Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
MERASA BERSALAH



Cuppp ...


Sekali lagi Nala mencium bibir One yang hanya diam saja.


"Maaf, Uncle. Aku sengaja," ucap Nala sambil tersenyum.


One seakan baru tersadar dari apa yang ia rasakan, ia langsung memindahkan Nala ke samping dan ia bangkit dari duduknya. Apa yang Nala lakukan barusan tidaklah benar. One tak ingin Tuan Michael dan Nyonya Alexa menganggap dirinya mencari kesempatan dengan melakukan hal tidak baik pada putri mereka.


"Uncle!" Nala menahan tangan One dan menarik bodyguardnya itu untuk tetap duduk di dekatnya. Ia benar benar merindukan pria tampan itu.


"Lepaskan tangan Uncle, Na," pinta One.


"Duduk dulu, Uncle. Ada sesuatu yang mau kutanyakan."


One akhirnya duduk, tapi ia tak membiarkan Nala terlalu dekat dengannya karena ia tak ingin Nala salah paham dengan sikapnya. One juga tak ingin berharap lebih pada Nala karena gadis itu masih muda. Ia pasti akan menemukan seorang pria yang akan menaklukkan hatinya. Seseorang yang bisa menjaga dan mencintainya. Dan bila saat itu datang, maka One akan pergi karena ia telah menyelesaikan tugasnya.


"Ada apa?" tanya One.


"Uncle, bisakah Uncle mencari tahu tentang sahabatku, Elis. Sejak aku masuk rumah sakit, ia hanya sekali mengunjungiku. Lalu ia pamit karena ingin pergi ke Toronto. Ia berjanji akan menghubungiku, tapi ... Aku bahkan tak bisa menghubunginya hingga hari ini," ucap Nala yang wajahnya tiba tiba berubah sendu.


"Elis? Edelweiss?" tanya One meyakinkan pertanyaan Nala.


Jangan beritahu Nala di mana Edelweiss berada. Aku tak ingin ia bersedih karena melihat kondisi Edelweiss. Biar aku yang akan mengurus semua itu dan mengembalikannya pada Nala jika saatnya sudah tepat. - One mengingat kembali perintah Nathan sebelum ia berangkat.


"Iya, Uncle. Bantu aku," pinta Nala.


"Uncle akan membantumu, tapi tak bisa menjanjikan apa apa."


"Ya, aku mengerti," ucap Nala.


*****


3 minggu berlalu, kini Nala sudah masuk dalam perkuliahan. Nala mengambil jurusan seni yang berhubungan dengan film dan studi visual. Ia memang tak terlalu menyukai masalah bisnis. Untung saja Dad Michael dan Mom Aleza tak pernah memaksanya dan memilihkan satu jurusan sesuai kehendak mereka. Mereka justru membebaskan ketiga putra putrinya untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Hanya yang terpenting, mereka harus tetap tekun.


"Hai, Mar!" sapa Nala saat menjumpai Mario di universitas yang sama dengannya, begitu juga dengan Devian.


"Hai, Na!" Devian yang membalas sapaan Nala.


Mario dan Devian berada di jurusan arsitektur. Nala tetap berusaha menjaga hubungan pertemanan yang baik dengan keduanya, meskipun Mario masih sedikit canggung padanya.


"Kamu akan pulang?" tanya Devian.


"Hmm," jawab Nala sambil menganggukkan kepalanya.


"Temani kami minum kopi dulu di cafe depan, bagaimana?" ajak Devian.


"Baiklah," Nala mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada One.


One selalu menemaninya di Kota ini. Keduanya menempati apartemen yang bersebelahan, padahal Nala sangat berharap mereka bisa tinggal dalam satu apartemen.


Nala, Mario, dan Devian kini telah sampai di cafe. Mereka pun mencari tempat duduk dan memesan minum serta makanan ringan.


"Kamu betah, Na?" tanya Devian.


"Mario!" seorang wanita tampak mendekati meja mereka dan langsung menggeser tubuh Mario hingga ia bisa duduk di samping Mario.


"Aku merindukanmu!" wanita itu melingkarkan tangannya di lengan Mario dan mulai berucap manja. Devian yang melihat itu hanya bisa menelan salivanya pasalnya dirinya lah yang memberitahu pada Eleanor.


Wanita itu terlihat sangat menyukai Mario. Devian berharap dengan adanya Eleanor, Mario bisa melupakan Nala dan menganggapnya sahabat saja.


"Halo, kenalkan namaku Nala," Nala menyodorkan tangannya untuk berjabatan dengan Eleanor.


"Hai! Namaku Eleanor, kamu bisa memanggilku El saja," ucap Eleanor.


"El?" tiba tiba saja Nala kembali teringat pada Edelweiss, sahabatnya. Sampai hari ini, Edelweiss tak pernah menghubunginya. Bahkan One tak mendapatkan informasi apapun tentangnya.


Sebenarnya kamu ke mana, El? Apa kamu sudah tak menganggapku sahabatmu lagi? Atau kamu sudah mendapatkan sahabat baru hingga melupakanku? - batin Nala.


"Aku akan memanggilmu Lea saja," Nala masih ingin mencari informasi mengenai Edelweiss. Ia akan menunggu sebentar lagi. Jika memang sahabatnya itu tak menghubunginya sama sekali, maka ia menganggap bahwa persahabatan mereka telah terputus.


"Aku tidak suka dengan panggilan Lea, kurang feminim," ujar Eleanor dengan wajah tak suka.


"Baiklah, El. Kita berteman," ucap Nala.


"Kamu sekarang temanku, beratti kamu bisa membantuku mengawasi Mario kan? Aku menyukainya! Dan aku tak ingin ada yang mendahuluiku untuk menjadi kekasihnya," Eleanor berbicara dengan jujurnya, bahkan terkesan blak blak an.


"Kalau urusan mengawasi Mario, sebaiknya kamu meminta tolong pada Devian. Mereka sudah seperti sepasang kekasih, menempel ke mana pun mereka pergi," ucap Nala dan membuat Eleanor tertawa.


"Kamu menyenangkan, Na. Aku menyukaimu dan sepertinya aku akan sangat senang berteman denganmu. Bagaimana kalau kita merayakan hari pertama pertemanan kita ini?" ujar Eleanor yang kemudian memanggil seorang pelayan.


Nala setuju dan mereka berdua memesan makanan. Kali ini Nala memesan makan berat, begitu juga dengan Eleanor. Sementara itu, Mario dan Devian hanya menatap Nala dan Eleanor yang terlihat begitu akrab hingga keduanya bahkan tak menganggap keberadaan mereka.


Di kursi yang lain di dalam cafe, one sedang menyesap kopi miliknya yang masih mengepulkan asap. Ia mengawasi Nala dalam jarak tertentu karena tak ingin mengganggu Nala saat bersama dengan teman temannya.


*****


One mengantar Nala pulang ke Kediaman Thomas. Tak seperti biasa di mana One akan menemaninya hingga ke dalam, kali ini One hanya menurunkannya di area parkir mobil karena ia harus pergi lagi menemui Ten.


Nala menatap kepergian One hingga mobil yang dikendarai pria itu tak terlihat lagi. Setelah itu, ia melangkahkan kaki memasuki rumah.


Saat sampai di ruang keluarga, ia bersembunyi di balik lemari karena mendengar kedua orang tuanya tengah berbicara.


"Kita harus mencarikan bodyguard baru untuk Nala."


"Tak mungkin! Nala pasti tak akan mau," ujar Michael.


"Ia harus mau, sayang. Kita tak mungkin terus mengikat One di sini hanya karena Nala. Ia bahkan meninggalkan Jakarta, tempat yang tak pernah ingin ia tinggalkan," ucap Alexa.


"Keberadaan One di sini hanya karena ia merasa bersalah pada Nala. Kita tak berhak membelenggunya. Nala sudah sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa. Kita harus memulangkan One kembali ke Jakarta. Usia One sudah cukup untuk menikah. Kita tak mungkin membuatnya menjomblo hanya karena menjaga Nala," lanjut Alexa.


Merasa bersalah padaku? - batin Nala.


🧡 🧡 🧡