Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
EXTRA PART (3)



Matahari bersinar, membuat sepasang manusia yang tengah terlelap sambil berpelukan itu pun mengerjapkan matanya. Nathan tersenyum saat melihat Edelweiss yang kini akan selalu ia lihat setiap kali ia membuka mata.


"Good morning," sapa Nathan kemudian memberikan kecupan di bibir Edelweiss.


Edelweiss langsung menutup mulutnya karena kaget, selain itu ia belum menyikat giginya. Semalam, tak ada yang terjadi layaknya pengantin baru. Mereka hanya berciuman di bathtub, setelah itu Nathan membantu Edelweiss membersihkan diri di bawah shower, lalu menggendongnya keluar setelah mengeringkannya dengan handuk.


Kelembutan yang diberikan oleh Nathan, membuat rasa canggung Edelweiss menghilang. Ia malah menjadi nyaman dengan Nathan, meskipun ia masih sedikit malu.


"Kamu masih ingin beristirahat?" tanya Nathan.


Edelweis menggelengkan kepalanya. Ia sebenarnya merasa tak enak hati dengan Nathan karena tak bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia malah yang bergantung pada keberadaan Nathan.


Dengan posisi menyamping dan menahan tubuh dengan sebelah tangannya, Nathan menatap Edelweiss dan tersenyum, "Kamu sangat cantik."


"Maaf," ucap Edelweiss.


"Jangan mengatakan maaf lagi, aku mengerti. Aku ingin kamu sembuh dulu. Jangan membebani dirimu sendiri, okay. Hati yang bahagia adalah obat yang manjur," ucap Nathan.


Nathan pernah berbicara dengan dokter yang membantu Edelweiss terapi. Untuk sementara waktu, Edelweiss tidak boleh hamil terlebih dahulu. Hal itu dikarenakan beban tubuhnya akan semakin bertambah sementara Edelweiss harus menguatkan kakinya terlebih dahulu untuk belajar berdiri dan berjalan. Nathan pun mengikuti saran dokter. Untuk sementara, berdekatan seperti ini sudah cukup baginya.


*****


Bulan demi bulan berlalu, Edelweiss sudah tak menggunakan kursi roda lagi. Ia benar benar berusaha menjalani terapi dengan sebaik baiknya, tak ingin mengecewakan Nathan.


Edelweiss hanya menggunakan penyangga kayu yang akan membantunya berpindah. Ia pun sudah bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain.


Hari itu, Nathan harus pergi pagi pagi ke kampus karena ini adalah hari terakhirnya ikut ujian semester dan ada dua mata kuliah yang ujiannya harus ia ikuti.


"Aku akan segera kembali setelah menyelesaikan ujianku," ucap Nathan setelah mencium pipi Edelweiss.


Hari sudah menjelang siang, tapi Nathan belum juga kembali. Perasaan Edelweiss tiba tiba menjadi kacau dan gelisah. Ia pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Nathan, akan tetapi tak dijawab sama sekali. Hingga akhirnya Edelweiss menghubungi Ten.


"Uncle," sapa Edelweiss ketika mendengar suara Ten.


"Selamat siang, Nona."


"Di mana Nathan?" tanya Edelweiss.


"Ooo Nathan sedang berada di rumah sakit," jawab Ten.


Perasaan Edelweiss yang tadi gelisah, kini semakin panik. Ia langsung menjatuhkan ponsel dan tongkat penyangga yang ia gunakan. Ia berjalan keluar mencari supir keluarga. Ia meminta supir itu untuk mengantarkannya ke rumah sakit di mana Dad Michael bekerja.


Selama perjalanan, Edelweiss terus meremas kedua tangannya. Ia sangat khawatir dengan keadaan Nathan, meskipun ia belum bertanya dengan jelas pada Ten tadu.


Supir yang berhenti di lobby rumah sakit, sedikit bingung dengan kondisi Edelweiss, rasanya ada yang aneh menurutnya. Dengan cepat Edelweiss menuju ke bagian resepsionis dan menanyakan pasien yang bernama Nathan Thomas, tapi resepsionis mengatakan tak ada.


"Tak ada? Lalu di rumah sakit mana? Bodoh kamu, El. Mengapa tadi kamu tak bertanya dengan jelas pada Uncle Ten," gumam Edelweiss.


Edelweiss kembali berjalan ke arah pintu masuk, ia akan meminjam ponsel supir yang tadi mengantarnya untuk menghubungi Nathan. Namun, saat ia berada di tengah tengah lobby, seseorang memanggilnya.


"El, sayang. Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Nathan yang langsung memegangi Edelweiss.


"Kamu tidak apa apa?" tanya Edelweiss.


"Aku tidak apa apa. Memangnya kenapa?" tanya Nathan.


"Aku ... Aku khawatir padamu. Kamu bilang akan pulang cepat, tapi tidak pulang pulang. Lalu kamu juga tak menghubungiku. Aku menghubungimu tapi tak bisa, lalu Uncle Ten berkata bahwa kamu ada di rumah sakit. Aku takut terjadi sesuatu denganmu," jawab Edelweiss.


Nathan tersenyum, "Maaf, baterai ponselku habis dan tadi Daddy memanggilku ke sini."


Sesaat Nathan terdiam karena menyadari sesuatu, "Di mana tongkat penyanggamu?"


"Aku ...," Edelweiss mencoba mengingat, "sepertinya tertinggal di rumah. Aku sangat khawatir hingga aku langsung berangkat ke sini."


"Sepertinya kamu tak membutuhkannya lagi, sayang. Tapi untuk memastikannya, kita langsung menemui dokter, okay," Nathan langsung menggendong Edelweiss ala bridal. Ia tak ingin istrinya itu kelelahan.


"Aku senang sekali jika kamu bisa berjalan," bisik Nathan.


Edelweiss menoleh ke arah Nathan dan Nathan pun tersenyum sembari kembali berbisik, "Kita bisa benar benar menjadi suami istri sesungguhnya."


Hal itu langsung membuat wajah Edelweiss memerah. Ia pun menyembunyikan wajahnya di dadda Nathan dan Nathan pun tertawa.


*****


Hoekkk hoekkk


One yang kebetulan hari ini mengajukan cuti karena selama beberapa bulan terakhir ini ia hampir tak pernah libur, mendengar suara dari kamar mandi, langsung bangkit dan menghampiri. Ia melihat Nala kembali muntah muntah, padahal tadi pagi sudah muntah.


"Kamu muntah lagi. Kamu sakit? Kita ke dokter ya," ucap One.


"Tidak perlu, sepertinya hanya masuk angin saja. Mungkin aku kelelahan karena harus mengejar ketertinggalan kuliahku," ucap Nala.


"Sebaiknya kita ke dokter saja ya. Bukankah kalau sehat akan lebih mudah bagimu mengejar materi kuliahmu? Jangan menyakiti dirimu, aku tak suka."


"Baiklah, aku mau ke dokter," ucap Nala pada akhirnya. Mereka menitipkan Agha pada seorang babysitter yang memang disiapkan untuk membantu Nala, selama ia menjalani kuliah kembali.


Sesampainya mereka di rumah sakit, mereka melihat Nathan yang masuk ke dalam rumah sakit sambil menggendong Edelweiss.


"Apa yang terjadi dengan Elis?" tanya Nala.


"Nanti saja kita tanyakan, yang terpenting kita memeriksakan kondisimu dulu," jawab One.


Akhirnya Nala pun mengikuti One menuju ke ruang praktek dokter umum. Mereka mendaftar seperti pasien pada umumnya, meskipun rumah sakit itu adalah milik Dad Michael. Mereka tak ingin diistimewakan karena berstatus putri pemilik rumah sakit.


🧡 🧡 🧡