
"Kakak tidak tidur?" tanya Ava saat melihat Nala yang masih duduk di kursi meja belajarnya. Ia tengah memandangi layar ponselnya sendiri.
"Kamu tidur saja dulu, Va. Ada sesuatu yang harus kakak kerjakan," jawab Nala.
"Baik, Kak," Ava membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai memejamkan matanya. Ia sangat lelah karena perjalanan yang cukup lama dari Jakarta, meskipun di pesawat ia sempat tertidur.
Nala masih melamun sambil memandang salah satu foto One yang ia ambil secara sembarang, tanpa diketahui oleh One. Setiap malam, ia selalu menatap foto itu sebelum ia tidur.
Menatap foto One terus menerus, tiba tiba saja bulir air mata luruh di pipi Nala. Ia jarang sekali, bahkan hampir tak pernah menangis. Tapi ntah mengapa setiap kali melihat tawa One yang begitu lepas dan itu bukan dengannya, hati Nala begitu sakit.
El, kamu di mana? Mengapa kamu meninggalkanku tanpa kabar? Aku membutuhkanmu! - batin Nala sambil terisak kecil. Ia tak ingin membangunkan Ava.
*****
Keesokan harinya, kembali mereka melakukan sarapan bersama. Hari ini, Axton akan mengunjungi Alpenze School yang berada di Kota New York itu. Ia akan mengadakan meeting bersama Alexa dengan manajemen serta guru guru sekolah tersebut. Jeanette dan Alex akan ikut bersama.
Seperti biasa, Michael akan pergi ke rumah sakit karena ia memiliki beberapa jadwal praktek. Sementara itu, Nala akan mengajak Ava untuk berkeliling Kota New York dan mengunjungi salah satu mall di sana.
Axton meminta Nine untuk mengawasi putri kesayangannya itu, sementara dirinya akan meminta bantuan anggota Black Alpha yang lain yang ada di Kota New York.
Nala keluar bersama Ava dari dalam kamar dengan wajah yang sumringah. Hari ini ia akan mengajak adik kecilnya jalan jalan.
"Aku dan Ava pergi dulu, Dad," pamit Nala saat melihat Dad Michael baru saja keluar dari ruang kerjanya dan akan berangkat ke rumah sakit.
"Hati hati dan jangan membuat kekacauan, okay?"
"Daddy!"
Michael tersenyum karena berhasil menggoda putrinya itu, "Jaga Ava, okay? Dan jangan pulang terlalu malam."
"Siap, Daddy!" ujar Nala seraya memberi hormat dengan telapak tangannya di dekat alis. Michael pun masuk dulu ke dalam kamar tidurnya untuk berganti pakaian.
Nala langsung menggandeng tangan Ava dan membawanya keluar. Ia tahu bahwa hari ini One yang akan mengantarkannya ke Mall. Ia telah melupakan kesedihannya semalam dan ia berkeyakinan bahwa itu semua hanya pertemanan saja.
Sampai di luar pintu masuk, senyum Nala langsung menghilang saat melihat siapa yang berdiri di sebelah One. Ya, dia adalah Nine, wanita yang berpakaian hitam yang ia lihat kemarin.
Saat Nala dan Ava sudah mendekat, One langsung membukakan pintu bagian belakang dan mempersilakan keduanya untuk masuk. Setelah itu, ia membukakan pintu untuk Nine, kemudian berjalan memutar dan duduk di balik kemudi.
Melihat hal itu, Nala mengepalkan tangannya. Ia tak pernah diizinkan duduk di depan jika ia tak memaksa seperti waktu itu. Ingin sekali rasanya Nala marah dan mungkin menangis, tapi siapa dirinya? Ia bukan kekasih One, apalagi istrinya.
Selama perjalanan, Nala hanya menatap ke arah luar jendela. Tiba tiba saja perjalanan ini jadi membuat mood Nala memburuk.
"Kak, apa aku bisa membeli ini di sana?" tanya Ava sambil memperlihatkan sebuah barang di layar ponselnya.
Ucapan Ava seperti memecah kesunyian di dalam mobil tersebut. Nala yang tadi fokus menatap ke arah luar, kini mengambil ponsel Ava dan memperhatikan apa yang ada di sana.
"Cello?"
"Hmm ... Aku ingin memiliki alat musik seperti itu."
"Mengapa kamu tak meminta pada Uncle Axton?" tanya Nala.
Ava menggelengkan kepalanya. Gadis berusia 12 tahun itu terdiam.
Ava belum sempat menjawab pertanyaan Nala ketika mobil yang membawa mereka telah terparkir dengan sempurna di lobby mall tersebut. Mereka berempat turun dan One memberikan kunci mobilnya pada petugas valet.
Nala berjalan bersama Ava di depan, sementara One berjalan bersama Nine di belakang mereka. Jarak mereka tak terlalu dekat, membuat Nala semakin ingin menengok ke belakang untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh One.
Namun, ia menguatkan kembali perasaannya. Ia tak akan berbalik. Dari jarak seperti ini pun, Nala bisa mendengar bagaimana One selalu membuka percakapan dengan Nine. Untuk keempat kalinya, ia merasakan sakit.
Sudah cukupkah? Ya cukup bagi Nala. Mungkin benar kalau One tak akan pernah menaruh hati padanya.
Jangan jangan wanita itu lah yang disukai oleh Uncle One. - batin Nala sambil memejamkan matanya sesaat.
Ia berjanji dalam hatinya, ia akan berusaha melupakan One. Mungkin akan sulit, tapi dengan berjalannya waktu, ia yakin pasti dapat melakukannya. Lagipula ia masih muda kan?
Toko yang dituju oleh Ava, adalah toko yang menjual alat alat musik. Ia begitu tertarik dengan semua alat di sana. Namun, tak satu pun ia beli.
"Mengapa kamu tak membelinya,Va?" tanya Nala.
Ava menggelengkan kepalanya.
"Jangan menggelengkan kepala saja, jawablah aku," ucap Nala.
"Aku ingin bisa memainkan semua itu, Kak. Aku ingin orang orang tak memandangku dengan remeh," ucap Ava pada akhirnya.
Axton memang menyembunyikan status Ava sebagai putrinya. Ia ingin menjaga keamanannya karena ia tak mau hal buruk yang hampir saja terjadi pada Alex, terjadi pada putrinya.
Nala menautkan kedua alisnya, "Siapa yang memandangmu seperti itu, hah?! Aku akan menendangnya!" ucap Nala berapi api, yang justru membuat Ava tertawa.
"Kalau begitu minta Uncle saja untuk membelikannya untukmu. Akan sulit jika kamu membeli di sini dan membawanya pulang," ucap Nala.
"Daddy menginginkanku meneruskan perusahaannya nanti, bersama Kak Alex," jawab Ava sendu.
Nala menggenggam kedua tangan Ava dan menatap manik mata gadis kecil itu, "Jadilah dirimu sendiri dan raihlah apa yang ingin kamu raih. Buktikan pada mereka semua bahwa kamu bisa berhasil."
Ava tersenyum, kemudian memeluk Nala. Ia senang bisa berbagi cerita dengan Nala. Kalau dengan Alex, ia bahkan sulit sekali untuk bicara. Kakaknya itu terlalu diam.
Mereka berjalan mengelilingi Mall. Ketika waktu sudah menunjukkan tengah hari, Nala langsung membawa Ava menuju salah satu restoran di sana.
"Kita makan dulu, aku lapar," ujar Nala.
Nala pun memutar tubuhnya dan melihat One dan Nine tengah bersenda gurau.
"Uncle, kami akan makan siang dulu. Uncle bisa pergi dulu dan kembali ke sini saat aku menghubungi lagi," ucap Nala.
Ava pun meminta hal yang sama pada Nine, membuat keduanya pergi bersama, sementara Nala dan Ava memasuki sebuah restoran.
Nala menghela nafasnya pelan dan tak ingin didengar oleh Ava. Nala mencari cari tempat duduk.
"Nala?!"
🧡 🧡 🧡