Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
BUNGA PENGANTIN



"Arghhhh ....," suara errang kesakitan dikeluarkan oleh seorang wanita yang kini berdiri di dekat One. Ia menjadikan tubuhnya sebagai tameng agar One dan Nala tidak terluka.


Para anggota Black Alpha langsung meringkus Fanta dengan melepaskan sebuah tembakan yang mengenai kakinya. Fanta pun terjatuh, tapi ia sempat melihat bahwa usahanya juga gagal.


"Amadea sialannn!!" teriak Fanta, saat melihat Amadea mengagalkan rencananya.


Ya, Amadea menjadikan dirinya tameng atas tembakan yang diarahkan Fanta pada One dan Nala. Ia sudah merasa sangat bersalah saat melihat kondisi Edelweiss. Pada awalnya ia ke sana untuk membantu Fanta melancarkan aksinya, tapi hatinya tak sanggup melakukannya, apalagi Fanta selalu saja menghinanya hari demi hari.


"Dea!" teriak Nala saat melihat siapa yang berteriak, "Uncle, cepat tolong dia."


Sebagian anggota Black Alpha telah membawa Fanta pergi dari sana. Sebagian lagi menghampiri One dan mengambil alih urusan Amadea.


"Lanjutkan acara pernikahanmu, One. Kami lah yang akan mengurus semuanya," ujar Zero.


One menganggukkan kepalanya, berterima kasih pada rekan rekannya. Hampir seluruh keluarga Williams sebenarnya sudah bersiap dengan senjata yang mereka sembunyikan di tubuh mereka masing masing.


"Lanjutkan, One," kata Azka ketika suasana sudah lebih kondusif.


Acara pengucapan janji pernikahan pun dilakukan dengan lancar. Senyum kini tercipta di wajah One dan Nala setelah belum lama mereka menghadapi sedikit masalah.


"You may kiss the bride."


One menatap manik mata Nala dan kembali tersenyum, "I love you."


"I love you too, honey."


Panggilan sayang yang diberikan oleh Nala membuat jantung One berdebar. Ia langsung memberikan ciuman hangat pada gadis kecilnya itu. Bahkan semakin lama ciuman itu menjadi panas dan membuat keduanya menginginkan lebih.


"Ehmm ... Ehmmm ...," keduanya melepaskan ciuman itu ketika tersadar bahwa mereka masih berada di hadapan para tamu. Wajah keduanya langsung memerah dan sedikit menunduk.


"Kalian bisa melanjutkannya nanti, sekarang kita berpesta dulu!" ujar Grandma Mia tanpa canggung.


Sementara Dad Michael menatap tajam ke arah One seakan berbicara.


Awas kamu menyakiti putriku! Aku suntik ulatmu itu biar tertidur. - batin Michael.


One hanya tersenyum seperti tahu apa yang sedang dikatakan oleh Michael. Mereka pun melakukan sesi foto bersama dan dilanjutkan dengan acara makan makan.


*****


"Kamu mau makan apa?" tanya Nathan pada Edelweiss.


"Tak ada. Izinkan aku menyuapimu, okay."


"Tak perlu, Nath. Aku bisa sendiri," ucap Edelweiss.


"Jangan membantahku."


"T-tapi ..."


Nathan segera bangkit dari sana dan mengambilkan makanan untuk Edelweiss. Dengan telaten ia menyuapi Edelweiss, meskipun ia sendiri belum makan.


"Ada hubungan apa antara Nathan dengan Elis?" gumam Nala yang melihat dari kejauhan. Saat ini ia sedang bersua dengan beberapa keluarganya yang tinggal jauh, sehingga mereka jarang bertemu.


One yang menyadari kalau Nala melihat ke arah lain, langsung mengikuti arah pandangnya. Ia menghela nafas pelan saat melihat Nathan dan Edelweiss duduk bersama. Ia memang belum memberitahu Nala mengenai hubungan di antara Nathan dan Edelweiss, karena istrinya itu pasti akan sangat marah jika mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Nala yang ingin mendekati Edelweiss, kembali dihalangi oleh Mom Alexa. Ia tak jadi melangkah karena One akan segera membawa Nala ke Maldives, tempat di mana mereka akan menghabiskan malam pertama mereka dan melakukan honey moon.


"Mom, Elis ...?"


"Elis akan menjadi tanggung jawab Mommy. Sekarang pergilah dengan One. Jangan khawatirkan apapun okay."


Nala menghela nafasnya pelan, tapi sebelum pergi ... Ia mencari cara untuk mendekati Edelweiss.


"El?" sapa Nala. Nala menatap Nathan seakan bertanya pada saudara kembarnya itu, tapi Nathan hanya diam saja.


"Hai, Na. Kamu pasti sangat bahagia kan?"


"Tentu saja, apalagi dengan kehadiranmu di sini, amat sangat membuatku bahagia. Aku ingin memberikan ini padamu," Nala menyerahkan bunga pengantin yang ia pegang pada sahabatnya. Oleh karena itu juga ia tak mengadakan acara lempar bunga.


"Terima kasih, Na," ucap Edelweiss, meskipun ia merasa tak akan terwujud impiannya menjadi seorang pengantin. Ia tak akan membebani siapapun dengan kondisinya saat ini.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Saat aku kembali nanti, aku ingin banyak ngobrol lagi denganmu," bisik Nala dan dibalas dengan senyuman oleh Edelweiss.


"Hati hati, Na."


Sebelum pergi, Nala kembali menoleh ke arah Nathan yang masih berada tepat di sebelah Edelweiss. Tanda tanya terus berada dalam pikirannya dan ia memerlukan jawaban itu saat ia pulang nanti.


🧡 🧡 🧡