
Nala tak menyangka bahwa persiapan pernikahannya telah rampung sembilan puluh persen. Taman belakang Kediaman Keluarga Thomas akan menjadi lokasi tempat Nala dan One mengucapkan janji setia mereka.
"Semua sudah siap?" Nala seakan tak percaya apa yang ia lihat.
"Semua pasti cantik sekali kan, Na? Aku bahkan bisa mencium harum bunga bungaan," ucap Edelweiss.
"Sangat, El. Ini sangat cantik, aku bahkan ingin menangis sekarang. Aku benar benar tak percaya kalau impianku untuk menikah dengannya akan terwujud," ucap Nala.
"Kamu adalah gadis yang baik, Na. Kamu pantas mendapatkan hal yang baik," ucap Edelweiss.
Nala melihat One yang tengah melihat progress persiapan acara pernikahannya. Dari kejauhan Nala tersenyum melihat bagaimana One mengatur semuanya.
*****
"Dia kembali ke New York?" ujar Fanta yang memegang ponselnya dan berbicara dengan seseorang.
Setelah mendapatkan kabar bahwa Nala dan Edelweiss kembali ke New York, Fanta merasa ini adalah saatnya ia melaksanakan rencananya. Kehidupannya semakin hancur karena perusahaan ayahnya benar benar bangkrut. Kerabat ayahnya tak bisa membantu karena mereka juga mengetahui asal muasal kehancuran perusahaan keluarga Fanta. Hal itu membuat mereka menghindar dan berjaga agar perusahaan mereka tak ikut mengalami kehancuran.
"Dea! Ke rumahku sekarang!" ucap Fanta di ponsel. Ia menghubungi Amadea, karena ia memerlukan Amadea untuk membantunya menjalankan rencananya.
*****
Keesokan harinya, Keluarga Williams dan Keluarga Thomas tampak berkumpul di Kediaman Michael dan Alexa, di mana acara pesta pernikahan One dan Nala dilaksanakan.
"Duduk!" perintah Azka pada One dan Nala. Keduanya tahu mereka telah melakukan kesalahan dengan pergi tanpa izin. Akan tetapi, Nala merasa ia melakukan hal yang tepat, apalagi Edelweiss telah sadar dan butuh seseirang untuk menemaninya.
"Maafkan saya, Tuan. Ini semua adalah kesalahan saya," ucap One.
"Pernikahan kalian akan dilakukan besok. One, aku tak mau kamu mengambil keputusan seperti itu lagi, meskipun itu untuk kebahagiaan Nala. Saat ini, situasi masih tidak baik. Aku tak ingin terjadi hal yang buruk pada cucuku," ucap Azka memperingatkan.
"Saya mengerti, Tuan," ucap One.
"Ini kesalahan Nala, Grandpa. Maaf," ucap Nala.
"Ya, ini juga kesalahanmu. Apa yang kamu lakukan menunjukkan bahwa kamu tidak mempercayai kami," ucap Azka.
"Grandpa!!! Maafkan Nala. Bukan maksudku seperti itu, aku hanya sangat merindukan Edelweiss dan ingin sekali bertemu dengannya," ungkap Nala.
Saat ini, Edelweiss tengah berada di dalam kamar tidur yang dipersiapkan oleh Keluarga Nala. Tadi Nala menemaninya, tapi minta izin keluar karena kakeknya ingin berbicara dengan dirinya dan juga One.
Hingga malam menjelang, Edelweiss telah berbaring di atas tempat tidurnya. Ia memejamkan matanya, meskipun dibuka ataupun ditutup, yang ia lihat adalah sama, gelap.
Besok adalah hari penuh kebahagiaan untuk Nala. Sebagau seorang sahabat, Edelweiss akan terus tersenyum di depan sahabatnya itu. Ia tak akan membuat Nala ikut dalam kesedihannya. Biarlah semua itu ia saja yang merasakan.
Baru saja ia mencoba memejamkan matanya, ia mendengar pintu kamar tidurnya terbuka.
"Apa itu kamu, Na?" tanya Edelweiss. Namun, tak ada jawaban. Edelweiss merasa suara langkah kaki mendekatinya, membuat jantungnya tiba tiba berdegup kencang karena takut.
"Aku di sini," Edelweiss mengenali suara itu.
"Nathan?"
"Ya, aku di sini."
Edelweiss mencoba untuk bangun dari tidurnya, tapi Nathan langsung memegang bahunya dan menahan.
"Berbaring saja, tidak usah bangun. Aku hanya ingin melihat keadaanmu," ucap Nathan.
"Aku tidak apa apa. Terima kasih," jantung Edelweiss selalu berdebar jika berada di dekat Nathan, tapi kini ia cukup sadar diri dengan kondisinya.
"Oh ya, maaf. Sepertinya aku tak bisa lagi menjalani tugasku. Tapi aku berjanji akan mengganti uangmu saat aku sudah bisa bekerja nanti," ucap Edelweiss.
Nathan tak mengatakan apapun, ia hanya mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan Edelweiss.
"Aku keluar dulu. Beristirahatlah," ucap Nathan.
"Terima kasih."
Edelweiss mendengar langkah kaki menjauh dan pintu kembali tertutup. Ia menghela nafasnya pelan karena merasa lega bahwa Nathan telah keluar dari sana. Ia tidak tahu bagaimana nanti keadaan jantungnya jika Nathan terus berada di dekatnya.
Tanpa ia ketahui, Nathan tak keluar dari kamar. Ia masih berada di dekat pintu dan memperhatikannya.
Apa kamu tak bisa menyadari bagaimana perasaanku padamu? - batin Nathan.
🧡 🧡 🧡