Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
TAMAT RIWAYATMU, KENJI!



Dengan menggunakan helikopter, Nala dibawa ke rumah sakit, sesampainya mereka di bandara. One tak pernah pergi dari sisi gadis kecilnya. Rasa bersalah yang sudah mulai menghilang karena melihat Nala tumbuh dengan baik, bahkan berganti dengan rasa cinta, kini kembali datang.


Ingin sekali rasanya One membuat perhitungan secara pribadi dengan pria bernama Kenji Haskata itu. Namun, Azka Williams tak mengijinkannya dan memintanya hanya fokus pada Nala.


One menunggu di depan ruang pemeriksaan, sementara para dokter sedang melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada Nala.


"Kamu sudah makan, One?" tanya Zero yang duduk di sebelahnya.


"Aku tidak naffsu makan, Kak," jawab One.


Zero menepuk bahu One, "bagaimana kami bisa menjaganya jika kami tidak bisa menjaga dirimu sendiri, hmm? Atau kamu ingin melihatnya terluka dan menangis saat melihat keadaanmu yang tidak baik baik saja?"


One kembali menoleh dan menatap mata Zero, pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.


"Ini semua kesalahanku, Kak. Nala selalu terluka karena aku," ucap One.


Zero menghela nafasnya pelan. Ia seperti kembali mengulang kejadian sepuluh tahun yang lalu, di mana Nala terluka karena bermain di arena permainan di dalam Mall. Saat itu, One lah yang menjaga Nala, Nathan, dan Nicholas.


"Tenangkan dirimu dan yakinlah, ini bukan kesalahanmu. Kamu benar benar mencintai Nala?" tanya Zero.


"Ya, bahkan sangat. Aku sudah mencintainya sejak usianya 15 tahun. Hanya saja aku takut menunjukkannya. Aku tak ingin memaksakan perasaanku, apalagi aku tahu siapa diriku dan siapa Nala. Kami sungguh berbeda," jawab One.


"Kamu seperti orang baru yang tak pernah mengenal Keluarga Williams. Mereka tak pernah membeda bedakan kita. Bahkan mereka selalu menganggap kita keluarga."


"Di saat keluarga kita sendiri membuang kita," lanjut One.


"Kamu tak ingin kembali ke Jepang dan memimpin Perusahaan Haskata?" tanya Zero.


"Tidak. Aku bukanlah orang yang mampu memaafkan begitu saja. Ia hidup bergelimang harta dan membuang kedua orang tuaku. Bahkan menghina ibuku. Aku tak akan dengan mudah memaafkannya, apalagi membantunya. Bukankah dia masih memiliki banyak cucu yang ia sayangi, yang lahir dari menantu menantu pilihannya?" ucap One.


"Terserah padamu. Aku percaya dengan pilihanmu. Namun yang terpenting saat ini adalah Nala. Aku sendiri yang akan mempersiapkan pernikahan kalian," ucap Zero sembari bangkit dari duduknya.


"Apa Tuan Azka benar benar bersungguh sungguh?"


Zero terkekeh, "Apa kamu pernah melihatnya bercanda dalam hal se serius itu?"


One menggelengkan kepalanya, membuat Zero tertawa.


"Lalu di mana Tuan Azka dan Tuan Axton?"


Ia tak pernah merasa setegang ini, tapi sekarang mendengar nama Michael dan Alexa, ia seperti akan bertemu dengan hakim pengadilan.


*****


Nala telah dipindahkan ke ruang perawatan. Michael dan Alexa pun telah tiba di Jakarta, setelah menempuh sekitar 20 jam perjalanan. One pun segera berpindah dari kursi di samping Nala, ke sofa yang ada di dalam ruangan itu juga.


Alexa memegang tangan Nala, kemudian menoleh pada Dad Azka yang juga masuk ke dalam ruangan bersama Axton.


"Apa kata dokter, Dad?" tanya Alexa.


"Ada retak di tengkorak kepalanya. Itu mungkin akibat pukulan yang ia terima. Nala mengalami gegar otak dan ada kemungkinan ia akan mengalami amnesia," jawab Azka.


Alexa tak dapat menahan tangisnya dan itu semakin membuat One merasa bersalah.


Amnesia? Apa ia akan melupakan semuanya? Apa ia akan melupakanku? - batin One.


"Bolehkah aku izin keluar sebentar," pinta One. Ia merasa tak enak jika terus berada di dalam ruangan tersebut. Ia ingin mendinginkan kepalanya, menjernihkan pikirannya, dan menenangkan hatinya.


One pergi ke luar setelah mendapatkan izin. Namun, ia bukan pergi ke taman atau sekedar minum kopi, tapi ia pergi ke markas Black Alpha dengan menggunakan sebuah taksi online.


Sesampainya ia di sana, One langsung menuju ke ruang IT. Ia meminta semua yang berada di sana untuk keluar.


"Keluar, tinggalkan aku sendiri," perintah One.


One menatap semua mesin itu. Ia pun duduk dan mulai menggerakkan jari jemarinya.


"Aku tak akan pernah mengampunimu, Kenji Haskata. Dulu kamu membuat kedua orang tuaku hancur, kini aku yang akan menghancurkanmu!" ucap One.


Sesekali One mengetikkan sesuatu pada keyboard, lalu memainkan layar sentuh yang ada di dekatnya juga. Senyum sinis berubah menjadi senyum mengembang ketika ia menekan tombol eksekusi.


"Tamat riwayatmu, Kenji Haskata!"


One pun bangkit dan meninggalkan tempat itu.


🧡 🧡 🧡