
Bughh bughhh!!
Dengan cepat Nala menangkis arahan senjata tersebut ke tubuhnya. Ia memukul pergelangan tangan bagian dalam dari si pelaku. Ternyata, bela diri yang dulu ia tekuni, meskipun sedikit dipaksa oleh Mom Alexa, kini menjadi sangat berguna.
Senjata itu terjatuh dan pemiliknya terlihat kesakitan. Mata Nala menatap tajam ke arah seseorang yang ingin melakukannya.
"Nicole!"
"Arghhh!!!" teriak Nicole yang ingin kembali mengambil senjata itu dan menghabisi Nala. Ia seakan sudah gelap mata.
Tranggg ...
Nala kembali menendang pisau yang diambil lagi oleh Nicole. Nala juga menarik kedua tangan Nicole ke belakang dan berbisik padanya.
"Jangan bermain main denganku, apalagi mencari masalah. Sekali lagi kamu berani melakukan ini, aku pastikan kamu dan keluargamu akan menderita. Mengerti kamu?!" Nala menghempaskan tangan Nicole dan menendang pisau tadi entah ke mana. Ia segera berlari pulang menuju apartemennya.
Jantung Nala berdegup kencang. Tadi ia benar benar merasa mendengar suara One, tapi ketika ia melihat ke sekeliling, sama sekali tak ada siapa siapa.
Apa semua itu hanya halusinasiku saja? Apa aku yang terlalu merindukannya hingga merasa mendengar suaranya? - batin Nala.
Nala menopang wajahnya sambil duduk di balkon apartemennya. Ia menghela nafasnya pelan dan memejamkan matanya.
Selama hampir dua bulan ini tak melihat One, bahkan mencari informasi pun tidak. Nala bertekad melupakan, tapi nyatanya suara dan bayangan pria itu terus saja berputar di kepalanya.
"Apa sesakit ini mencintai seseorang yang tak akan kita miliki?" gumam Nala kembali memejamkan matanya dan sebulir air keluar dari matanya. Ia terus menikmati kesendiriannya di balkon apartemen, hingga akhirnya tertidur.
*****
One mengerjapkan matanya, ia mulai memindai ke sekeliling. Semalam, hal terakhir yang ia ingat adalah ia berteriak memanggil nama Nala.
Bagaimana keadaan Nala? - batin One.
Ia memegang kepalanya yang sedikit pusing, "di mana aku?"
Ceklekkk
Pintu ruangan tersebut terbuka dan tampak seorang pria tua berkacamata dengan tongkat di tangan kanannya, sementara tangan yang sebelah lagi dipegang oleh seorang pria dengan jas berwarna hitam.
Mata One membulat melihat siapa yang ada di hadapannya. Seseorang yang telah membuat kedua orang tuanya meninggal.
"Erwan Haskata!" ucap pria tua itu. Pria bernama Kenji Haskata itu adalah kakek dari One, tepatnya ayah dari Ayah One.
"Tidak perlu menyebut namaku, karena aku tak pernah sudi kamu melakukan itu!" ujar One yang langsung berdiri meskipun kepalanya masih terasa sedikit pusing akibat pengaruh obat bius.
"Kamu adalah anggota Keluarga Haskata, satu satunya penerus Perusahaan Haskata," ucap Kenji.
"Sejak kapan kamu mengakuiku sebagai cucumu, hah?! Bahkan kamu membuang kedua orang tuaku dan membunuh mereka!" teriak One.
One tak suka dengan kakek dari pihak ayahnya ini. Dulu, ia tak pernah diakui sebagai cucu karena Ayahnya menikah dengan seorang wanita yang tidak disetujui. Pasalnya Kenji sudah mempersiapkan seorang wanita yang akan menjadi istri dari putra sulungnya itu.
"Kamu memiliki banyak anak dan mereka semua bisa memberikanmu cucu. Tidak akan masalah jika kamu membuang satu kan?" ucap One dengan sinis.
Kenji berdecak kesal. Ia tak mungkin mengatakan pada One bahwa semua cucunya adalah perempuan dan hanya One lah cucu laki lakinya. Keluarga besar mereja sangat menharapkan kehadiran One karena mereka merasa diejek karena tak memiliki penerus. Perusahaan Haskata bahkan digadang gadang akan bangkrut karena tak memiliki penerus lagi.
One ingin segera pergi dari sana karena ia merasa muak melihat wajah kakeknya.
"Aku tak pernah membunuh ayahmu. Aku juga terkejut saat mendengar kematiannya. Apa kamu tidak tahu bagaimana penyesalanku tak pernah bertemu dengannya sejak ia memilih ibumu?" ucap Kenji dengan lirih.
"Aku tidak peduli apa yang kamu ucapkan," ucap One sambil menatap tajam ke arah pria tua bernama Kenji itu, "Aku tak memerlukan keluarga seperti kalian. Keluarga yang hanya mencari jika membutuhkan. Jika kamu menginginkan penerus, cari saja di antara cucumu. Aku yakin mereka bersedia menjadi penerus Perusahaan sebesar Haskata. Tapi tidak denganku," ucap One.
"Sekali kamu melangkahkan kaki keluar dari ruangan ini, aku pastikan wanita yang kamu cintai akan menderita di luar sana."
One tersenyum sinis dan memutar tubuhnya, "Anda berniat mengancamku, Tuan Kenji Haskata? Sepertinya anda salah orang. Saya tak akan pernah terpengaruh dengan ancaman anda. Lagipula, anda yang membutuhkan saya, bukan saya yang membutuhkan anda!" ucap One dengan tegas.
One langsung keluar dari kamar tidur itu dan melangkahkan kakinya keluar dari Mansion Keluarga Haskata tanpa menoleh.
Kenji Haskata memegang daddanya yang terasa sakit. Asisten pribadinya langsung memegangnya dan membawanya duduk. Sebutir obat dan segelas air diberikan untuk membantu pria tua itu kembali menormalkan kondisinya.
"Awasi dia. Jangan sampai ada hal hal buruk yang terjadi padanya. Ia benar benar cucuku, aku menyukainya. Tak ada yang akan menggantikanku selain dirinya," ucap Kenji.
"Baik, Tuan."
"Dan siapkan penerbanganku. Aku akan menemui Tuan Azka Williams," perintah Kenji.
Tak bisa mengatur One dengan tangannya, maka ia akan meminta bantuan Azka Williams yang merupakan pimpinan tertinggi dari Keluarga Williams. Jika Azka sudah memberi perintah, dipastikan One akan menurut.
*****
One menggerutu kesal karena pertemuannya barusan. Namun saat ini pikirannya terfokus pada Nala. Ia tak tahu bagaimana nasib Nala, bahkan pikiran buruk kini mulai mendominasi.
Bagi One, ancaman Tuan Kenji Haskata, tak akan berpengaruh, pasalnya Nala bukanlah gadis lemah yang akan dengan mudah diancam, diculik, atau sekedar dimiskinkan. Apa Kenji Haskata tidak mengetahui bahwa Nala adalah cucu seorang Azka Williams? Berani sekali pria tua itu mengancam akan membuatnya menderita.
"Aku, Erwan Haskata, tak akan membiarkan siapa pun membuat Nala Athena Thomas menderita. Berani menyentuhnya seujung kuku dan melukainya maka mereka akan berurusan denganku," gumam One.
One pergi ke apartemen di mana Nala tinggal. Ia bahkan telah menyewa unit persis di sebelah unit apartemen Nala. Meskipun hanya bisa melihatnya tanpa diketahui Nala, itu sudah cukup bagi One. Ia sendiri juga tak tahu, sejak kapan hati dan pikirannya hanya berisi tentang Nala.
One tersenyum saat melihat Nala keluar dari kamar tidur dan berdiri di balkon. Gadis itu hanya menggunakan kimono satin, membuat One mulai berpikiran nakal mengenai apa yang dikenakan di bagian dalam.
"Shitttt!! Apa yang sedang kupikirkan?!" gumam One, tapi pandangannya tak mau beralih dari Nala. Apalagi saat melihat rambut Nala tertiup angin dan memperlihatkan leher jenjang gadis itu, membuat One menelan saliva nya.
Berpisah dengan Nala selama hampir dua bulan, membuatnya mulai memandang Nala layaknya seorang pria melihat wanita.
Kamu semakin cantik, Na.
🧡 🧡 🧡