
One hanya butuh satu hari untuk mengatur keberangkatan Nala ke Kota Auckland di New Zealand. One bergerak dengan sangat hati hati tanpa diketahui oleh siapa pun.
"Kamu siap?" tanya One.
"Sangat siap, Uncle ku sayang," jawab Nala sedikit menggoda One.
Nala semakin hari semakin mencintai One. Pria itu bahkan melanggar aturan Keluarga Williams dan akan membawanya menemui Edelweiss. Kini Nala semakin yakin kalau One benar benar mencintai dan menyayanginya.
"Tapi kamu harus ingat, kamu harus selalu berada di dekatku. Kamu tak boleh terlalu banyak bergerak tanpa kursi rodamu, itu akan mempengaruhi kepalamu," jelas One.
"Aku mengerti, Uncle," ucap Nala sambil tersenyum.
Ketika waktu menunjukkan pukul dua pagi, One mengajak Nala untuk keluar dari Kediaman Keluarga Williams. One bahkan menggendong Nala agar calon istrinya itu tak banyak bergerak.
One telah memarkirkan mobilnya di luar pagar, jadi tak akan menimbulkan suara. One bahkan memberikan sedikit obat tidur pada penjaga keamanan. Memang dosisnya tak besar, paling hanya bertahan sekitar dua jam. Akan tetapi kalau penjaga itu tertidur sampai pagi, itu bukan karena obat tidur yang diberikan oleh One, melainkan memang penjaga nya saja yang mengantuk.
Setelah mendudukkan Nala di kursi penumpang sebelah kemudi, One berjalan memutar dan masuk ke balik kemudi. Ia menyalakan mobilnya dan mulai melajukannya. Tanpa mereka ketahui, ada dua pasang mata yang melihat kepergiannya.
"Dad akan membiarkannya?" tanya Axton.
"Hmm ... Tidak masalah. One ada bersamanya, lagi pula Dad tetap akan mengirimkan orang untuk mengawasi mereka."
"Lalu bagaimana dengan Nathan?" tanya Axton lagi.
"Kamu buatlah dia sedikit sibuk di sini. Biar Nala yang mengambil alih untuk menjaga Edelweiss. Aku ingin Nathan fokus pada pendidikannya, sama seperti Alex," jawab Azka.
"Baiklah, Dad. Besok aku akan mengajak Nathan dan Alex ke Perusahaan. Mereka akan mulai belajar mengenai bisnis secara langsung,"
"Hmm ... Sekarang beristirahatlah," ucap Azka.
*****
"Bagaimana? Aman?" tanya Nala ketika mereka telah sampai di bandara.
"Aman," jawab One.
Bahkan terlampau aman. Aku justru curiga jika seperti ini. Apa jangan jangan Tuan Azka tahu apa yang kulakukan? Mati aku kalau begini, bisa bisa aku dicoret dari daftar cucu menantunya. - batin One yang mulai sedikit gelisah.
"Uncle kenapa? Apa ada masalah?"
"Tidak ada, ayo cepat! Penerbangan pertama ke Auckland sekitar satu jam lagi," ucap One.
Ia memegangi Nala agar tak terlalu berlari. Yang terpenting kenyamanan untuk Nala, itulah yang dipikirkan oleh One.
Pesawat telah siap dan para penumpang diminta untuk naik, setelah One dan Nala menunggu sekitar setengah jam. Mata One selalu memindai ke sekeliling dan ia yang adalah anggota Black Alpha, sangat tahu kalau ada beberapa orang yang mengawasi mereka.
Sepertinya benar benar ketahuan. Tapi ya sudahlah, yang terpenting saat ini adalah Nala. Bagaimana ke depannya nanti, aku pasrah saja. - batin One.
Sekitar 12 jam, waktu yang diperlukan untuk sampai di Auckland. Nala yang tertidur selama perjalanan, bersandar pada bahu One, begitu pula sebaliknya. Posisi mereka berdua terlihat sangat menggemaskan, bahkan orang suruhan Azka yang mengikuti mereka selama penerbangan, mengambil foto mereka berdua dan menyebarkannya di grup chat Black Alpha.
Ten yang tergabung dalam grup tersebut hanya bisa tersenyum melihatnya. Ia bisa saja memberitahukan apa yang dilakukan oleh One dan Nala pada Nathan, tapi ia memilih untuk diam. Pasalnya, Tuan Azka sendiri lah yang memintanya untuk diam. Bahkan tak mengijinkan Ten untuk memberitahukan pada Nathan mengenai Edelweiss yang sudah sadar.
🧡 🧡 🧡
Maaf ya sedikit, lagi beberesan 😅