Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
NGIDAM



Pemeriksaan kesehatan serta kecocokan untuk proses pendonoran kornea mata, telah selesai dilakukan. Kini mereka hanya perlu menunggu hasil. Sementara itu, Edelweiss akan tetap berada di rumah sakit sampai hasil diketahui.


"Honey, aku akan berada di sini untul menemani Elis," ujar Nala. Ia ingin menemani Edelweiss sebelum hasil pemeriksaannya nanti keluar.


"Biar aku saja," ucap Nathan.


"Aku sahabatnya, jadi biarkan aku yang berada di sini," ucap Nala lagi.


"Aku kekasihnya, jadi aku yang akan menemaninya. Sebaiknya kamu pulang dan temani suamimu," ucap Nathan. Ini adalah pertama kalinya Nathan mengatakan status hubungannya dengan Edelweiss pada Nala, langsung dari bibirnya sendiri.


"Jangan bertengkar. Kalian pulang saja, aku tak apa apa sendiri," ucap Edelweiss yang tak ingin terjadi pertengkaran di antara dua saudara kembar itu.


"Honey, kita pulang saja. Kamu sedang hamil dan tidak baik untuk kesehatanmu nantinya," ucap One.


Nala menghela nafas pelan dan akhirnya mengikuti saran One. Ia juga tak ingin terjadi apa apa pada calon bayinya.


"El, aku pulang dulu kalau begitu. Besok aku akan datang lagi. Aku juga akan menginap di rumah Mommy, okay."


"Thank you, Na," ucap Edelweiss, "hati hati dan jaga kesehatanmu."


Nala akhirnya pulang dan membiarkan Edelweiss bersama dengan Nathan.


"Nath," panggil Edelweiss setelah Nala keluar dari ruangan.


"Hmm ... Ada apa?" tanya Nathan mendekat dan memegang tangan Edelweiss.


"Jangan bertengkar dengan Nala ya, apalagi jika itu karena aku."


"Hmm ... Aku mengerti. Maafkan aku."


"Aku juga minta maaf, telah merepotkanmu."


"kamu tak merepotkanku sama sekali. Aku senang berada di sampingmu," ucap Nathan yang membuat Edelweiss merasa sangat disayangi.


"Thank you."


"Kalau begitu berikan padaku senyumanmu yang paling manis," ujar Nathan. Gombalan Nathan membuat Edelweiss tersenyum manis.


Cuppp


"Itu hadiah dariku karena kamu sudah tersenyum," Nathan menghadiahi satu kecupan di bibir Edelweiss. Itu juga merupakan vitamin baginya untuk tak pernah menyerah mencari donor dan menemani Edelweiss terapi.


"Jangan menciumku terus, kamu membuatku malu," ucap Edelweiss.


"Saat kamu sudah bisa melihat nanti, aku akan menciummu lebih lama dari biasa. Dan setelah kamu bisa berjalan, aku akan berbuat lebih dari sekedar ciuman. Kamu mengerti kan maksudku?"


Edelweiss langsung terdiam. Ucapan Nathan benar benar tak bisa ia bayangkan. Nathan yang selalu diam kini berbicara hal messum. Ini seperti bukan Natham, demikian pikir Edelweiss.


"Bukankah aku berjanji akan segera menikahimu begitu aku lulus kuliah?"


"Tapi ... "


"Apa kamu tak mencintaiku? Apa kamu tak ingin bersamaku?"


Bagaimana aku bisa tak mencintaimu? Bahkan saat menjadi kekasih pura pura pun sikapmu sangat lembut. Hanya saat malam kecelakaan Nala saja kamu membentakku. Lalu, bagaimana aku bisa tak mencintaimu? Aku malah lebih takut kalau kamu yang akan meninggalkanku. - batin Edelweiss.


"Nath ... Jika donor dan terapiku gagal, berjanjilah kamu akan mencari gadis lain, yang sempurna, yang pantas untukmu."


Edelweiss terdiam. Ia bahkan bisa merasakan bulir air keluar dari kedua matanya. Kini ia benar benar menangis.


"Terima kasih. Terima kasih kamu masih menyayangiku."


Nathan duduk di sebelah Edelweiss dan memeluknya erat, "Ingatlah selalu, bahwa aku benar benar menyayangi dan mencintaimu. Jangan pernah meragukanku."


Edelweiss pun menganggukkan kepalanya. Nathan memegang tengkuk Edelweiss dan memberikan gadis itu ciuman penuh cinta yang terasa menghangatkan hatinya.


"I love you, Edelweiss Rivera."


*****


Nala menggenggam kedua tangan Edelweiss karena ia kini merasa senang sekali. Sahabatnya itu akan segera dioperasi karena telah mendapatkan donor yang cocok.


"Aku senang sekali, El."


"Aku juga sangat senang. Terima kasih banyak untuk keluargamu, Na. Hidupku mungkin akan hancur jika tak ada kalian bersamaku," ucap Edelweiss.


"Kamu orang yang baik, El. Sudah pasti akan mendapatkan hal hal yang baik juga. Oya, peganglah perutku. Sejak semalam aku selalu ingin kamu memegang perutku," pinta Nala.


"Mungkin dia akan menjadi bestie ku," ujar Edelweiss menggoda Nala.


"Eh eh, tidak boleh! Bestie mu hanya aku!"


Nala pun memegang tangan Edelweiss dan meletakkannya di permukaan perut Nala. Meskipun belum bergerak, tapi Edelweiss bisa merasakan kehangatan yang luar biasa.


"Nyaman sekali, El. Ngidamku tercapai juga."


"Kenapa kamu tidak ngidam disentuh suamimu?" tanya Edelweiss.


"Bagaimana mau ngidam hal itu, tiap hari juga ia menyentuhku. Di sini, di sini, di sini, ahh pokoknya ia menyentuh semuanya," ucap Nala tanpa filter.


"Tapi kamu suka kan?"


"Tentu saja aku suka, bahkan aku selalu meminta lagi dan lagi," jawab Nala.


"Kalau begitu, kita pulang sekarang. Jadi aku bisa menyentuh semua ini berkali kali, bahkan sampai pagi. Ayo!" ucap One yang sudah ada di belakang Nala.


Nala langsung menutup mulutnya dan berhenti berbicara. Kalau sampai One mengatakan itu, bisa bisa ia tak tidur hingga pagi. Kacau!


"Pulanglah, Na. Daripada suamimu nanti ngidam, anakmu bisa ileran," ucap Edelweiss.


"Eh jangan donk. Kalau begitu aku akan pulang. Nathan akan segera datang ke sini menemanimu. Ia sudah di jalan tadi," ucap Nala.


"Baiklah. Aku akan istirahat saja kalau begitu. Hati hati, Na."


"Okay, see you tommorow!"


Tak berselang lama setelah kepergian Nala, pintu ruangan terbuka.


"El!" Edelweiss terdiam saat mendengar suara memanggilnya.


🧡 🧡 🧡