Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
TIDAK BERHARAP



"Nala!" Untuk kedua kalinya Nala mendengar namanya dipanggil.


"Dev!" mata Nala membulat ketika melihat teman satu universitasnya juga sudah kembali ke New York.


Nala langsung menghampiri Devian dan seperti biasa, Devian selalu bersama dengan Mario. Keduanya memang bagai pinang dibelah kapak, tidak mirip sama sekali, tapi selalu saja bersama sama.


"Kamu bersama ...?"


"Ah ya kenalkan, ini sepupuku Ava," Nala memperkenalkan.


Devian dan Mario bersalaman dengan Ava, seorang gadis kecil berusia 12 tahun. Nala yang tadi sedang tidak mood, kini mengambil tempat duduk persis di hadapan Devian dan Mario. Ava pun duduk di sebelah Nala.


"Mar, kamu diam saja. Apa kamu merindukan Eleanor?" goda Nala yang duduk di hadapan Mario. Nala selalu berusaha menghilangkan kecanggungan di antara dirinya dengan Mario.


Bagi Nala, Mario adalah seorang pria yang baik dan bisa dijadikan teman. Mungkin kalau tak pernah ada cinta pada One di hati Nala, ia akan jatuh hati pada Mario.


Mario menatap mata Nala dan ia masih tak melihat cinta di mata wanita itu. Ia menghela nafasnya pelan karena sepertinya ia harus mulai mengubur perasaannya dalam dalam.


"Aku tidak menyukai Eleanor, Na. Aku hanya suka pada ...."


"Ayo kita pesan makanan saja," ucap Nala, agar Mario tak melanjutkan perkataannya. Ia tak ingin Ava mendengar ucapan Mario.


Nala dan Devian masing masing memegang satu buah buku menu. Mereka membolak balik buku tersebut sambil memilih makanan apa yang hendak mereka pesan. Sementara itu, Mario dan Ava hanya diam dan melihat saja.


"Kamu mau makan apa, Va?" tanya Nala sambil menyodorkan buku menu yang sudah terbuka pada sepupunya itu.


Ava hanya melihat sebentar kemudian menunjuk sesuatu, "ini saja dan lemon tea."


Ava akan diam bila berada di hadapan orang orang yang baru dikenalnya. Tapi kalau dengan yang sudah ia kenal dekat, ia akan lebih banyak bicara meski tetap lebih banyak diam.


"Aku samakan saja dengannya," ucap Mario.


Devian pun memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka. Makan siang berempat, tapi pembicaraan hanya terjadi di antara Nala dan Devian, sementara Mario dan Ava lebih banyak diam.


Setelah selesai, Ava meminta Nala menemaninya ke toko buku yang ada di Mall itu. Mario dan Devian pun mengikuti langkah keduanya. Saat menuju ke toko buku, mata Nala kembali menangkap sosok One yang tengah makan berdua dengan Nine di sebuah restoran Jepang.


Tak ingin melihatnya karena hanya akan membuat hati Nala sakit, ia memalingkan wajahnya. Ia bergegas menuju ke toko buku untuk menemani Ava.


"Buku apa yang ingin kamu beli, Va?" tanya Nala.


"Buku musik," jawab Ava.


"Kamu benar benar ingin belajar musik?" tanya Nala yang melihat kesungguhan serta keseriusan Ava sejak tadi.


"Aku harus bisa, kak. Kalau tidak ... Ryan tak akan suka padaku," jawab Ava pelan.


Mata Nala membulat ketika mendengar jawaban Ava. Ntah mengapa ia merasa ingin marah saat mendengarnya, tapi tak mungkin ia memarahi Ava di toko buku tersebut.


Nala menoleh ke belakang, berharap Mario dan Devian tak mendengar pembicaraan mereka, meskipun mereka berada dalam jarak yang dekat.


"Kita pulang sekarang saja ya, kakak ingin berbicara sesuatu denganmu," ucap Nala dan akhirnya diangguki oleh Ava.


"Mar, Dev, kami pulang dulu ya. Thank you sudah menemani kami," ucap Nala sekaligus pamit.


Nala tersenyum pada keduanya lalu pergi dari sana. Hati Mario masih terasa sakit jika melihat senyum manis yang tercipta di wajah Nala, apalagi jika mengingat penolakan Nala kala itu.


"Kita juga pulang, Dev. Aku lelah," ujar Mario."


"Baiklah, ayo!"


Nala mengirimkan pesan pada One bahwa mereka telah menunggu di lobby Mall. Nala sedang berusaha menahan diri untuk tak mengharapkan mendengar suara One, karena hanya akan membuatnya semakin tak bisa melepaskan bodyguard nya itu untuk wanita lain.


Keduanya duduk di sebuah kursi tunggu panjang yang terbuat dari kayu. Mata Nala menatap keluar. Ia tak ingin melihat saat One datang bersama dengan Nine. Ia ingin menjaga hatinya.


"Kalian sudah menunggu lama?" tanya One yang menghampiri keduanya.


"Tidak, Uncle," jawab Nala singkat.


One segera meminta mobilnya pada petugas valet, kemudian seperti yang ia lakukan tadi pagi, ia kembali melakukannya. Nala hanya bisa menghela nafasnya pelan, kemudian membuang pandangannya ke arah jendela.


Tak ada pembicaraan sama sekali di dalam mobil tersebut, bahkan tidak pula suara musik. Sunyi, itulah yang bisa dirasakan. Setiap orang seakan sibuk dengan pikirannya masing masing.


*****


"Nic! Berapa lama kami harus menunggu? Kami lelah jika harus hidup seperti ini," ujar Fanta dan Amadea.


Sejak kejadian di acara kelulusan mereka, Starla tak pernah terlihat bersama ketiga temannya. Ia seakan menghindar dan memilih untuk pergi dari Kota New York.


"Ah! Aku bosan sekali mendengar gerutuan kalian! Misiku saja belum berhasil, kalian hanya bisa terus merongrongku," ucap Nicole.


"Ini semua kesalahanmu, Nic! Kamu yang bermasalah dengan Elis, kami yang akhirnya terkena getahnya karena kamu justru menyakiti Nala," ujar Fanta.


"Itu urusan kalian, bukan urusanku!" teriak Nicole.


Dan aku yakin orangku telah berhasil menghancurkan keluarga Edelweiss Rivera. Aku tak lagi membutuhkan kalian. Sekarang aku hanya mengincar Nathan. - batin Nicole.


Fanta dan Amadea tentu saja tak menerima ucapan Nicole. Mereka menganggap Nicole egois dan hanya memperalat mereka saja. Tanpa banyak bicara lagi, Amadea langsung menarik rambut Nicole, sementara Fanta menyiram pakaian Nicole dengan minuman yang mereka pesan. Kebetulan sekali tadi Fanta memesan kopi dan pasti masih hangat sekali.


"Ahhh!!!" teriak Nicole yang semakin mengundang perhatian para pengunjung coffee shop itu.


Fanta dan Amadea pun segera keluar dari sana, meninggalkan Nicole dengan keadaan yang berantakan.


*****


Sesampainya Nala di Kediaman Keluarga Thomas, ia langsung turun tanpa menunggu One membukakan pintu. Ia akan mencoba menjadi pribadi yang mandiri.


Sebenarnya Nala bisa melakukan semuanya sendiri, hanya saja ia selalu dengan sengaja berpura pura agar One selalu membantunya. Hal itu agar mendekatkan One pada dirinya.


Namun, sekarang tidak lagi. Nala tak ingin berharap pada sesuatu yang kosong. Ia harus mencintai dirinya sendiri bukan?


One melihat ke arah Nala yang langsung mengajak Ava untuk masuk. Sikap Nala yang tak seperti biasa, dianggap One karena ada orang lain di sekitar mereka. Ia pun tak akan mempermasalahkannya. Ia yakin bahwa Nala akan kembali seperti semula saat Tuan Axton dan keluarganya kembali ke Jakarta.


🧡 🧡 🧡