
One seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Michael dan Alexa yang kini berada di hadapannya. One sangat tahu bagaimana Nala menyukainya, bahkan hampir setiap hari ia mendengar ungkapan cinta dari putri tunggal Michael dan Alexa itu.
"Bisakah aku berbicara dengan Nala?" pinta One. Ia ingin mendengar langsung ucapan itu dari bibir Nala, bukan dari kedua orang tuanya, yang mungkin saja memaksa Nala untuk lepas darinya.
"Ia sudah tak ada di sini," jawab Michael.
"Tak ada di sini, bagaimana?" tanya One sekali lagi. Tidak mungkin rasanya Nala pergi tanpa dirinya. Sejak kecil, ke mana pun Nala pergi, selalu bersama dirinya.
"Ia sudah kembali ke Massachusetts."
One duduk semakin tegap, bahkan kakinya ingin secepatnya melangkah keluar dari Kediaman Michael dan Alexa untuk mencari tahu semuanya. Namun, kedua pria dan wanita di hadapannya ini belum mempersilakan dirinya untuk pergi.
Alexa menghela nafasnya pelan, "Pulanglah ke Jakarta, One. Bukan kami mengusirmu atau tidak membutuhkan tenagamu lagi, tapi kehidupanmu yang sesungguhnya bukan ada di sini. Mungkin tubuhmu ada di sini, tapi tidak dengan jiwamu."
Meninggalkan Kota Jakarta yang memang menyimpan kenangan One bersama kedua orang tuanya, memang tidaklah mudah. Kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan dimakamkan di Jakarta. Itulah salah satu sebab One sulit sekali untuk pergi meninggalkan Jakarta.
Alexa yakin, One menahan keinginannya selama sepuluh tahun untuk kembali ke Jakarta dan kembali menetap di sana.
"Tidak, Nyonya. Aku akan tetap di sini dan menjaga Nala."
Dad, jangan biarkan Uncle One bertahan di New York. Biarlah ia kembali ke Jakarta. Biarkan ia kembali pada kehidupannya yang sebenarnya. - Michael kembali teringat pada permintaan Nala sebelum putrinya itu menaiki pesawat untuk kembali ke Massachusetts.
"Atau aku harus menghubungi Dad Azka untuk menarikmu kembali ke Jakarta?" ucap Michael dengan nada sedikit mengancam. Tak biasanya ia berkata seperti itu, Alexa pun sampai menoleh pada suaminya.
"T-tuan ...," jika sampai Tuan Azka turun tangan, maka bisa dipastikan ia tak akan bisa keluar lagi dari Kota Jakarta. Jika ia sekarang dengan rela hati kembali, mungkin ia bisa menyusul Nala ke Massachusetts jika pekerjaannya sudah selesai.
One menghela nafas pelan, kemudian menatap Michael dan Alexa secara bergantian, "Baiklah, aku akan kembali ke Jakarta."
*****
"Meja nomor enam, Na," ucap Rich sambil membunyikan bel.
"Siap, Bos!" dengan sepatu rodanya, Nala mengambil makanan dari jendela dapur dan mengantarkannya ke meja yang dituju.
Sudah hampir dua bulan Nala bekerja di sana. Ia menjadi seorang waitress di sebuah cafe kecil yang lokasi tak jauh dari universitas. Meskipun kecil, tapi cafe itu sangat ramai dengan pengunjung, terutama para mahasiswa.
Lokasi yang begitu dekat, membuat Nala menjadi lwbih mudah jika ada mata kuliah yang harus ia ikuti. Biasanya ia hanya izin dua mata kuliah atau sekitar empat jam paling lama dan sisanya ia habiskan di cafe.
"Meja nomor satu, Na!" teriak Rich lagi sambil kembali membunyikan bel.
Dengan cekatan Nala mengambil nampan dan mengantarkannya ke meja nomor satu. Hidup seperti sekarang ini, membuat Nala lebih banyak mengenal tipe orang.
"Halo, Na!" senyum mengembang di wajah Nala ketika melihat Eleanor, Mario, dan Devian yang mampir ke cafe. Ketiganya tahu bahwa Nala bekerja di sana dan hanya sesekali mengunjungi untuk melihat keadaannya.
"Ini pesanan kalian," ucap Nala sambil meletakkan nampan dan mulai membagikam makanan di atas meja.
"Terima kasih, Nala cantik," goda Devian, membuat Eleanor dan Mario ikut tertawa.
Keempatnya kini menjadi sahabat. Kadang mereka berkumpul di apartemen Nala atau pun di tempat masing masing mereka secara bergantian.
"Apa kamu tidak bisa pulang cepat, Na? Kita ada acara di cafe Sunrise," tanya Eleanor.
"Maaf, hari ini aku harus menggantikan salah satu rekan kerjaku yang tidak masuk," jawab Nala.
"Apa kamu betah bekerja seperti ini, Na?" tanya Devian.
"Sudah, sudah! Kalian ini banyak sekali pertanyaannya. Apa kalian tidak lihat kalau Nala menikmati pekerjaannya. Sebaiknya setelah makanan kita habis, kita pergi saja, jangan mengganggu Nala bekerja," ucap Mario.
"Thank you, Mar. Kamu sangat mengerti aku," ucap Nala yang justru membuat mereka semua kembali tertawa. Ya, kini tak ada lagi jarak antara Nala dan Mario, bahkan mereka sering bercanda seperti itu.
Setelah mereka menyelesaikan makanan mereka, mereka pun pergi dari tempat Nala bekerja. Sementara itu, Nala bekerja hingga jam sepuluh malam.
"Maaf membuatmu bekerja dua shift hari ini, Na," ucap Rich.
"Tak apa, Rich. Aku senang," ucap Nala.
Nala pun akhirnya pulang ke apartemennya setelah pekerjaannya selesai. Ia menekan password untuk masuk ke dalam apartemennya. Ada helaan nafas yang keluar dari hidung Nala.
Ia langsung meletakkan tas ranselnya ke atas sofa, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini ia benar benar kelelahan untung saja besok ia libur, baik kuliahnya maupun pekerjaannya. Jadi, ia bisa tidur seharian.
Sebenarnya Nala sangat senang bekerja. Ia bisa melupakan One selama ia bekerja, tapi ketika ia sampai kembali di apartemen, semua bayangan itu kembali datang.
"Ahhh!!! Mengapa sulit sekali melupakanmu, Uncle?" teriak Nala di dalam kamar mandi.
Ia membiarkam dirinya berada di bawah kucuran air shower. Di sana lah tempat Nala biasa mengeluarkan air matanya. Ia bahkan tak ingin air matanya terlihat oleh benda apapun di dalam apartemen nya.
Setelah selesai membersihkan diri, Nala keluar menggunakan bathrobe dan berjalan menuju ke arah balkon. Ia menatap pemandangan kota Massachusetts di malam hari. Angin dingin menerpa kulit dan rambutnya, membuatnya memeluk tubuhnya sendiri dan rambutnya tertiup dengan indah.
Dari jarak yang tak jauh, sepasang mata tampak memperhatikan gerak geriknya, bahkan tak berkedip. Sebuah senyuman tipis mulai terukir.
Sepertinya kamu benar benar nyaman berada di sini ....
🧡 🧡 🧡