Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
SESUAI CARA KITA



Nicole berlari menyusuri koridor rumah sakit. Ia pulang ke rumah, tapi tak mendapati keberadaan kedua orang tuanya. Asisten rumah tangganya mengatakan bahwa kedua orang tuanya sedang berada di rumah sakit.


Ia membuka pintu salah satu ruang rawat di sana. Terlihat beberapa tirai karena ruangan tersebut diisi oleh beberapa orang pasien.


"Mom," Mommy Nicole menoleh saat mendengar suara putrinya.


"Sayang, kamu di sini?"


"Apa yang terjadi pada Daddy, Mom?" tanya Nicole.


"Daddy tidak apa apa, hanya kelelahan saja," Mommy Nicole tak ingin membuat putrinya khawatir. Keluarga mereka sudah mengalami masalah dan ia tak ingin menambah beban putrinya yang mungkin belum siap dengan semua kenyataan yang ada.


"Jangan menutupi semuanya lagi dariku, Mom. Katakan semuanya, aku sudah siap menerimanya."


Sejak berbicara dengan One pagi itu, Nicole langsung pulang. Selama perjalanan, ia terus memikirkan tentang keluarganya. Selama ini, Ayah dan Ibunya selalu memenuhi semua keinginannya, bahkan mengijinkannya kuliah di jurusan yang jauh dari apa yang diharapkan oleh kedua orang tuanya. Ia juga lebih sering bermain main dan tak mempedulikan kuliahnya. Untuk tugas tugas, ia membayar orang untuk melakukan itu.


"Kita keluar dulu, sayang," ajak Mommy Nicole. Ia tak ingin mengganggu Daddy Nicole yang baru saja terlelap. Ia juga tak ingin masalah keluarganya terdengar oleh keluarga pasien lain.


Kini, keduanya duduk di kantin rumah sakit. Mommy Nicole sengaja mencari tempat duduk di bagian pojok agar lebih leluasa berbicara pada putri tunggalnya itu. Ia menggenggam kedua tangan putrinya,


"Daddy terkena serangan jantung. Ini sudah yang ketiga kalinya," ucap Mommy Nicole menjelaskan.


Mata Nicole membulat. Ia tak tahu bahwa Ayahnya memiliki riwayat sakit jantung. Bahkan ini sudah serangan yang ke tiga dan ia tidak tahu apa apa.


"Sayang, apa kamu telah menabrak seseorang hingga meninggal?" tanya Mommy Nicole.


"Menabrak? Meninggal?" Nicole mulai berpikir. Ia tak pernah menabrak siapa pun, tapi ia pernah meminta seseorang untuk memberi Edelweiss pelajaran, agar tak bermain main lagi dengan seorang Nicole.


Nicole terdiam, kemudian ia menatap Mommynya, "Siapa yang mengatakannya, Mom?"


"Fanta dan Amadea yang mengatakannya. Mereka adalah sahabatmu dan Mommy yakin mereka tak akan berbohong. Mereka mengatakan bahwa mereka khawatir kamu akan dipenjara dan meminta Daddy dan Mommy untuk membantumu."


"Lalu?"


"Mereka meminta uang untuk membayar kompensasi pada keluarga korban yang kamu tabrak," ucap Mommy Nicole.


Mata Nicole membulat ketika mendengar semua penuturan Mommynya. Fanta dan Amadea tak pernah tahu jika ia menyuruh seseorang untuk memberi pelajaran pada Edelweiss, tapi mengapa mereka mengatakan hal seperti ini pada kedua orang tuanya.


"Mom, aku pergi dulu. Aku akan segera kembali," ucap Nicole. Ia harus memastikan hal ini pada kedua orang temannya itu.


*****


"Wo wo wo ... Siapa ini? Si Tuan putri yang sudah jatuh miskin kah?!" ucap Fanta tertawa.


"Apa maksudmu mengatakan kebohongan pada kedua orang tuaku?" tanya Nicole.


"Suka suka aku! Lagipula, apa kamu peduli saat kami merasakan hasil perbuatanmu? Jangan mau menang sendiri! Dasar egois!" ucap Fanta lagi dengan mata yang menatap Nicole dengan tajam.


"Tapi kamu membuat Daddy ku masuk ke rumah sakit. Apa kalian tidak tahu kalau Daddy ku memiliki riwayat sakit jantung?"


"Itu bukan urusan kami. Itu semua adalah kesalahanmu, semua akibat perbuatanmu. Jangan menyalahkan orang lain, sebaiknya kamu introspeksi pada dirimu sendiri," kini Amadea yang menimpali.


"Kalian ...! Kalian bukan temanku!" teriak Nicole.


"Memang siapa yang mau menjadi temanmu hah?! Kami juga tidak akan mau lagi berteman dengan gadis miskin sepertimu. Cihhh!!! Menjijikkan! Pergi sana!" ucap Fanta yang langsung menarik Amadea untuk masuk ke dalam kamar tidurnya.


Nicole mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali rasanya ia menarik rambut keduanya dan memukul mereka. Namun, kewarasan seakan membuatnya tetap diam dan akhirnya memilih pergi.


Ia tahu, jika ia membuat kekacauan lagi, tentu akan berdampak buruk pada kesehatan ayahnya. Saat ini ia tak bisa untuk egois. Selama perjalanan kembali ke rumah sakit, bulir air mata seakan luruh begitu saja. Ia mengingat semua kesalahan yang ia lakukan.


"Bagaimana keadaan Edelweiss? Aku harus bertanya padanya," Nicole mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi seseorang.


*****


"Anda yakin akan melakukan hal ini, Tuan?" tanya asisten pribadi Kenji.


"Ya, kita harus melakukannya. Azka Williams tak mau membantu kita, maka kita harus melakukan sesuai cara kita sendiri," ucap Kenji.


"Tapi bagaimana kalau Erwan marah pada anda karena melakukan ini?"


"Aku tidak peduli. Hanya dia lah penerusku dan aku harus membawanya kembali ke Jepang, bagaimana pun caranya," ucap Kenji.


"Apa tidak sebaiknya kita membawa gadis itu ke Jepang? Dengan begitu, Erwan pasti akan ikut ke sana."


Kenji tampak berpikir, "Idemu boleh juga. Bawa saja gadis pelayan itu ke sana. Mau tidak mau Erwan pasti akan datang. Anggap saja kita berbaik hati pada gadis pelayan itu dengan membawanya berjalan jalan ke Jepang."


🧡 🧡 🧡