Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
MENIKAHLAH



Perjalanan selama 12 jam lebih, tak membuat Nala lelah, pasalnya ia lebih banyak tidur di dalam pesawat.


"Kita langsung ke rumah sakit saja ya, Uncle," ucap Nala.


"Kita ke hotel dulu, Na. Masa mau membawa barang barang ke sana."


"Iya juga. Tapi, apa hotel kita jauh?" tanya Nala.


"Tidak, hanya sekitar sepuluh menit dari rumah sakit," jawab One.


"Ahhh Uncle pintar sekali. Dengan begitu, aku bisa bolak balik tanpa terlalu lama di jalan."


Cuppp


Nala mencium bibir One dan tak disia sia kan oleh One. Ia menahan tengkuk Nala dan menyesap bibir Nala. Saat ini mereka masih berada di bandara, tak mempedulikan keadaan sekitar, mereka terus saja berciumann hingga keduanya harus mengambil nafas.


"Kita teruskan di hotel saja," ujar One kemudian menarik tangan Nala perlahan dan berjalan menuju lobby.


Di area kedatangan telah siap sebuah mobil sedan berwarna hitam.


"Berikan kuncinya padaku," pinta One dan pria tersebut langsung memberikannya.


Sejak keberangkatan mereka, One sudah tahu bahwa anggota Black Alpha mengawasi mereka. Oleh karena itu, ia menghubungi anggota Black Alpha yang ada di sana untuk menyediakan sebuah mobil.


Sudah ketahuan juga, biarlah nanti aku mendapatkan hukumannya. Yang terpenting saat ini, Nala mendapatkan apa yang ia inginkan. - batin One.


"Uncle, kita ke rumah sakit saja dulu. Kan tas kita bisa diletakkan di mobil. Aku ingin segera bertemu dengan Elis," ujar Nala.


"Tapi, Na."


"Ayolah, Uncle. Aku berjanji setelah ini Uncle mau meminta apapun, akan kuberikan," ucap Nala.


"Janji?"


"Janji!" Nala memberikan jari kelingkingnya sebagai tanda perjanjian dengan One. One pun menyambutnya dengan melingkarkan jari kelingkingnya juga.


One menghela nafasnya pelan dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia memarkirkannya dan bersama Nala berjalan menuju ke ruangan tempat Edelweiss dirawat.


"Elis!" ucap Nala saat melihat seorang gadis yang tengah duduk di atas tenpat tidur.


"Nala?" panggil Edelweiss. Ia berusaha menjangkau Nala, tapi tak ia dapatkan.


"El, kamu?" guman Nala.


Seorang dokter masuk ke dalam ruangan untuk melakukan pemeriksaan rutin pada Edelweiss. Nala terdiam sesaat saat melihat dokter memeriksa keadaan Edelweiss.


"El," Nala menggenggam tangan Edelweiss.


"Apa kabarmu, Na?" tanya Edelweiss dengan senyum di wajahnya.


Nala mendekatkan dirinya dan duduk di brankar tepat di samping Edelweiss.


"Maafkan aku," ucap Nala, "Ini semua salahku. Apa yang terjadi padamu adalah kesalahanku."


"Na, jangan menangis," Edelweiss berusaha memegang wajah Nala, kemudian menghapus bulir air yang mengalir di pipi Nala.


Kecelakaan besar yang menimpa Keluarga Edelweiss, kini membuat Edelweiss kehilangan penglihatannya. Selain itu, kedua kakinya juga masih sulit untuk digerakkan.


"Setelah ini, kamu harus tinggal bersamaku, okay. Aku akan menjagamu," ucap Nala.


"Na, aku ..."


"Jangan menolak! Kamu tidak boleh menolak bantuanku. Maafkan aku, El. Kita akan kembali ke New York dan memberikan pengobatan yang terbaik untukmu," ucap Nala.


Edelweiss tersenyum. Ia sudah menghabiskan air matanya kemarin saat ia terbangun dan mendapati bahwa kedua orang tuanya sudah tak ada. Selain itu, ia kehilangan penglihatannya dan untuk sementara ini tak bisa berjalan.


"Aku akan ikut denganmu, Na. Tapi maaf jika aku pasti akan banyak merepotkanmu," ucap Edelweiss.


Nala menggenggam tangan Edelweiss dan memberi kekuatan pada sahabatnya itu, "Kamu tak merepotkanku sama sekali. Aku sungguh bahagia bisa kembali bertemu denganmu."


Wajah Edelweiss selalu menampilkan seulas senyum untuk Nala. Ia tak memperlihatkan raut kesedihan sama sekali.


"Aku akan menikah, tapi aku ingin kamu yang menjadi pendamping wanitanya. Bukankah kamu sudah pernah berjanji?" ucap Nala.


"Menikah? Kamu akan menikah dengan siapa, Na? Apa kamu dijodohkan?" Edelweiss kini menjadi penasaran.


"Dengan pria incaranku selama ini."


"Uncle One?"


"Ya, denganku. Nala akan menikah denganku. Oleh karena itulah kamu harus segera sembuh," ucap One yang masuk ke ruang rawat Edelweiss setelah ia selesai berbicara dengan dokter.


Kornea matanya telah mengalami kerusakan. Nona Edelweiss tak akan bisa melihat lagi, kecuali ia mendapatkan donor mata. - One kembali teringat apa yang dikatakan oleh dokter tadi.


"Menikahlah, Na. Jangan menungguku. Meskipun hanya bisa mendengar tanpa melihatmu, aku yakin kamu akan tampil cantik dengan gaun putihmu. Aku berjanji akan hadir pada pernikahanmu. Bagaimana?" Edelweiss tak ingin Nala menunggunya sembuh. Ia sudah tahu bahwa ia tak akan bisa melihat lagi, bahkan ia juga tak yakin ia bisa berjalan lagi. Bagaimana bisa ia menjadi pendamping pengantin, tapi malah pengantin yang akan mendorong kursi rodanya nanti.


🧡 🧡 🧡