Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
SUMBER MASALAH



"Azka Abraham! Apa yang kamu lakukan di sini? Ini adalah urusanku dengan cucuku. Bukankah kamu tak ingin membantuku?" ucap Kenji dengan ketus. Ia masih merasa kesal karena Azka pernah menolak membantunya.


"Kamu yang mulai mencari gara gara denganku, Tuan Kenji," Azka menunjuk Kenji dengan sebuah senjata di tangannya.


"Erwan adalah cucuku. Sebaiknya anda pergi sekarang atau aku tak akan segan segan," di dalam hati Kenji sebenarnya merasa sedikit gelisah, apalagi melihat tatapan Azka yang tak sedikit pun berkedip.


Azka menatap Axton dan memberikannya tanda. Axton mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana. Tak berapa lama, ponsel Lou berbunyi, wajahnya terlihat panik, sementara Azka mulai tersenyum sinis.


"Masih mau bermain main denganku, bocah!" teriak Azka sambil menunjuk senjatanya pada Lou yang langsung melihat ke arah atasannya.


"Ada apa?" tanya Kenji.


"Perusahaan sedang dilanda masalah, Tuan. Para investor menarik semua saham mereka dan salah satu gudang persediaan kita terbakar," jawab Lou.


"Apa?!" teriak Kenji.


Kenji Haskata langsung menatap ke arah Azka yang tampak tersenyum puas, "Ini belum apa apa, Kenji Haskata. Aku tak pernah bermain main dengan ancamanku."


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?!" kini Kenji yang berbalik bertanya pada Azka.


"Di mana Nala?" tanya Azka.


"Gadis pelayan itu? Kamu datang ke sini hanya untuk gadis pelayan itu hah?!" Kenji melihat ke arah One dan berbicara kembali, "Cucuku dan seorang Azka Abraham memperebutkan seorang gadis pelayan? Apa kata dunia jika mereka mengetahuinya?"


Dorrr!!


Sebuah tembakan melesat dan menghancurkan salah satu guci yang ada di samping Kenji. Lou yang berada di dekatnya ikut kaget dan tubuhnya mulai bergetar.


"Cari Nala," ucap Azka pada beberapa anak buahnya.


"Saya saja Tuan yang mencarinya," kata One.


"Pergilah bersama beberapa orang," ucap Azka.


Kenji dan Lou masih berdiri diam tak bergerak. Lou bahkan masih memegang ponselnya dan tak memasukkannya kembali ke dalam saku. Ntah mengapa melihat Azka Abraham saat ini, sangat berbeda dengan saat mereka menemuinya di kediamannya.


Pintu kembali terbuka dan tampak One sedang menggendong Nala ala bridal style. Gadis kecilnya masih memejamkan matanya dengan kepala diperban, juga ada beberapa luka lebam di tangannya.


"Aku tidak pernah main main dengan ucapanku. Jadi dengarkan aku, Kenji Haskata. Sekali lagi kamu mengganggu keluargaku, kupastikan kamu, keluargamu, dan perusahaanmu, akan hancur di tanganku."


Sebelum Azka melangkah keluar dari ruangan itu, Kenji akhirnya bertanya, "Apa hubunganmu dengan gadis pelayan itu?"


"Nala? Nala adalah cucuku!!" teriak Azka kemudian melenggang pergi, meninggalkan Kenji dan Lou.


Setelah tak melihat keberadaan Azka dan anak buahnya, Kenji terduduk karena kakinya yang mulai lemas. Lou bahkan ikut terdiam.


"Ma-maaf, Tuan. Saya baru memeriksa keberadaan Tuan Erwan dua bulan belakangan ini di Jakarta dan saat ia pergi ke Kota Massachusetts, saya selalu melihatnya bersama seorang gadis dan ... Ia bekerja sebagai pelayan di salah satu cafe."


"Sialannn!!!" Kenji menggebrak meja dengan keras. Kini ia harus kembali berkutat dengan perusahaannya, atau bisa dipastikan Perusahaan Haskata akan hancur.


*****


Dengan menggunakan pesawat pribadi dan seorang dokter khusus, Nala dibawa kembali ke Jakarta. Selama perjalanan, Nala berada di dalam pengawasan dokter.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Azka.


"Kami harus memeriksa ulang secara menyeluruh, Tuan. Jika kejadiannya sekitar beberapa hari yang lalu, seharusnya ia sudah sadar. Tapi tak da tanda tanda itu, mungkin Tuan Kenji memberikan obat tidur setiap Nona Nala terbangun."


"Sialannn!!!" ucap Azka dengan geram.


"Brave!" panggil Azka pada putranya.


"Ya, Dad."


"Lakukan hal yang sama pada semua cucu perempuannya," perintah Azka.


"Tenang, Dad. Sudah kulaksanakan hal itu sebelum kita berangkat tadi," ucap Axton dengan senyum di wajahnya.


"Bagus!" ujar Azka menepuk bahu Axton.


Di ujung ruangan, terlihat One terus menatap ke arah Nala yang terbaring lemah. Di dalam hati, ia terus menyalahkan dirinya. Mengapa harus selalu dirinya yang menjadi sumber masalah bagi Nala.


Apa aku harus menjauh darimu agar kamu selalu aman? - batin One.


"One!" panggil Azka.


"Siap, Tuan," One langsung berdiri melihat ke arah Azka.


"Ingat kata kataku ini. Jangan pernah berpikir macam macam. Kamu harus menjaganya seumur hidupmu. Aku akan segera menikahkan kalian saat kita sampai di Jakarta. Fokus pekerjaanmu saat ini hanyalah Nala. Apa kamu bersedia?!"


"Bersedia, Tuan!"


One menatap ke arah Nala. Mencintai dan menjaga gadis kecilnya adalah keinginannya. Ia tak akan ragu menjawab perintah dari seorang Azka Williams, apalagi ada restu juga di dalamnya.


"Kalau begitu, tetaplah di sisinya. Aku yakin itu juga adalah keinginannya."


Tanpa seorang pun tahu, Azka selalu mengawasi setiap anggota keluarganya. Ia akan mendapat laporan setiap hari. Untuk kasus Nala, sebelum One datang padanya, Azka sudah mengirimkan beberapa orang untuk bersiap siap di markas Black Alpha di Jepang. Oleh karena itu, semuanya bisa diselesaikan dengan mudah olehnya.


🧡 🧡 🧡