universitas. Hal itu agar Nala tak perlu pergi pulang terlalu jauh dan memakan waktu. Meskipun bukan rumah besar seperti milik kedua orang tuanya, tapi Nala sangat bahagia karena One memberikan cinta dan sayang seperti yang Nala terima dari kedua orang tuanya.


Hanya satu hal yang disayangkan oleh Nala, yakni ia harus berjauhan dengan Edelweiss, sahabatnya. Hari ini, Nala akan mengunjungi Edelweiss. Ia ingin membicarakan hal penting pada sahabatnya itu.


"El," sapa Nala saat melihat Edelweiss duduk di kursi rodanya di teras belakang Kediaman Keluarga Thomas.


"Na, kaukah itu?" Edelweiss yang tadinya diam dengan wajah sendu, kini merubah rautnya menjadi tersenyum.


"Ya, ini aku. Aku merindukanmu. Maaf baru datang. Aku belum lama kembali dan harus mengurus beberapa hal di kampus."


"Tak masalah, Na. Aku mengerti. Aku juga merindukanmu," ucap Edelweiss.


"Apa Nathan mengganggumu?" tanya Nala yang juga baru mengetahui bahwa Nathan memindahkan kuliahnya ke New York agar bisa berada dekat dengan Edelweiss.


Edelweiss tersenyum seperti biasanya, "tidak sama sekali, Na. Ia tak menggangguku. Ia malah banyak membantuku."


"El, maaf kalau aku banyak bertanya. Sebenarnya ... Apa hubunganmu dengan Nathan? Sejujurnya aku tak pernah melihatnya dekat dengan gadis mana pun, tapi denganmu ....," Nala menghela nafasnya sesaat, "sebenarnya aku tak masalah jika kamu memiliki hubungan dengan Nathan. Namun aku tak ingin jika ia menyakitimu. Aku sayang padamu, El."


Edelweiss memegang tangan Nala dan kembali tersenyum, "Kamu tenang saja. Ia tak pernah menyakitiku sama sekali, Na."


"Itu juga adalah harapanku. Oya, bukankah hari ini kamu ada jadwal terapi untuk kakimu?" tanya Nala.


"Ya, dan Nathan yang akan mengantarku," jawab Edelweiss.


"Biar aku saja."


"Aku tak mau mengganggu pengantin baru ... Nanti keponakanku jadinya lama lagi," goda Edelweiss.


"El! Kamu membuatku malu!" wajah Nala memerah dan ia langsung menutup dengan kedua telapak tangannya.


Tak berselang lama, terdengar suara langkah kaki. Edelweiss tersenyum karena ia tahu langkah kaki siapa yang sedang berjalan ke arah mereka, sementara Nala menolehkan kepalanya.


"Kamu sudah siap, El?" tanya Nathan.


Nala menatap Nathan dengan tajam. Sebenarnya ia ingin Nathan menjelaskan apa hubungan antara dirinya dengan Edelweiss sahabatnya, tapi tak mungkin ia menahan waktu terapi Edelweiss.


"Aku perlu bicara denganmu nanti, Nath!" ujar Nala.


"Hmm ...," jawab Nathan singkat.


Nathan memang selalu seperti itu dengannya, irit bicara. Padahal mereka adalah saudara kembar yang seharusnya sehati sejiwa seperasaan, tapi mengapa ia selalu merasa banyak perbedaan di antara dirinya dengan Nathan.


"Aku akan menunggumu di sini," ucap Nala.


"Hmm ...," jawab Nathan lagi.


"Ayo, kita harus berangkat," ucap Nathan.


"Aku pergi dulu, Na," ucap Edelweiss.


"Ya, aku akan menemani Mommy sambil menunggu suamiku datang menjemputku. Tapi ingat Nath! Aku tak akan pulang sebelum kamu kembali dan menjelaskan semuanya," ujar Nala.


"Hmm ..."


Saat sampai di teras, Nathan menggendong Edelweiss dan mendudukkannya di kursi belakang mobil. Setiap kali ia pergi terapi,maka Nathan akan menggendongnya ke mobil.


Cupp


Satu kecupan selalu Nathan sematkan di kening Edelweiss, tanda bahwa ia sangat menyayangi gadis itu. Ia tak ingin Edelweiss merasa bahwa semua yang Nathan lakukan hanya karena rasa kasihan.


Setiap kali Nathan melakukan itu, jantung Edelweiss berdebar dengan cepat. Bahkan ia takut kalau kalau Nathan bisa mendengarnya.


"Kita berangkat, Uncle," ucap Nathan setelah ia masuk ke dalam mobil dari sisi pintu yang satunya lagi. Di balik kemudi, Ten telah siap untuk berangkat.


Ten sungguh senang ketika Nathan mengambil keputusan untuk tetap berada di New York. Meskipun ia akan bekerja cukup sibuk, tapi ia masih bisa menyempatkan waktu untuk pulang menemui istri dan anaknya.


*****


Dua bulan terlewati,


Waktu telah menunjukkan pukul delapan pagi dan Nala masih lekat dengan bantalnya. Ia bahkan terus memeluk One dan tak mengijinkan suaminya itu untuk pergi.


"Aku harus pergi bekerja dulu, honey," ucap One. Hari ini sudah dipastikan ia akan terlambat karena tak akan sempat mandi dan menempuh perjalanan ke Alpenze Coorp dalam waktu setengah jam.


"Bisakah hari ini tak bekerja?" tanya Nala.


"Apa kamu sakit?" One tiba tiba menjadi khawatir dan langsung memegang kening Nala, "tidak panas."


"Aku tidak sakit."


"Bukankah hari ini kamu ada kuliah jam sepuluh?" tanya One.


"Hmm ... Tapi aku sedang tak ingin masuk. Aku ingin di rumah dan memelukmu saja," ucap Nala yang masih memejamkan matanya dan memeluk One dengan erat.


One merasakan sesuatu mengeras di bagian bawahnya dan ini tidak baik. Bukan apa apa, jika itu terjadi, maka menuntaskannya akan butuh waktu, apalagi jika Nala tak membantunya.


"Honey ...," ucap Nala mendessah, membuat tubuh One semakin menegang dan pada akhirnya ia tak mampu menahannya lagi.


"Kamu yang memulainya, Na. Maka mari kita tidak ke mana mana hari ini," ujar One yang langsung memberikan ciuman panas pada istri kecilnya itu.


🧡 🧡 🧡