
"Jumlah mereka cukup banyak," ucap One saat memeriksa tempat di mana Kenji Haskata menyekap Nala. Ia mengepalkan tangannya saat meretas CCTV di gudang tersebut.
"Panggil anak buah kita," ujar Azka.
"Tapi saat ini kita tak lagi bergerak menyerang seperti ini," ucap Axton. Ia tak ingin ayahnya salah melangkah.
"Aku tidak peduli! Nyawa Nala adalah taruhannya. Aku bahkan rela masuk penjara atau menukar nyawaku ini untuk cucuku," ucap Azka dengan tegas dan menatap tajam pada putranya, Axton.
"Biar aku saja yang akan melakukannya, Tuan," ucap One.
"Tidak! Kita akan bergerak bersama. Kalau kamu tidak mau, kamu berjaga saja di sini," ucap Azka pada Axton. Saat ini mereka berada di markas Black Alpha yang ada di kota Tokyo, Jepang.
"Aku akan ikut denganmu, Dad," ucap Axton.
"Kita harus bekerja secara cerdas. One, apa kamu akan melakukan apapun?" tanya Azka.
"Tentu saja, Tuan. Anda adalah keluarga saya dan Nala ...," One menghentikan ucapannya.
"Aku akan merestui hubunganmu dengan cucuku, karena yang terpenting bagiku adalah kebahagiaannya," ucap Azka.
One menatap atasannya itu. Ia tak percaya bahwa Azka dengan begitu mudahnya merestui hubungannya dengan Nala.
"Terima kasih, Tuan."
"Apa kamu berani menghancurkan Perusahaan Haskata?" tanya Azka.
"Akan kulakukan, Tuan," ucap One dengan tegas.
"Bagus! Brave, panggil Zero ke sini. Kita akan mulai membagi tugas," perintah Azka yang mulai merencanakan langkah langkah penyerangan.
*****
One kini berdiri tepat di depan sebuah gudang di mana Kenji Haskata menyekap Nala. Perasaannya kini sudah campur aduk, apalagi ia tahu bahwa Nala kembali terluka dan itu adalah karenanya.
Aku tak akan pernah memaafkanmu jika sampai hal buruk terjadi pada Nala, Kenji Haskata! - batin One.
Pintu gerbang gudang tersebut terbuka dan tampak beberapa orang berpakaian hitam menyambut kedatangan One.
"Di mana Kenji Haskata?!" tanya One dengan suara lantang.
One berjalan masuk dengan langkah tegap. Ia menelisik ke dalam gudang tersebut dan sesekali menekan tombol yang ada di jam tangannya. Ia memberikan tanda pada Axton dan Azka, apakah tempat yang ia lewati sulit ditembus atau tidak.
Setelah melewati beberapa pintu, One telah sampai di sebuah ruangan yang sangat berbeda. Itu adalah ruangan khusus untuk Kenji Haskata.
Tampak seorang pria paruh baya tengah duduk di sebuah single sofa dengan seorang pria berbaju hitam berdiri tepat di sebelahnya.
"Akhirnya kamu kembali ke Jepang juga, cucuku," ucap Kenji dengan wajah yang penuh dengan senyuman.
"Di mana Nala?" tanya One langsung.
"Gadis itu saja yang kamu pedulikan! Kamu harus lebih mementingkan keluargamu."
"Keluarga? Keluarga mana yang anda maksud, Tuan Kenji Haskata? Kedua orang tuaku sudah meninggal dan hanya Keluarga William lah keluargaku," ucap One dengan tatapan tajam. Ia sama sekali tidak takut jika harus mati. Yang terpenting ia harus menyelamatkan Nala.
"Aku tidak masalah jika kamu menganggap Keluarga Williams sebagai keluargamu. Aku berhutang budi pada mereka karena telah menjadikanmu pribadi yang luar biasa saat ini," ucap Kenji.
"Tapi anda sendiri yang telah membuat citra anda buruk di hadapanku dan juga di hadapan Keluarga Williams."
"Jangan membuatku tertawa. Aku menggunakan caraku sendiri untuk membuatmu menginjakkan kaki ke Jepang lagi. Bukankah itu sudah sebuah pencapaian yang luar biasa?" ucap Kenji membanggakam dirinya sendiri.
"Sekarang bebaskan Nala. Ia tidak ada sangkut pautnya dengan permasalah di antara kita," ucap One.
"Aku akan membebaskannya, tapi setelah kamu mengikuti keinginanku."
"Keinginan apalagi yang kamu mau hah?!" teriak One.
"Kamu akan tetap di Jepang, memimpin Perusahaan Haskata. Setelah itu, kamu harus menikah dengan gadis yang aku pilihkan untukmu. Seorang gadis yang sudah jelas bibit bebet dan bobotnya. Aku tidak akan setuju jika kamu berpasangan dengan gadis pelayan itu."
"Gadis pelayan, hah?! Ia jauh lebih baik seribu persen darimu. Aku bahkan akan memilih dirinya dibandingkan semua hartamu itu. Aku tidak akan pernah menikah dengan gadis pilihanmu. Aku adalah aku! Tak ada yang bisa memaksaku untuk menuruti mereka, kecuali satu orang, Tuan Azka Williams."
Kenji Haskata tertawa lebar, "Kamu adalah cucuku, tak ada lagi hubungan antara dirimu dengan Keluarga Williams. Cepat tutup semua pintu! Aku tak akan pernah membiarkan kamu keluar dari sini meski hanya selangkah!"
Brakkk!!!
"Kalau begitu, aku yang akan masuk ke sini!" Kenji Haskata bangkit dari duduknya saat melihat siapa yang datang. Tatapan tajam itu, ia selalu berusaha menghindarinya sejak dulu. Ia bahkan bergerak dengan caranya sendiri agar tak kembali mengganggu pria itu.
🧡 🧡 🧡