Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
EXTRA PART (4)



Dad Michael menatap tajam ke arah One. Ia memegang transducer di tangannya dan menggerakkannya di atas perut Nala. Tadi saat mereka ke dokter umum, mereka langsung diarahkan ke dokter kandungan setelah mendengar gejala yang Nala alami.


"Kamu menggempur putriku terus menerus, hah?!" tanya Michael.


One menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mau menjawab tidak, tapi iya. Mau menjawab iya, bisa ditimpuk dia dengan alat transducer yang dipegang Dad Michael.


Dad Michael mencebik kesal karena ternyata sedang hamil lagi. Agha baru berusia 6 bulan dan Nala sudah hamil lagi dengan usia kandungan 1 bulan. Itu artinya nanti perbedaan usia Agha dengan adiknya hanya setahun lebih sedikit. Selain itu, Nala sedang meneruskan kuliahnya.


"Jangan memarahi suamiku, Dad," pinta Nala.


"Jangan membelanya terus menerus. Ia harus mengerti bahwa kalian masih memiliki Agha, bahkan usianya saat ini belum satu tahun. Kamu sendiri juga baru mulai kuliah lagi."


"Dad ..."


Michael akhirnya tak banyak bicara lagi. Ia hanya memberikan resep vitamin yang harus diminum oleh Nala. Belum keluar dari ruangan, Nala pun berkata, "Dad, apa terjadi sesuatu dengan Elis?"


"Memang ada apa?" tanya Dad Michael.


"Saat aku memasuki lobby tadi, aku melihat Nathan menggendong Elis. Tapi aku tidak tahu ke mana ia membawanya. Apakah terjadi sesuatu pada Elis?" tanya Nala.


Dad Michael langsung menghubungi bagian administrasi dan menanyakan tentang Edelweiss.


"Mereka ada di ruangan terapi," ucap Dad Michael, "Kita ke sana saja."


Dad Michael, One dan Nala, melangkahkan kaki untuk melihat keadaan Edelweiss. Meskipun sudah mengetahui bahwa Edelweiss berada di tempat terapi, tapi Nala ingin memastikan keadaan Edelweiss.


Di sebuah ruangan khusus dengan partisi kaca sebagai pemisah, terlihat Edelweiss sedang berjalan tanpa menggunakan tongkat peyangga. Nala menutup mulut dengan kedua tangan saat melihatnya. Ia merasa sangat bahagia sekali melihat Edelweiss sudah bisa kembali berjalan seperti dulu. Edelweiss yang melihat Nala berdiri melihatnya, langsung berjalan ke arah luar dan memeluk sahabat sekaligus kakak iparnya itu.


"Aku bisa berjalan lagi, Na," ucap Edelweiss bahagia.


*****


Satu bulan berlalu, Edelweiss sudah bisa berjalan dengan baik, tanpa bantuan siapa pun atau alat apapun. Kini, ia bisa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri bagi Nathan, mulai dari menyiapkan pakaian untuk suaminya itu.


Langkah Nathan terus mendekati Edelweiss,membiat Edelweiss terus mundur dan akhirnya terduduk di atas tempat tidur. Setelah itu dengan mudahnya Nathan mengungkung Edelweiss yang telapak tangannya sudah berada di depan tubuhnya dan memegang dadda Nathan.


"Kamu tak ingin kembali kuliah, sayang?" tanya Nathan.


"Bolehkah?"


"Tentu saja boleh, tapi aku ingin kamu fokus dengan kuliahmu, setelah kamu menjadi ibu dari anakku. Aku tak ingin kamu seperti Nala yang harus cuti kuliah karena hamil. Jadi ..."


Nathan pun mencium bibir Edelweiss. Balasan pun Nathan dapatkan karena mereka berdua sudah terbiasa berciuman, hanya tak pernah melakukan lebih dari itu. Namun kali ini, bisakah Nathan berharap lebih?


Tangan Nathan mulai masuk ke dalam dress yang digunakan oleh Edelweiss. Ia menaikkan dress tersebut hingga terlepas dari tubuh istrinya. Kini hanya tinggal pakaian dallam saja yang tersisa.


Sungguh, ini adalah pemandangan yang selalu diinginkan oleh Nathan, meski ia harus menahan diri. Ia membuka brra yang dikenakan oleh Edelweiss dan membuangnya sembarang. Ia mulai melum mat dan sebelah tangannya meremas.


Suara des sahan mulai terdengar dari bibir Edelweiss dan sangat merdu di telinga Nathan. Mereka melakukan pemanassan hingga akhirnya penyatuan pun terjadi. Ini adalah pertama kali bagi keduanya.


Edelweiss memegang punggung Nathan dengan kencang karena merasakan sakit saat milik Nathan menembus miliknya. Meskipun Nathan tak merasakan ada darah yang mengalir tanda bahwa Edelweiss masih tersegel, namun ia sangat yakin bahwa dirinya adalah yang pertama untuk istrinya itu. Kecelakaan hebat yang menimpa Edelweiss mungkin adalah salah satu penyebabnya.


"I love you, My Flower," bisik Nathan.


"I love you too."


Nathan mulai menggerakkan tubuhnya hingga des sahan nikmat terdengar di dalam kamar tidur itu. Nathan yang awalnya berencana pergi kuliah, sepertinya akan mengurungkan niatnya karena sepertinya lebih baik ia mengurung istrinya di dalam kamar seharian.


Keduanya mencapai puncak bersamaan dan mereka berdua kembali terlelap. Baik Ten maupun kedua orang tua Nathan tak ada yang mencari Nathan, bahkan Ten dengan santainya masih menikmati cemilan yang disuguhkan oleh salah satu pelayan setelah makan pagi selesai dibereskan.


"Lama sekali, mentang mentang puasa berbulan bulan, begitu buka ... Lupa kuliah dia," gumam Ten sambil memasukkan kembali cemilan ke dalam mulutnya kemudian menyesap kopinya.


🧡 🧡 🧡