
"Selamat siang, Tuan Azka," sapa Kenji Haskata.
Azka yang menerima kedatangan tamu yang tak lain adalah salah seorang pengusaha asal Jepang, kini duduk di ruang tamu kediamannya. Kenji langsung mendatangi Azka ke rumah.
"Selamat siang, Tuan Kenji," Azka berjalan menghampiri Kenji dan kini duduk di hadapannya, "Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan Kenji?"
"Maaf jika saya mengganggu anda, Tuan Azka. Saya datang ke sini untuk membicarakan sedikit masalah pribadi."
Azka tahu siapa Kenji Haskata dan masalah pribadi yang ingin pria itu bicarakan, pasti tentang cucunya, Erwan Haskata.
"Masalah pribadi sebaiknya anda menyelesaikan sendiri, Tuan Kenji. Saya bukan orang yang ingin tahu apalagi mencampuri urusan pribadi orang lain," ucap Azka tegas dan membuat nyali seorang Kenji sedikit ciut.
"Tapi saya memerlukan bantuan anda, Tuan Azka. Saya sangat tahu bahwa cucu saya, Erwan Haskata, sangat menurut pada anda," ucap Kenji.
"Maaf, Tuan Kenji. Sekali lagi saya tegaskan, saya tak akan ikut campur masalah pribadi siapa pun, kecuali keluarga saya sendiri. Anda bisa mencari cara lain untuk berbicara dengan cucumu," ucap Azka yang akhirnya meninggalkan Kenji bersama dengan asisten pribadinya.
Kenji Haskata, akhirnya keluar dari Kediaman Azka Williams dengan raut wajah kecewa. Ia yang awalnya ingin meminta bantuan seorang Azka Williams untuk membawa cucunya kembali ke Jepang, ternyata gagal.
"Kalau cara ini tak bisa, berarti aku memang harus menggunakan wanita itu. Aku yakin jika aku menangkap wanita pelayan itu, maka Erwan akan menuruti permintaanku," gumam Kenji.
*****
Nala kembali ke rumah setelah bekerja di cafe dan menyelesaikan kuliah nya hari ini. Nala selalu mencari kesibukan agar pikirannya tidak terus menerus memikirkan One.
Ia membuka pintu dan menatap kembali apa yang dilihatnya tadi pagi. Ia menghela nafasnya pelan.
Mengapa aku terus memikirkannya? - batin Nala.
Ia segera membersihkan diri dan seperti biasa, ia akan meminum segelas air putih, lalu beranjak tidur. Tak sampai 5 menit, Nala telah memejamkan matanya.
One yang melakukan hal seperti semalam, kembali masuk ke dalam unit apartemen Nala. Ia ingin kembali tidur sambil memeluk Nala. Biarlah untuk saat ini orang orang menganggapnya pengecut, tapi ia sedang menunggu Nala lebih dewasa, baru One akan menikahinya.
One yang hanya menggunakan T-shirt berwarna putih, serta celana boxer, membuka pintu kamar tidur Nala. Ia melihat Nala yang telah terlelap.
"Maafkan aku," gumam One.
Ia melangkahkan kakinya, kemudian naik ke atas tempat tidur. Seperti malam sebelumnya, ia membawa Nala ke dalan pelukannya, kemudian mencium kening gadis kecilnya itu.
"Aku tahu Uncle mencintaiku. Jangan berbohong lagi dengan perasaanmu," ucap Nala tiba tiba, membuat One ingin melepaskan pelukannya. Sungguh, One kaget mengetahui Nala tidak terlelap. Bukankah ia telah mencampurkan obat tidur di dalam air mineral yang biasa Nala minum? Tapi tenang saja para readers, One tahu obat tidur yang aman untuk gadia kecilnya itu.
Namun, Nala langsung mengeratkan pelukannya di pinggang One. Ia tak ingin Uncle tampan kesayangannya itu pergi meninggalkannya.
"Kamu tidak tidur?" tanya One.
"Tentu saja tidak. Siapa yang akan tidur jika aku tahu akan kedatangan tamu," jawab Nala.
"Aku tak akan membiarkanmu pergi, Uncle. Aku mencintaimu. Nala mencintaimu. Uncle, I love you," ucap Nala kemudian melabuhkan sebuah ciuman di bibir One.
Menatap mata Nala dan merasakan bibir manis Nala, membuat One tak bisa menahan gejolak di dalam dirinya. Ia tak peduli lagi jika Tuan Michael dan Nyonya Alexa nanti menentang hubungannya. Ia akan berusaha meraih restu dari kedua orang tua Nala. One tahu, usianya sangat jauh berbeda dengan Nala, tapi pesona gadis kecilnya itu tak dapat ia tolak begitu saja.
Namun, One menghentikan semuanya. Ia tak ingin kebablasan dan terlihat buruk di mata Michael dan Alexa nantinya. Jika ia mau melakukan itu dengan Nala, maka ia harus menikahi gadis kecilnya, dan mendapatkan restu dari kedua orang tua Nala.
One memeluk Nala dengan erat, membenamkan wajah Nala ke daddanya yang masih terlapis dengan T-shirt yang ia gunakan.
"Dari mana kamu tahu aku akan datang?" tanya One.
"Aku mengenali wangi Uncle dan ... Di meja depan tadi pagi, ada segelas kopi. Hanya dirimu yang suka minum kopi jika bersamaku," jawab Nala.
One merutuki dirinya yang kurang teliti membereskan semuanya tadi pagi, sebelum Nala terbangun. Nala tersenyum melihat wajah One yang seakan sedang mengumpati dirinya sendiri.
Dengan berani, Nala kembali mencium bibir One. Ciuman yang Nala berikan begitu lembut dan hangat, membuatnya menjadi candu bagi One.
"Apa aku boleh mencintaimu, Na?" tanya One berbisik.
"Tentu saja, Uncle. Nala akan dengan senang hati menerima cinta Uncle."
"Lalu, bagaimana dengan kedua orang tuamu?"
"Dad dan Mom tak memiliki kriteria yang rumit. Bagi mereka yang terpenting adalah kebahagiaanku dan aku bahagia saat Uncle membalas cintaku," ucap Nala.
"Tidurlah, kamu pasti lelah. Bahkan kamu pergi meninggalkan Uncle dan memilih bekerja seperti ini?"
"Aku harus mencari kesibukan untuk melupakanmu, Uncle. Kamu mencintai wanita lain, aku sedih," ucap Nala jujur.
One tersenyum kecil, "sejak dulu, hanya dirimu yang menarik perhatianku. Menyaksikan dirimu tumbuh dari gadis kecil menjadi seperti sekarang, membuat rasa itu semakin lama tumbuh dengan suburnya."
"Lalu mengapa Uncle selalu bisa tertawa dan tersenyum dengannya, sementara denganku tidak," Nala sedikit mendongakkan kepalanya.
One menatap wajah Nala yang terlihat begitu menggemaskan, "siapa yang kamu maksud?"
"Nine."
Mendengar nama Nine, One pun tertawa dengan lebar. Ini adalah pertama kalinya Nala melihat One tertawa selepas itu dan membuat pria itu semakin tampan saja.
"Nine sudah menikah, Na. Ia sedang mencurahkan isi hatinya karena ingin resign, tapi Tuan Axton selalu menolak permintaannya."
"Mengapa dia ingin resign? Bukankah bekerja dengan Uncle Axton akan mendapatkan gaji yang besar?" tanya Nala.
"Tak semua hal bisa dilihat dari besarnya gaji, Na. Nine ingin cepat hamil dan memiliki anak. Ia dan suaminya sudah menikah selama 4 tahun, tapi mereka belum dikaruniai momongan. Keduanya sibuk, membuat hubungan mereka menjadi renggang. Nine meminta bantuanku untuk berbicara dengan Tuan Axton."
"Apa karena itu juga, Uncle pergi ke Jakarta?" tanya Nala.
"Hmm ... Aku menggantikan tugas Nine di sana. Sebenarnya aku lebih suka menjadi bodyguard mu saja, tapi ... Kamu membuangku," ucap One dengan sendu. One sengaja menggoda Nala.
"Uncle!" teriak Nala, "Sebenarnya aku marah pada Uncle. Uncle tak pernah menganggapku. Bahkan Uncle menyembunyikan sesuatu yang begitu penting bagiku."
🧡 🧡 🧡