
Hari ini Keluarga Axton dan juga Michael, berencana pergi ke pantai. Keluarga Williams memiliki sebuah resort yang ada di tepi pantai. Sudah lama sekali rasanya mereka tak berkumpul dan menikmati kebersamaan, karena saat ini Azka dan Mia sedang berkeliling Eropa untuk menikmati liburan mereka.
Nala tak membawa banyak barang, begitu pula Ava. Mereka hanya akan berada di sana selama seminggu dan ada asisten rumah tangga di resort yang akan membanti mereka mencuci pakaian, jadi pakaian yang mereka bawa bisa dipakai lagi.
Nala membawa koper kecil. Ia menghampiri mobil di mana One sudah menunggu.
"Berikan pada Uncle, Na," ucap One.
"Tidak perlu, Uncle. Bukakan saja bagasinya, aku bisa melakukannya sendiri," ucap Nala.
Ya, sejak kemarin ia telah memutuskan untuk belajar lebih mandiri. Ia tak ingin menyusahkan orang orang di sekitarnya, apalagi merasa terbebani dengan dirinya.
One yang memang belum membuka bagasi pun akhirnya membukakan. Nala mengangkat kopernya dan meletakannya di bagasi mobil itu. One sedikit membantunya tapi sepertinya bantuannya tak begitu dibutuhkan oleh Nala.
Setelah itu, Nala langsing membuka pintu bagian belakang dan duduk di sana, tanpa menunggu One membukakan. Saat duduk, Nala menghela nafas pelan yang tentu saja tak akan terdengar oleh siapa pun.
Aku bisa, aku pasti bisa! Aku akan menjadi wanita mandiri, wanita yang kuat! Aku akan membebaskanmu, Uncle. Segera. - batin Nala, yang kemudian mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah One dari balik jendela.
Sementara itu, One yang melihat perubahan sikap pada Nala mulai merasa aneh. Tak ada siapa pun di sana, tapi sikap Nala masih berbeda tak seperti biasanya. Kehilangan? Ya. One seperti merasa tak diperlukan oleh Nala, padahal baru dua hari sikap Nala berbeda.
Mereka menggunakan dua mobil, yang satu dikendarai oleh One dan yang satu lagi oleh Nine. Mereka juga dikawal oleh sebuah mobil yang diisi oleh beberapa orang anggota Black Alpha.
Nicholas yang juga ikut serta, kini duduk di depan, tepatnya di samping One. One melihat dari arah spion tengah apa yang sedang Nala lakukan dan ternyata gadis itu hanya diam sambil menatap ke arah luar jendela. Biasanya, jika mereka bepergian, maka Nala akan berebut untuk di depan, tapi kini tidak.
Apa yang sedang kamu pikirkan, One? Mengapa kamu mengharapkannya seakan bucin padamu? Kamu tahu, Nala menyukaimu, bahkan ia pernah mengatakan kalau ia mencintaimu, tapi apa balasanmu? Diam, itulah yang kamu lakukan. Kamu pria pengecut? - batin One. Ia seakan sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
*****
Sesampainya mereka di rumah resort pantai, mereka masuk ke dalam kamar tidur masing masing. Nicholas sekamar dengan Alex, lalu Nala sekamar dengan Ava.
Setelah meletakkan barang mereka, Nala keluar dari kamar yang langsung bisa melihat ke arah pantai. Ia berpegangan pada railing balkon yang terbuat dari kayu itu dan merasakan angin dan wangi pantai yang membuatnya lebih tenang.
Nala sudah menggunakan pakaian renang one piece dan bagian bawah ditutupi oleh kain berwarna warni. Ia juga mengenakan kacamata hitamnya. Ia membiarkan rambutnya tergerai dan ditiup oleh angin.
"Kita jalan jalan di pantai, Va," ajak Nala.
"Aku ingin istirahat sebentar, Kak. Aku masih agak lelah," ucap Ava.
Nala melihat Ava tengah berbaring di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Ia tak ingin memaksakan kehendaknya pada Ava yang sepertinya sedang mulai dalam masa masa puber. Ia bahkan tak melepas ponselnya sejak tadi dan Nala sangat tahu siapa yang dihubungi oleh Ava. Nala sudah menasihatinya, bahwa pria seperti Ryan tak perlu disukai, karena ia menuntut Ava harus bisa ini dan itu, seperti ini dan itu.
"Kalau begitu, kakak keluar sebentar ya. Kalau ada yang bertanya, bilang saja kakak jalan jalan di pantai," ucap Nala.
"Baik, Kak."
Tanpa mengenakan topi, Nala berjalan di pinggir pantai. Sesekali ia menendang pasir yang ia injak. Lalu ia berhenti di satu titik dan duduk di sana sambil menatap ke arah lautan.
Nala membuka kain penutup bagian bawahnya dan merentangkannya di atas pasir. Ia berbaring di atasnya, menatap langit yang sedang tak terlalu silau karena matahari sedikit bersembunyi di balik awan.
"Hai!" sapa keduanya.
Nala yang tadi sedang memejamkan mata dan menikmati kehangatan matahari serta semilir angin, kini merasa terganggu. Apalagi Nala tak mengenal dua orang pria itu. Nala pun langsung bangkit dari tidurnya dan duduk, kemudian membuka kacamata hitamnya.
"Perkenalkan, namaku Tio."
"Aku Dom," ucap mereka bergantian.
"Bolehkah kami duduk di sini menemanimu?" tanya Tio.
"Maaf, bisakah kalian pergi? Aku sedang ingin sendiri," jawab Nala.
"Seorang wanita tidak boleh sendirian, apalagi wanita secantik dirimu. Kamu harus ditemani dan kami dengan sukarela bersedia menemanimu."
"Aku tak memerlukannya, jadi silakan pergi."
"Uluh uluh, sombong sekali dirimu," Dom mulai menyentuh dagu Nala dengan jari jemarinya.
"Apa kamu masih tak mengerti apa yang kukatakan?" tanya Nala yang sudah mengepalkan tangannya. Ia masih menahan diri untuk tak berbuat kasar.
"Kulitmu halus sekali," kini giliran Tio yang memberikan elusan pada lengan bagian atas Nala.
"Sialannn!! Kalian mau bermain main denganku, hah?!" teriak Nala.
Bughh
Bughhh
Daggg dughhh
One yang memperhatikan Nala sejak tadi pun sudah berjalan mendekati Nala. Ketika ia sampai di dekat Nala, dimua orang pria tersebut sudah terkapar di atas pasir dengan lebam dan memar di wajah serta beberapa bagian tubuhnya.
"Kamu baik baik saja, Na?" tanya One khawatir. Pasalnya sejak tadi ia hanya memperhatikan. Dua pria tadi adalah pemilik resort di sebelah resort Keluarga Williams, jadi One tak terlalu berpikiran negatif.
"Ya," jawab Nala singkat. Ia berjalan dengan pakaian renangnya, tanpa membungkus lagi dengan kain, karena di atas kain itu sudah ada dua pria yang tertidur dengan lelap.
"Lain kali jangan memakai pakaian seperti itu dan sendirian. Pakailah ini," One bermaksud membuka T-shirt yang sedang ia pakai dan ingin memberikannya pada Nala.
"Tak perlu, Uncle. Terima kasih. Aku bisa melindungi diriku sendiri. Lagipula ini di pantai, tidak masalah jika aku mengenakan pakaian renang seperti ini," ujar Nala, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke arah resort.
One yang mendengarkan jawaban Nala terdiam, seakan tak mampu membalas ucapan wanita yang selalu ia jaga sejak kecil itu. Ia hanya bisa menatap punggung Nala yang semakin berjalan menjauh.
Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Na? - batin One.
🧡 🧡 🧡